Teori Pilihan Rasional: Mitos Pemilih Cerdas dan Ilusi Demokrasi

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Memilih karena untung-rugi atau emosi? Teori Pilihan Rasional bilang pemilih itu kalkulator berjalan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Memilih karena untung-rugi atau emosi? Teori Pilihan Rasional bilang pemilih itu kalkulator berjalan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering menganggap diri kita sebagai pemilih yang cerdas dan logis. Saat masuk ke bilik suara, kita merasa telah menimbang visi misi kandidat dengan matang. Ilmu politik mengenal konsep ini sebagai “Teori Pilihan Rasional” (Rational Choice Theory).

Teori ini mengasumsikan bahwa pemilih adalah aktor ekonomi yang dingin. Mereka mengkalkulasi untung dan rugi (cost-benefit) secara matematis sebelum menentukan pilihan. Namun, apakah manusia benar-benar serasional itu?

Kalkulator yang Rusak: Emosi dan Identitas

Realita di lapangan sering kali menampar asumsi tersebut dengan keras. Faktanya, pemilih jarang bertindak seperti kalkulator. Sebaliknya, mereka lebih sering bertindak berdasarkan emosi dan bias kognitif.

Identitas sosial, seperti agama dan etnis, memegang kendali yang jauh lebih kuat daripada program kerja yang rasional. Seseorang bisa saja memilih kandidat yang korup atau tidak kompeten. Alasannya sederhana, karena kandidat tersebut “satu golongan” dengan mereka.

Baca Juga :  Tabrakan Maut Tol Cipali KM 93, 3 Orang Tewas - Polisi Buru Kendaraan Kabur

Akibatnya, logika mati di hadapan sentimen primordial. Kita memilih bukan karena kandidat itu terbaik untuk negara, tetapi karena dia membuat kita merasa nyaman dengan identitas kita.

Paradoks Pemilih: Mengapa Kita Tetap Mencoblos?

Teori ini juga membentur tembok besar bernama “Paradoks Pemilih” (Paradox of Voting). Jika kita benar-benar rasional, kita seharusnya tidak akan mau pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Hitungan matematikanya sederhana. Peluang satu suara untuk menentukan kemenangan sangatlah kecil, nyaris nol persen. Sementara itu, biaya untuk memilih cukup besar (waktu, tenaga, antre).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara logika murni, memilih adalah tindakan irasional karena “biaya” lebih besar daripada “manfaat” langsung. Namun, jutaan orang tetap antre mencoblos.

Hal ini membuktikan adanya faktor non-rasional yang bekerja. Rasa kewajiban sipil, tekanan sosial, atau kepuasan batin menjadi penggerak utama, bukan kalkulasi untung-rugi.

Baca Juga :  Remaja MR Bunuh Bocah Tetangga di Cilincing, Menteri PPPA Turun Tangan

Manipulasi Janji Manis

Politisi yang cerdik memahami celah psikologis ini dengan sangat baik. Mereka tidak menjual data statistik yang rumit kepada pemilih. Justru, mereka memanipulasi persepsi tentang “keuntungan”.

Kampanye populis tumbuh subur di lahan ini. Calon pemimpin mengumbar janji manis yang tidak masuk akal, seperti “uang gratis” atau subsidi gila-gilaan.

Tujuannya, mereka ingin menyentuh sisi emosional dan harapan instan pemilih. Mereka membajak sistem rasionalitas kita dengan iming-iming surga yang semu.

Batas Nalar di Kotak Suara

Pada akhirnya, kotak suara menjadi saksi bisu atas batas-batas rasionalitas manusia. Kita mungkin ingin menjadi pemilih yang objektif. Akan tetapi, otak kita sering kali kalah melawan hati dan identitas.

Demokrasi tidak berjalan di atas kertas hitungan matematika. Melainkan, sistem ini berjalan di atas gelombang emosi manusia yang tak terduga dan penuh warna.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB