JINGDEZHEN/MEISSEN, POSNEWS.CO.ID – Saat Anda menyantap hidangan di atas piring keramik yang halus, mungkin Anda tidak menyadari bahwa benda tersebut menyimpan sejarah obsesi global dan rahasia kimiawi yang rumit.
Porselen adalah keajaiban material. Ia menggabungkan kualitas terbaik dari kaca dan tanah liat: halus dan tembus cahaya seperti kaca, namun mempertahankan bentuk kokoh seperti tanah liat. Berkat tambahan mineral khusus, porselen bahkan lebih kuat dari keduanya.
Keindahannya tak ternilai. Sebuah mangkuk dari Dinasti Ming China (1368-1644 M) bisa terjual hingga satu juta dolar di pasar seni internasional saat ini. Namun, jauh sebelum lelang modern, porselen telah memicu “demam” yang nyaris meruntuhkan ekonomi kerajaan-kerajaan Eropa.
Obsesi yang Membangkrutkan
China pertama kali membuat porselen pada masa Dinasti Tang, namun kualitas tinggi baru tersebar luas pada masa Dinasti Yuan. Ketika pedagang membawa “emas putih” ini ke Eropa pada Abad Pertengahan, kaum bangsawan dan kerajaan langsung terihir.
Mereka mencoba mati-matian memecahkan kode rahasia komposisinya.
Asal kata “porselen” sendiri menyimpan kesalahpahaman unik. Kata ini berasal dari bahasa Portugis untuk kerang laut, nautilus, yang memiliki cangkang oranye spiral yang berkilau (vitreous). Orang Eropa saat itu mengira porselen terbuat dari cangkang tersebut!
Eksperimen awal gagal total. Mereka mencoba mencampur kaca giling dengan tanah liat, menghasilkan “soft-paste” yang lemah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegilaan untuk memiliki atau menciptakan porselen begitu besar hingga membahayakan keuangan negara. Beberapa pangeran Eropa menghabiskan anggaran sebanyak biaya angkatan perang mereka hanya demi mengejar rahasia porselen. Frederick II dari Prusia adalah salah satu fanatik tersebut.
Memecahkan Teka-Teki Kimia
Keberuntungan akhirnya berpihak pada Prusia. Dua ilmuwan, Johann Böttger dan Ehrenfried von Tschirnhaus, berhasil memecahkan teka-teki itu pada tahun 1707. Kuncinya? Mencampur tanah liat dengan feldspar giling (mineral yang mengandung aluminium silikat).
Sementara itu, Inggris menemukan resep unik mereka sendiri: mencampur tanah liat dengan abu tulang sapi. Inovasi ini melahirkan “Bone China”. Meskipun bukan porselen murni, jenis ini tetap populer di AS dan Inggris karena kekerasannya.
Neraka 1.454 Derajat Celcius
Membuat porselen bukan sekadar mencampur tanah. Ini adalah proses teknik presisi tinggi.
Bahan baku seperti tanah liat putih, feldspar, dan silika harus melalui proses penghancuran bertahap hingga menjadi partikel berdiameter kurang dari 0,25 cm.
Langkah krusial berikutnya adalah pemurnian. Produsen menggunakan filtrasi magnetik untuk menyedot zat besi dari tanah liat. Jika besi tertinggal, porselen tidak akan terbentuk dengan sempurna.
Tahap akhir adalah pembakaran di dalam kiln (oven raksasa). Suhu adalah segalanya. Oven harus cukup panas untuk menyatukan elemen, namun cukup rendah agar tidak menguapkan material. Suhu tipikal mencapai angka neraka: 1.454° Celsius.
Pada suhu ekstrem ini, reaksi kimiawi mengubah mineral menjadi kaca cair. Saat mendingin, ia memadat menjadi benda seni yang kita kagumi di meja makan.
Jadi, saat Anda makan malam nanti, luangkan sejenak untuk merenung. Piring di hadapan Anda adalah hasil dari sejarah panjang, obsesi raja-raja, dan kejeniusan sains yang mengubah tanah menjadi permata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















