CARACAS/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Venezuela berada di persimpangan jalan yang genting. Pada hari Kamis (15/1), Penjabat Presiden Delcy Rodriguez berdiri di hadapan legislatif. Ia menyerukan persetujuan segera atas rencana reformasi industri minyak yang ambisius.
Tujuannya jelas: menarik investasi asing dan memacu pemulihan ekonomi negara yang lama terpuruk.
Rodriguez melaporkan capaian positif dalam laporan tahunannya. Produksi minyak Venezuela menyentuh angka 1,2 juta barel pada Desember tahun lalu. Ia berjanji akan mengalokasikan pendapatan ekspor terutama untuk kesehatan publik, pembangunan ekonomi, dan infrastruktur.
“Venezuela saat ini berada pada titik balik yang penting,” tegas Rodriguez. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengeksplorasi saluran valuta asing yang lebih “pragmatis dan terdiversifikasi”.
Mengenai hubungan dengan Amerika Serikat, Rodriguez menekankan pendekatan diplomatis. “Negara harus menangani hubungan dengan semua pihak, termasuk Amerika Serikat, atas dasar saling menghormati,” ujarnya.
Aksi Fajar USS Gerald R. Ford
Namun, realitas di perairan Karibia berbicara lain. Pada pagi yang sama saat Rodriguez berpidato, Komando Selatan AS (SOUTHCOM) melancarkan operasi militer.
Melalui platform X, SOUTHCOM mengumumkan penyitaan kapal tanker minyak keenam yang terkait dengan Venezuela.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam tindakan pra-fajar lainnya, Marinir dan Pelaut dari Satuan Tugas Gabungan Southern Spear… meluncur dari USS Gerald R. Ford (CVN 78) dan menahan Motor/Tanker Veronica tanpa insiden,” bunyi pernyataan komando tersebut.
Penyitaan M/T Veronica ini menyusul aksi serupa minggu lalu terhadap kapal kelima. Pesan Washington sangat tegas: “Satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan baik dan sah.” Pemerintahan Trump bersumpah akan terus menindak kapal-kapal yang terkena sanksi.
Ekspor Anjlok Setengah
Dampak blokade ini mulai mencekik. The Wall Street Journal, mengutip penyedia analitik pengiriman Kpler, melaporkan bahwa tindakan keras AS telah memukul ekspor minyak Venezuela secara signifikan. Pemuatan minyak mentah anjlok hingga kira-kira setengah dari tingkat normal bulan ini.
Data Kpler menunjukkan fakta yang lebih suram. Saat ini, kapal yang memuat minyak mentah di pelabuhan Venezuela hanyalah kapal yang menuju Amerika Serikat atau kapal yang mengangkut minyak ke kilang domestik.
Situasi ini sejalan dengan pernyataan Menteri Energi AS Chris Wright pekan lalu. Ia menegaskan bahwa AS tidak hanya akan memasarkan minyak yang tersimpan dari Venezuela, tetapi juga akan “mengontrol penjualan output minyak negara itu tanpa batas waktu”.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















