Saat Sepak Bola Menjadi Alat Politik dan Revolusi di Mesir

Rabu, 14 Januari 2026 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari lembah terpencil di Ethiopia hingga jalanan berdebu Kairo, sepak bola adalah bahasa universal. Namun di Mesir, olahraga ini berubah dari pelarian rakyat menjadi medan pertempuran politik berdarah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari lembah terpencil di Ethiopia hingga jalanan berdebu Kairo, sepak bola adalah bahasa universal. Namun di Mesir, olahraga ini berubah dari pelarian rakyat menjadi medan pertempuran politik berdarah. Dok: Istimewa.

KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Estimasi menunjukkan lebih dari satu miliar orang menyaksikan Piala Dunia 2014, menjadikannya acara TV terbesar dalam sejarah manusia. Sepak bola bukan lagi sekadar olahraga; ia adalah industri bernilai triliunan dolar yang menembus batas geografis dan ekonomi.

Buktinya nyata. Di Lembah Omo, Ethiopia, penggembala yang memiliki sedikit harta mengenakan kaos Arsenal atau AC Milan. Di Sinai yang terik, remaja menggiring bola buatan sendiri, bermimpi keluar dari kemiskinan dengan menjadi bintang lapangan. Namun, di Mesir, “permainan indah” ini memiliki sisi gelap yang berkelindan dengan politik kekuasaan dan perjuangan kelas.

Meskipun sepak bola umumnya memutar roda ekonomi, kota Kairo justru sering “lumpuh” saat pertandingan besar berlangsung. Warga setempat berkelakar bahwa waktu terbaik untuk berbelanja menyeberangi kota adalah saat laga final antara dua raksasa: Al Ahly dan Zamalek.

Pelarian dari Realitas Pahit

Psikolog mengajukan dua alasan mengapa sepak bola begitu memikat: partisipasi dalam kemenangan dunia yang lebih besar dan rasa memiliki yang kuat. Bagi rakyat Mesir, ini sangat relevan.

Dalam 50 tahun terakhir, populasi Mesir meledak sementara kualitas hidup—kecuali bagi segelintir orang yang beruntung—merosot tajam. Ketidakadilan, korupsi, dan tirani menekan rata-rata warga Mesir. Namun, selama 90 menit sekali atau dua kali seminggu, mereka melupakan kesengsaraan itu dalam pertandingan sepak bola.

Baca Juga :  Begal Modus Pura-pura Diludahi di Cempaka Putih, Motor Pemuda Sukabumi Raib

Penggemar percaya bahwa di lapangan, setidaknya masih ada aturan main, meskipun wasit tidak selalu adil dan perilaku suporter bisa menjadi fanatik serta berbahaya.

Perang Kelas di Lapangan Hijau

Di Mesir, loyalitas klub bukan sekadar pilihan warna jersi, melainkan pernyataan kelas dan politik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Al Ahly, yang berdiri pada 1907, membanggakan identitasnya sebagai “klub rakyat”. Klub ini memiliki sejarah revolusioner anti-Inggris dan bahkan menjadikan Gamal Abdel Nasser, presiden yang dicintai rakyat, sebagai presiden kehormatan klub.

Sebaliknya, Zamalek (berdiri 1911) secara historis mengizinkan orang asing bermain dan berafiliasi dengan kaum elit Mesir yang bersekutu dengan Raja Fuad dan Farouk. Bahkan, klub ini sempat bernama Farouk pada tahun 1950-an. Perseteruan di lapangan adalah cerminan ketegangan sosial di luar stadion.

Alat Politik dan Tragedi Berdarah

Banyak pihak menuduh Hosni Mubarak, presiden yang berkuasa hingga 2011, menggunakan sepak bola untuk mengalihkan perhatian massa dari kondisi negara yang genting. Ia memanfaatkannya untuk memicu sentimen nasionalis melawan negara lain, seperti Aljazair.

Keluarga Mubarak pun tak ketinggalan. Media sering memotret putra-putranya yang kaya raya saat bersosialisasi dengan bintang sepak bola, sementara pemilik klub menggelontorkan dana untuk kampanye Mubarak. Rumor menyebutkan bahwa bahkan setelah jatuhnya kekuasaan, ia masih mendapat dukungan dari para bintang lapangan dan miliarder di balik klub.

Baca Juga :  China Perbarui Sistem Eagle Eye untuk Amankan 9,5 Miliar

Namun, angin berbalik. Selama revolusi 2011, kelompok suporter fanatik Al Ahly yang dikenal sebagai Ultras mengambil peran aktif dalam demonstrasi di Tahrir Square yang menggulingkan Mubarak.

Harga yang harus mereka bayar sangat mahal. Pada Februari 2012, dalam pertandingan di Port Said, serangan brutal menimpa Ultras. Sebanyak 74 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. Ultras mengklaim bahwa gabungan suporter lawan dan aparat keamanan menyerang mereka sebagai “hukuman” atas peran mereka dalam revolusi.

Wajah Baru Sepak Bola Mesir

Kini, sepak bola Mesir membutuhkan peremajaan radikal. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2014 dan kekerasan yang terus terjadi membuat banyak warga Mesir beralih mendukung tim-tim Eropa.

Kekerasan pertandingan dan pergolakan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menggerus basis dukungan lokal. Namun, setiap penggemar tahu satu hal pasti: ketika kehidupan di Mesir kembali manis, stadion-stadion lokal akan kembali bergemuruh menyambut momen-momen ajaib.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional
BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Barat Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering
Polisi Ungkap Jejak Empat Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS di Jakarta
Malam Takbiran 2026 di Depok Tanpa Takbir Keliling, Ini Imbauan Wali Kota
Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka
Polri Gelar Mudik Balik Gratis Presisi 2026, Wujudkan Arus Balik Lebaran Aman dan Lancar
Macet 32 Km Menuju Pelabuhan Gilimanuk, 17 Pemudik Tumbang Kepanasan Saat Antre Kapal
Modus Toko Pulsa dan Sembako Terbongkar, Polisi Sita Ribuan Obat Daftar G

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 17:54 WIB

Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional

Senin, 16 Maret 2026 - 17:34 WIB

BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Barat Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

Senin, 16 Maret 2026 - 17:22 WIB

Polisi Ungkap Jejak Empat Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS di Jakarta

Senin, 16 Maret 2026 - 14:26 WIB

Malam Takbiran 2026 di Depok Tanpa Takbir Keliling, Ini Imbauan Wali Kota

Senin, 16 Maret 2026 - 14:05 WIB

Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka

Berita Terbaru