Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Konsep keamanan nasional di tahun 2026 sedang mengalami revolusi pemikiran yang fundamental. Dalam konteks ini, perubahan iklim tidak lagi dipandang sebagai masalah lingkungan hidup semata. Sebaliknya, komunitas internasional kini menganggap kerusakan alam sebagai ancaman militer yang bersifat eksistensial.

Perspektif Konstruktivisme, khususnya Copenhagen School, menjelaskan bahwa sebuah isu menjadi masalah keamanan bukan karena sifat objektifnya. Isu tersebut menjadi ancaman karena para pemegang otoritas secara sadar melabelinya sebagai “ancaman keamanan”. Proses ini bertujuan untuk memindahkan isu iklim dari ranah politik biasa menuju ranah politik darurat yang memerlukan tindakan luar biasa.

Proses Sekuritisasi: Dari Ekologi ke Meja Perang

Barry Buzan dan Ole Wæver memperkenalkan konsep speech act atau tindakan wicara dalam studi keamanan. Dalam hal ini, ketika seorang pemimpin negara menyatakan bahwa perubahan iklim adalah ancaman bagi kelangsungan bangsa, ia sedang melakukan sekuritisasi. Akibatnya, pemerintah dapat memobilisasi anggaran pertahanan dan personel militer guna menangani krisis lingkungan tersebut.

Lebih lanjut, sekuritisasi ini memberikan mandat bagi lembaga pertahanan untuk melakukan tindakan yang sebelumnya dianggap tidak lazim. Sebagai contoh, intelijen militer kini mulai memantau pergerakan massa akibat kelangkaan sumber daya pangan dan air. Dengan demikian, perubahan iklim telah berhasil menduduki puncak hierarki prioritas keamanan nasional mengalahkan ancaman konvensional lainnya.

Baca Juga :  Roy Suryo Yakin Ijazah Jokowi 99,9% Palsu, Bonatua Sebut Dokumen untuk Publik

Hilangnya Kedaulatan: Tantangan Negara Kepulauan

Kenaikan permukaan laut menjadi pemicu utama kegelisahan militer di abad ke-21. Bagi negara kepulauan seperti Kiribati, Tuvalu, bahkan Indonesia, hilangnya daratan berarti hilangnya wilayah kedaulatan yang sah secara hukum. Oleh karena itu, perubahan garis pantai memicu sengketa perbatasan baru yang berpotensi menimbulkan konflik fisik antarnegara.

Selain itu, hilangnya teritori fisik menantang definisi dasar sebuah “negara” dalam hukum internasional. Dalam hal ini, militer harus bersiap menghadapi skenario evakuasi massal lintas batas atau climate refugees. Akibatnya, angkatan laut di berbagai belahan dunia kini memperkuat patroli di wilayah tenggelam guna menjaga klaim zona ekonomi eksklusif yang mulai goyah akibat perubahan geografis tersebut.

Strategi Pertahanan Baru: Militer sebagai Garda Hijau

Menghadapi realitas ini, banyak negara mulai merombak strategi pertahanan nasional mereka. Secara simultan, militer kini mengambil peran sentral dalam mitigasi bencana alam melalui “Operasi Militer Selain Perang” (OMSP). Pasukan tempur kini dilatih untuk memiliki kemampuan logistik dan medis guna merespon badai super atau kekeringan ekstrem secara cepat.

Baca Juga :  Melampaui Debat Lama: Mengapa Nuklir Canggih Layak Masuk Portofolio Energi Indonesia

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, krisis iklim dianggap sebagai “threat multiplier” atau pengganda ancaman yang dapat memicu perang saudara di wilayah yang tidak stabil. Oleh sebab itu, strategi pertahanan baru kini mencakup investasi besar-besaran pada teknologi hijau untuk unit militer agar mereka tidak bergantung pada rantai pasok bahan bakar fosil yang rentan. Pada akhirnya, kedaulatan sebuah bangsa di tahun 2026 akan sangat bergantung pada seberapa tangguh infrastruktur pertahanannya dalam menghadapi amukan alam yang kian tidak terprediksi.

Keamanan yang Berkelanjutan

Sekuritisasi perubahan iklim membuktikan bahwa persepsi manusia terhadap ancaman selalu berkembang mengikuti zaman. Dengan demikian, perdamaian dunia tidak lagi hanya bergantung pada pelucutan senjata nuklir. Sebaliknya, kolaborasi militer global dalam menjaga stabilitas ekosistem menjadi kunci utama bagi keselamatan umat manusia. Jika kita gagal mengamankan bumi, maka tidak akan ada lagi wilayah yang tersisa untuk kita pertahankan melalui kekuatan senjata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal
Cucu Mpok Nori Tewas di Cipayung, Mantan Suami Siri Emosi Usai Ditolak Rujuk

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB