JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasakan dada bergetar hebat saat berdiri di pinggir jalan desa? Jika belum, cobalah berkunjung ke Jawa Timur saat musim karnaval tiba.
Anda akan menemukan pemandangan yang surealis. Truk-truk besar melintas pelan dengan muatan dinding speaker yang menjulang tinggi hingga menyentuh kabel listrik.
Masyarakat setempat menyebut fenomena ini sebagai “Sound Horeg”. Kata “horeg” sendiri berarti bergetar dalam Bahasa Jawa. Seketika, nama-nama besar seperti Brewog Audio atau Riswanda menjadi selebritas baru yang dipuja jutaan pengikut di media sosial.
Miliaran Rupiah Demi Desibel
Jangan remehkan hobi ini sebagai mainan kampung biasa. Pemilik sound system rela merogoh kocek sangat dalam demi gengsi. Faktanya, satu set perangkat audio kelas “sultan” bisa menelan biaya hingga miliaran rupiah.
Mereka mengimpor komponen terbaik dari luar negeri. Selain itu, mereka memodifikasi truk pengangkut secara ekstrem. Sasis truk harus mereka perkuat agar mampu menopang beban generator listrik raksasa dan ratusan box speaker yang berat.
Kompetisi ini bukan lagi soal siapa yang suaranya paling jernih. Sebaliknya, ini adalah adu kekuatan soal siapa yang paling kencang desibelnya dan siapa yang bisa membuat tanah bergetar paling kuat.
Kaca Pecah vs Hiburan Murah
Namun, getaran dahsyat ini memicu perdebatan sosial yang sengit. Kita sering melihat video viral yang memperlihatkan dampak destruktif dari hobi ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kaca rumah warga pecah berantakan. Bahkan, genteng dan plafon rumah rontok akibat hantaman gelombang suara frekuensi rendah (bass) yang brutal. Tentu saja, sebagian masyarakat merasa terganggu ketertibannya.
Akan tetapi, ribuan warga lain justru menyambutnya dengan sukacita. Bagi mereka, karnaval Horeg adalah hiburan rakyat yang murah meriah dan membebaskan. Mereka berjoget di jalanan, melupakan sejenak himpitan ekonomi yang mencekik.
Ekonomi Desa yang Berputar Kencang
Kita tidak bisa menutup mata pada dampak ekonominya. Perputaran uang di desa melonjak tajam saat musim “horeg” atau hajatan besar tiba.
Pedagang kaki lima, penyewaan tenda, hingga tukang parkir mendulang rezeki nomplok dari ribuan penonton yang datang. Bahkan, industri perakitan sound system lokal menyerap banyak tenaga kerja muda. Ekosistem ini menghidupi banyak keluarga di pedesaan yang minim lapangan kerja formal.
Benturan Budaya dan Kenyamanan
Pada akhirnya, Sound Horeg adalah manifestasi unik dari subkultur pedesaan modern. Masyarakat desa ingin menunjukkan eksistensi diri mereka lewat teknologi dan suara yang lantang.
Meskipun demikian, benturan dengan standar kenyamanan publik tetap harus kita selesaikan. Pemerintah perlu hadir menengahi dengan regulasi yang adil.
Pesta rakyat harus tetap berjalan. Tetapi, euforia itu tidak boleh merugikan hak orang lain untuk merasa aman di dalam rumahnya sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















