Evolusi Lawakan Indonesia dari Gebuk Bantal ke Roasting Pejabat

Selasa, 23 Desember 2025 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu ketawa karena orang jatuh, sekarang ketawa karena pejabat dikritik. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dulu ketawa karena orang jatuh, sekarang ketawa karena pejabat dikritik. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Suara “bug!” pernah mendominasi panggung komedi Indonesia. Itu adalah suara bantal atau properti gabus yang menghantam kepala pelawak. Penonton tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan fisik tersebut.

Era itu adalah masa kejayaan grup lawak legendaris seperti Srimulat atau Warkop DKI. Kala itu, humor fisik atau slapstick menjadi raja. Orang tertawa karena melihat kesialan fisik orang lain, logat daerah yang kental, atau dandanan yang nyeleneh.

Namun, roda zaman berputar. Aksi saling dorong kini tidak lagi meramaikan panggung lawakan. Sebaliknya, satu orang berdiri memegang mikrofon mengisi panggung itu. Ia melontarkan argumen tajam yang membuat penonton berpikir keras sebelum tertawa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gelombang Otak: Masuknya “Stand-Up Comedy”

Perubahan besar terjadi sekitar awal dekade 2010-an. Format Stand-Up Comedy mulai masuk dan menjamur di kafe-kafe serta stasiun televisi.

Baca Juga :  Ramalan Zodiak Minggu 21 Desember 2025: Musim Capricorn Tiba, Saatnya Susun Resolusi Besar

Format ini membawa angin segar yang sangat berbeda. Pasalnya, komedi jenis ini tidak mengandalkan fisik. Ia bertumpu pada kekuatan premis, argumen logis, dan keresahan intelektual sang komika.

Komika mengajak penonton menertawakan realitas hidup yang pahit atau absurditas aturan sosial. Seketika, standar komedi naik kelas. Lucu bukan lagi soal siapa yang paling konyol, melainkan siapa yang paling cerdas membedah masalah.

Dari Hiburan Jadi Parlemen Jalanan

Evolusi ini melahirkan fungsi sosial baru bagi komedi. Para komika bertransformasi menjadi penyambung lidah rakyat. Lantas, komika seperti Kiky Saputri mempopulerkan fenomena roasting pejabat.

Pejabat negara duduk di kursi panas, mendengarkan kritik pedas yang dibungkus tawa. Selain itu, sosok seperti Bintang Emon menggunakan media sosial untuk mengkritik ketidakadilan hukum atau kebijakan publik yang aneh.

Komedi menjadi alat kritik yang efektif dan viral. Bahkan, penguasa terkadang lebih mendengar dan menakuti suara seorang komika daripada suara politisi oposisi di parlemen.

Baca Juga :  Populasi Paus di Afrika Selatan Terancam Akibat Pengalihan Jalur Kapal

Hantu UU ITE Mengintai

Meskipun demikian, keberanian ini memiliki harga yang mahal. Para pelawak kritis kini bekerja di bawah bayang-bayang risiko hukum yang nyata.

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menjadi hantu yang menakutkan. Sering kali, materi komedi yang menyinggung pihak tertentu bisa berujung pada laporan polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.

Komika harus menari di atas tali tipis. Mereka harus lucu dan kritis, tetapi juga harus cukup cerdik agar tidak tergelincir masuk penjara. Situasi ini menguji habis-habisan kebebasan berpendapat di panggung tawa.

Selera yang Semakin Cerdas

Pada akhirnya, pergeseran ini menandakan satu hal positif. Selera humor masyarakat Indonesia semakin cerdas dan dewasa.

Kita tidak lagi puas hanya dengan hiburan kosong. Justru, kita menuntut substansi di balik tawa. Kita ingin tertawa untuk merayakan akal sehat, bukan sekadar melupakan masalah. Evolusi dari “gebuk bantal” ke “gebuk mental” pejabat membuktikan kemajuan nalar publik kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit
Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri
Ancaman El Niño 2026: Cuaca Kering Ekstrem Siap Memangkas
Danantara: DSI Batal Jadi Eksportir Tunggal Komoditas
Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan
Tecno POVA 8 Resmi Meluncur dengan Alive Matrix Display
Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:22 WIB

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:39 WIB

Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:44 WIB

Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:30 WIB

Ancaman El Niño 2026: Cuaca Kering Ekstrem Siap Memangkas

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:17 WIB

Danantara: DSI Batal Jadi Eksportir Tunggal Komoditas

Berita Terbaru

Revolusi perang asimetris. Ukraina bersiap memperluas penggunaan drone otonom berbasis kecerdasan buatan guna mengimbangi keunggulan jumlah pasukan militer Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom

Jumat, 19 Jun 2026 - 12:22 WIB

Solusi hijau di tengah krisis energi. Pemerintah Malaysia menaikkan kadar campuran kelapa sawit menjadi B15 guna menghemat stok bahan bakar solar nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:39 WIB

Ekspansi kemitraan di kawasan Eurasia. Kementerian Perindustrian memperluas kerja sama dengan Belarus guna memperkuat rantai pasok industri dan menarik investasi baru. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Jumat, 19 Jun 2026 - 10:44 WIB