WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Benteng terakhir stabilitas keuangan Amerika Serikat kini berada dalam kepungan. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menutup pertemuan kebijakan dua harinya pada hari Rabu (28/1) dengan keputusan berani: menahan suku bunga acuan (pause button).
Suku bunga tetap bertahan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, menghentikan tren pemangkasan agresif sebesar 75 basis poin yang telah berjalan sejak September 2025.
Keputusan ini bukan sekadar manuver ekonomi, melainkan pernyataan perlawanan. Langkah ini diambil di tengah badai tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Amerika.
Pemerintahan Presiden Donald Trump secara agresif mendesak pelonggaran moneter yang lebih cepat. Konflik ini mencapai titik didih pada 13 Januari lalu, saat Trump menyerukan pemangkasan suku bunga berkali-kali dalam satu hari usai rilis data inflasi.
“Serangan” Kriminal Terhadap Powell
Eskalasi konflik berubah menjadi perang terbuka ketika administrasi Trump meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.
Langkah drastis ini memicu reaksi keras dari para sesepuh ekonomi. Mantan ketua The Fed, termasuk Alan Greenspan dan Ben Bernanke, bersama 13 mantan pejabat senior lainnya, menandatangani pernyataan bersama. Mereka mengutuk langkah Trump sebagai “intervensi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Bagi mereka, independensi The Fed adalah pilar sakral. Desain institusional asli bertujuan memastikan pembuat kebijakan fokus pada kesejahteraan ekonomi jangka panjang, bukan ambisi politik jangka pendek.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hantu Stagflasi Nixon
Analis memperingatkan bahwa The Fed kini menghadapi krisis tata kelola terberat dalam beberapa dekade. Situasi ini membangkitkan memori kelam era 1970-an.
Saat itu, Presiden Richard Nixon menekan Ketua The Fed Arthur Burns untuk melonggarkan kebijakan uang demi mengamankan pemilu ulang. Hasilnya fatal: AS terperangkap dalam stagflasi. Suplai uang tumbuh dua digit, menabur benih inflasi tinggi dan pengangguran yang menghantui sepanjang dekade.
Kini, sejarah terancam berulang. Tekanan Trump berisiko meruntuhkan kredibilitas dolar AS yang selama ini ditopang oleh independensi bank sentralnya.
Sentimen “Jual Amerika”
Dampak pasar langsung terasa. Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, mencatat bahwa “independensi” The Fed adalah faktor kunci yang menopang peringkat kredit negara AA+.
Intervensi tangan besi pemerintahan Trump telah secara serius merusak kepercayaan investor internasional. Sentimen “jual Amerika” (sell America) mulai menyebar di pasar keuangan global.
Dalam jangka panjang, erosi independensi The Fed akan meningkatkan ketidakpastian kebijakan moneter AS secara signifikan. Ditambah dengan tantangan utang negara yang kian parah, risiko terhadap kredibilitas dolar kemungkinan besar akan mempercepat proses de-dolarisasi global, meninggalkan AS sebagai subjek serangan balik pasar yang berkelanjutan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















