BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Di tengah badai ketegangan geopolitik dan risiko fragmentasi ekonomi yang meningkat, mata dunia kembali tertuju ke Timur. Maroun Kairouz, Direktur Pelaksana World Economic Forum (WEF), memberikan penilaian optimis: transisi ekonomi China kini menjadi jangkar stabilitas yang sangat dunia butuhkan.
Dalam wawancara tertulis terbarunya, Kairouz menyoroti pergeseran fundamental di Beijing. China tidak lagi mengejar angka pertumbuhan “berkecepatan tinggi” semata, melainkan beralih ke “pembangunan berkualitas tinggi”.
Kairouz menggambarkan langkah ini sebagai pergeseran strategis menuju keberlanjutan dan ketahanan. Ia memuji reformasi struktural yang sedang berlangsung, yang menurutnya mencerminkan fokus tajam pada inovasi, produktivitas, dan stabilitas jangka panjang.
Bukti Nyata: $818 Miliar untuk Energi Bersih
Sinyal positif dari transisi ini paling mencolok di sektor energi. Data berbicara sendiri: pada tahun 2024, total investasi China di sektor energi bersih mencapai angka fantastis $818 miliar (sekitar Rp 12.800 triliun). Angka ini melonjak 20 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekonomi digital yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI), manufaktur canggih, dan layanan digital secara signifikan meningkatkan efisiensi di berbagai sektor di China.
“Reformasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi China sendiri, tetapi juga menciptakan peluang global baru dalam energi bersih, teknologi, dan perdagangan untuk tahun 2026 dan seterusnya,” tegas Kairouz.
Memimpin Revolusi Industri Keempat
Istilah “kekuatan produktif kualitas baru” (new quality productive forces) bukan sekadar jargon. Kairouz mencatat bahwa investasi masif China dalam manufaktur canggih membuktikan bagaimana inovasi dapat diterapkan dalam skala besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktanya, hampir 40 persen pabrik “Global Lighthouse” versi WEF—pabrik paling canggih di dunia yang menerapkan teknologi Revolusi Industri Keempat—berlokasi di China. Pabrik-pabrik ini memimpin dunia dalam memacu produktivitas sekaligus keberlanjutan.
Kairouz menekankan bahwa China memiliki salah satu rantai pasok manufaktur paling kompetitif di dunia. Konsekuensinya, perkembangan di China pasti membawa dampak global. Kekuatan China dalam teknologi hijau menjadi vital untuk menjawab tantangan ganda: perubahan iklim dan ketidakstabilan rantai pasok.
Dialog di Tengah Proteksionisme
Menghadapi gelombang proteksionisme perdagangan global, Kairouz menyerukan penggunaan mekanisme multilateral. Tujuannya adalah menyeimbangkan persaingan sehat melawan hambatan perdagangan.
Mengutip data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ia mencatat bahwa perdagangan global terus tumbuh. Hal ini memungkinkan negara-negara mengejar hasil yang saling menguntungkan (win-win) di lingkungan yang kompleks.
Terkait transformasi pasar kerja akibat AI, Kairouz menilai prinsip China yang mengintegrasikan strategi industri, digital, dan iklim dengan pengembangan keterampilan menawarkan pelajaran berharga bagi pasar negara berkembang lainnya.
Menutup pandangannya, Kairouz merujuk pada tema Pertemuan Tahunan 2026: “The Spirit of Dialogue” (Semangat Dialog).
“Di era berbagai tantangan global, dialog bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” pungkasnya. Nilai utama dari dialog semacam itu terletak pada pembangunan kepercayaan—fondasi mutlak bagi pertumbuhan dan stabilitas ekonomi global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















