JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Akhir pekan tiba, dan jutaan orang memilih cara bersantai yang agak mengerikan. Mereka tidak menonton komedi romantis. Sebaliknya, mereka mematikan lampu dan memutar dokumenter tentang pembunuhan sadis di Netflix.
Judul-judul seperti Dahmer atau kisah skandal Jeffrey Epstein mendominasi tangga lagu tontonan global. Genre “True Crime” atau kejahatan nyata kini telah berubah menjadi industri hiburan raksasa.
Kita mendengarkan detail penyiksaan lewat podcast saat menyetir ke kantor. Namun, di balik popularitas masif ini, muncul pertanyaan etis yang mengganggu. Apakah kita berhak menjadikan tragedi paling buruk dalam hidup seseorang sebagai camilan hiburan di waktu luang?
Candu Bernama “Morbid Curiosity”
Mengapa kita begitu terobsesi dengan hal-hal mengerikan? Psikolog menyebut fenomena ini sebagai morbid curiosity atau rasa ingin tahu yang tidak wajar terhadap kematian dan kekerasan.
Sebenarnya, ini adalah insting evolusi manusia. Kita ingin memahami bahaya agar bisa menghindarinya. Selain itu, genre ini menawarkan sensasi menjadi detektif dadakan.
Penonton merasa terlibat dalam memecahkan teka-teki kriminal dari kenyamanan sofa mereka yang aman. Akibatnya, adrenalin terpacu tanpa adanya risiko fisik yang nyata. Otak kita menikmati simulasi bahaya tersebut.
Luka Lama yang Berdarah Lagi
Akan tetapi, kita sering lupa bahwa karakter di layar kaca adalah manusia nyata. Keluarga korban sering kali menjadi pihak yang paling menderita akibat tren ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus serial Dahmer menjadi contoh nyata. Netflix memproduksi ulang adegan kemarahan keluarga korban di pengadilan dengan sangat mirip. Nahasnya, pihak produksi tidak meminta izin atau memberi tahu keluarga asli sebelumnya.
Keluarga korban merasa terpukul. Mereka mengalami retraumatisasi. Luka batin yang sudah tertutup rapat, kini terkoyak kembali demi keuntungan komersial perusahaan streaming. Bagi mereka, ini bukan hiburan, melainkan mimpi buruk yang berulang.
Jatuh Cinta pada Pembunuh?
Dampak psikologis lain yang tak kalah aneh adalah romantisasi penjahat. Sering kali, aktor tampan memerankan sosok pembunuh berantai yang karismatik.
Seketika, penonton muda di TikTok membuat video edit “jedag-jedug” yang memuja karakter tersebut. Mereka merasa simpati, bahkan naksir pada sosok monster seperti Ted Bundy atau Jeffrey Dahmer.
Fenomena ini sangat berbahaya. Pasalnya, narasi fiksi sering kali mengaburkan kekejaman asli sang pelaku. Penonton kehilangan empati pada korban dan justru terpesona pada sisi “manusiawi” si pembunuh yang sebenarnya manipulatif.
Batas Tipis Jurnalisme dan Eksploitasi
Pada akhirnya, kita harus menarik garis tegas. Jurnalisme investigasi bertujuan mengungkap kebenaran dan mencari keadilan. Sebaliknya, eksploitasi hanya bertujuan mengeruk uang dari sensasi darah dan air mata.
Kita sebagai penonton memegang kendali. Maka, jadilah konsumen yang bijak. Sebelum menekan tombol “Play”, tanyakan pada diri sendiri. Apakah tontonan ini menghormati korban, atau hanya menjual penderitaan mereka?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















