WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump memperkeras posisinya dalam konflik dengan Iran. Ia menggunakan strategi tekanan ekonomi yang lebih agresif. Gedung Putih mengonfirmasi diskusi presiden dengan para petinggi perusahaan minyak. Mereka membahas mitigasi dampak blokade pelabuhan Iran. Trump memprediksi blokade ini akan berjalan selama berbulan-bulan.
Langkah ini merespons kebuntuan upaya penyelesaian konflik melalui mediator. Trump mendesak Teheran untuk segera “menjadi cerdas” dan menandatangani kesepakatan. “Mereka tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera sadar!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social. Ia menyertakan gambar dirinya memegang senjata dengan takarir “No More Mr. Nice Guy.”
Dampak Global: Lonjakan Harga Minyak dan Biaya Perang
Strategi blokade maritim ini mengancam stabilitas ekonomi dunia secara langsung. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 6% pada hari Rabu. Kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Para eksekutif minyak dan pemerintah kini mencari cara menstabilkan pasar. Hal ini penting bagi konsumen Amerika di tengah prospek blokade panjang.
Di sisi militer, Pentagon merilis estimasi biaya konflik untuk pertama kalinya. Biaya perang ini telah mencapai $25 miliar. Konflik yang berlangsung selama dua bulan ini menelan biaya besar. Selain itu, perang memicu gangguan pasokan energi Timur Tengah dan pergolakan ekonomi global.
Krisis Ekonomi dan Penindasan di Internal Iran
Di pihak lain, Iran menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat. Mata uang Iran jatuh ke rekor terendah pada hari Rabu. Bank sentral melaporkan tingkat inflasi bulanan sebesar 65,8%. Juru bicara parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh Trump mencoba memecah belah rakyat Iran melalui blokade tersebut.
Situasi hak asasi manusia di Iran juga memburuk di tengah krisis ekonomi. Kepala HAM PBB, Volker Turk, melaporkan bahwa otoritas Iran mengeksekusi setidaknya 21 orang sejak perang dimulai. Mereka juga menangkap lebih dari 4.000 orang atas tuduhan keamanan nasional. Ketegangan ini terjadi saat Iran mengalami krisis kepemimpinan. Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel. Hal ini memberikan kekuasaan lebih besar kepada faksi garis keras Garda Revolusi (IRGC).
Kebuntuan Diplomasi: Syarat Nuklir vs Penghentian Konflik
Hingga saat ini, upaya diplomasi melalui mediator Pakistan masih menemui jalan buntu. Iran menawarkan penghentian perang secara bertahap. Namun, mereka ingin menunda pembahasan program nuklir. Mereka meminta isu nuklir dibahas setelah konflik berakhir dan masalah pelayaran selesai. Trump menolak syarat ini. Ia menuntut pembahasan isu nuklir sejak awal perundingan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, Iran memiliki stok sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60%. Material ini dapat menjadi beberapa senjata nuklir jika melalui pengayaan lebih lanjut. Teheran tetap bersikeras bahwa ambisi nuklirnya bersifat damai. Sebaliknya, Washington memandang cadangan tersebut sebagai ancaman keamanan global yang mendesak.
Tekanan Domestik bagi Trump
Meskipun bersikap keras, Trump menghadapi tantangan politik di dalam negeri. Lonjakan harga bensin mulai membebani masyarakat Amerika. Hal ini terlihat dari penurunan tingkat kepuasan publik (approval rating) ke angka 34%. Angka tersebut merupakan level terendah dalam masa jabatannya saat ini.
Masyarakat internasional memantau efektivitas strategi blokade berbulan-bulan ini. Apakah langkah tersebut berhasil memaksa Iran ke meja perundingan? Ataukah blokade justru memicu “aksi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya” sesuai ancaman Teheran? Di tahun 2026 yang penuh ketidakpastian, adu kekuatan Washington dan Teheran akan menentukan arah stabilitas energi dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















