WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali memicu kontroversi rasial yang tajam di Amerika Serikat. Pada Rabu, ia menegaskan bahwa dua perwakilan Demokrat, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, seharusnya “direhabilitasi di institusi kejiwaan” dan dideportasi dari Amerika Serikat.
Langkah provokatif ini terjadi hanya sehari setelah suasana panas menyelimuti pidato kenegaraan (State of the Union). Oleh karena itu, ketegangan antara Gedung Putih dan sayap progresif Partai Demokrat kini mencapai titik terendah yang baru di tahun 2026.
Pemicu: Konfrontasi Saat Pidato Kenegaraan
Prahara bermula saat Trump memamerkan kebijakan penindakan keras terhadap imigrasi dalam pidatonya pada Selasa malam. Rashida Tlaib (Palestina-Amerika) dan Ilhan Omar (Somalia-Amerika) secara terbuka mengkritik klaim kesuksesan administrasi tersebut.
Keduanya meneriakkan kalimat “Anda membunuh warga Amerika” ke arah Trump dari kursi parlemen. Bahkan, Omar secara eksplisit melabeli presiden sebagai seorang “pembohong”. Aksi interupsi ini memicu kemarahan basis pendukung Republik dan menjadi viral di media sosial dalam hitungan jam.
Serangan Personal melalui Truth Social
Trump merespons kritik tersebut dengan serangan personal yang sangat kasar melalui platform Truth Social. Ia mendeskripsikan kedua anggota Kongres tersebut memiliki mata yang merah dan melotot layaknya orang yang “sakit mental”.
“Secara jujur, mereka terlihat seperti orang yang harus segera dimasukkan ke institusi (RSJ),” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus mengirim mereka kembali ke negara asal secepat mungkin. Padahal, baik Omar maupun Tlaib merupakan warga negara Amerika Serikat yang sah dan dipilih secara demokratis oleh konstituen mereka di Minnesota dan Michigan.
Kecaman dari Oposisi dan Komunitas Muslim
Pemimpin Oposisi di DPR, Hakeem Jeffries, melabeli retorika Trump sebagai tindakan yang “xenofobia” dan “memalukan”. Sementara itu, Rashida Tlaib membalas melalui platform X dengan menyebut komentar Trump menunjukkan bahwa sang presiden sedang kehilangan kendali diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lembaga advokasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) juga menyuarakan protes keras. Deputi Direktur Nasional CAIR, Edward Ahmed Mitchell, menilai pernyataan Trump sangat rasis dan bigot. “Sangat rasis jika seseorang meminta legislator Muslim dikirim kembali ke negara asal leluhur mereka hanya karena mereka mengkritik tindakan kekerasan agen ICE terhadap warga sipil,” tegas Mitchell.
Konteks Penembakan dan Kematian di Tahanan ICE
Serangan Trump terhadap legislator tersebut terjadi di tengah pengawasan ketat terhadap kinerja lembaga imigrasi federal. Sepanjang Januari 2026 saja, agen federal telah menembak mati dua warga sipil Amerika Serikat dalam operasi terpisah di Minnesota.
Selain itu, data menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan di pusat penahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Sedikitnya delapan orang telah tewas di dalam tahanan ICE sejak awal tahun 2026, menyusul rekor 31 kematian pada tahun lalu. Aktivis hak asasi manusia menuduh Trump menggunakan tuduhan “fraud” di komunitas migran sebagai dalih untuk menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan. Skandal ini memperuncing polarisasi di Amerika Serikat menjelang perayaan hari kemerdekaan ke-250 negara tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















