Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz atau Kehilangan Seluruh Pabrik Energi

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump melontarkan ancaman paling keras sejak perang meletus pada 28 Februari lalu. Trump memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat akan melakukan “obliterasi” atau penghancuran total terhadap seluruh pembangkit energi dan sumur minyak Iran.

Ancaman ini muncul setelah Teheran menyebut proposal perdamaian Amerika Serikat sebagai rencana yang tidak realistis. Trump menetapkan tenggat waktu hingga 6 April mendatang bagi Iran untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz yang melumpuhkan seperlima pasokan energi dunia.

Rejeksi Teheran: “Tidak Logis dan Berlebihan”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa posisi Teheran tidak akan goyah di bawah tekanan militer. Iran mengaku telah menerima proposal perdamaian melalui perantara Pakistan, Turki, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, Baghaei melabeli poin-poin dalam proposal tersebut sebagai sesuatu yang “tidak logis dan berlebihan”.

“Kami sedang berada di bawah agresi militer. Oleh karena itu, seluruh kekuatan kami fokus pada pertahanan diri,” tegas Baghaei dalam konferensi pers di Teheran. Bahkan, parlemen Iran kini mulai meninjau kemungkinan untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respon atas serangan AS-Israel.

Baca Juga :  Harta Karun Pasar Loak

Eskalasi Multi-Front: Houthi dan Hezbollah Terlibat Aktif

Konflik ini kini telah berkembang menjadi perang regional skala penuh. Kelompok Houthi di Yaman secara resmi bergabung dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel. Akibatnya, kekhawatiran akan blokade jalur pelayaran kedua di Selat Bab el-Mandeb kini kian nyata bagi pasar logistik internasional.

Selain itu, Hezbollah di Lebanon terus menghujani Israel utara dengan roket, yang memicu serangan balasan udara Israel ke jantung kota Beirut. Insiden keamanan juga merembet ke wilayah utara, di mana sistem pertahanan udara NATO terpaksa menembak jatuh rudal balistik Iran yang nyasar ke ruang udara Turki. Kondisi ini membuktikan bahwa stabilitas perbatasan di Timur Tengah telah runtuh sepenuhnya.

Mobilisasi 82nd Airborne dan Opsi Serangan Darat

Pentagon memperkuat kehadiran fisik mereka dengan mengerahkan pasukan elit dari Divisi Airborne ke-82. Dua pejabat AS mengonfirmasi bahwa ribuan tentara mulai mendarat di lokasi strategis pada hari Senin. Langkah ini bertujuan memberikan fleksibilitas bagi Trump untuk meluncurkan operasi darat di dalam wilayah teritorial Iran jika diplomasi gagal.

Baca Juga :  IMF Optimis: Pertumbuhan China 2025-2026 Direvisi Naik

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebutkan bahwa Trump masih berharap mencapai kesepakatan sebelum 6 April. Meskipun demikian, Washington mulai menekan negara-negara Arab sekutu untuk ikut membiayai beban perang yang kini telah membengkak. Administrasi Trump dilaporkan telah mengajukan tambahan anggaran perang sebesar $200 miliar ke Kongres.

Guncangan Ekonomi dan Peringatan IMF

Dunia usaha mulai bersiap menghadapi skenario terburuk seiring melonjaknya harga minyak mentah Brent yang mencatatkan kenaikan bulanan rekor. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang ini melumpuhkan ekonomi negara-negara garis depan dan merusak prospek pemulihan global pasca-krisis.

Pada akhirnya, para pemimpin keuangan G7 menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah darurat guna menstabilkan pasar energi. Namun, dengan blokade Hormuz yang masih efektif dan ancaman Trump untuk menghancurkan fasilitas air desalinasi Iran, risiko bencana kemanusiaan dan ekonomi global berada di titik paling kritis tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon Selatan
Kasus Andrie Yunus Disiram Air Keras, Komnas HAM Siapkan Berbagai Skenario Hukum
Cuaca Jabodetabek 31 Maret 2026, Didominasi Berawan dan Hujan Ringan
Indonesia vs Bulgaria: Garuda Tumbang 0-1 di Final FIFA Series 2026, Penalti Jadi Petaka
Skandal Kuota Haji, KPK Tetapkan 2 Bos Travel Jadi Tersangka – Aliran Dana Miliaran Terkuak
Polisi Bongkar Mutilasi Sadis Kerahkan K-9, Tangan dan Kaki Korban Dibuang di Kebun Bambu
Polda Riau Gagalkan Narkoba Rp31 Miliar Jaringan Malaysia, 40 Ribu Ekstasi Disita
Mahfud MD Ungkap Praktik Napi ‘VIP’, Bebas Keluar Penjara Diam-Diam Ketemu di Hotel

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:49 WIB

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz atau Kehilangan Seluruh Pabrik Energi

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:48 WIB

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon Selatan

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:28 WIB

Kasus Andrie Yunus Disiram Air Keras, Komnas HAM Siapkan Berbagai Skenario Hukum

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:17 WIB

Cuaca Jabodetabek 31 Maret 2026, Didominasi Berawan dan Hujan Ringan

Senin, 30 Maret 2026 - 22:32 WIB

Indonesia vs Bulgaria: Garuda Tumbang 0-1 di Final FIFA Series 2026, Penalti Jadi Petaka

Berita Terbaru

Duka bagi korps perdamaian. Tiga personel UNIFIL asal Indonesia gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan, menandai jatuhnya korban pertama dari pasukan PBB sejak perang Israel-Hezbollah pecah Maret 2026. Dok: Kompas Internasional.

INTERNASIONAL

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon Selatan

Selasa, 31 Mar 2026 - 09:48 WIB