CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Uni Eropa dan Australia akhirnya mencapai kesepakatan perdagangan bebas yang telah lama mereka nantikan pada hari Selasa. Perjanjian ini bertujuan meningkatkan ekspor kedua belah pihak di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan global tahun 2026.
Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa kerja sama ini mengirimkan sinyal kuat kepada dunia. Menurutnya, persahabatan dan kolaborasi merupakan kunci utama dalam menghadapi turbulensi ekonomi saat ini. PM Anthony Albanese menyebut momen ini sebagai tonggak sejarah bagi Australia dalam mengamankan akses ke ekonomi terbesar kedua di dunia.
Kompromi Strategis: Prosecco, Daging Sapi, dan Mobil Listrik
Kedua pihak berhasil mengatasi poin-poin krusial yang sebelumnya menghambat negosiasi selama delapan tahun. Dalam hal ini, produsen anggur Australia tetap boleh menggunakan nama “prosecco” untuk pasar domestik. Namun, mereka harus menghentikan penggunaan nama tersebut untuk produk ekspor setelah masa transisi 10 tahun.
Uni Eropa juga menyetujui peningkatan kuota impor daging sapi Australia hingga lebih dari 10 kali lipat. Sebagai imbalannya, Australia menaikkan ambang batas pajak mobil mewah untuk kendaraan listrik (EV). Kebijakan ini membuat tiga perempat mobil listrik asal Eropa kini bebas dari beban pajak tambahan di pasar Australia.
Diversifikasi Pasar dan Tantangan Kekuatan Besar
Perjanjian dagang ini menjadi bagian dari strategi Brussel untuk mendiversifikasi kemitraan globalnya. Uni Eropa saat ini berupaya mengurangi ketergantungan ekonomi di tengah tekanan tarif dari Amerika Serikat dan kontrol ekspor Tiongkok. Oleh karena itu, Australia menjadi mitra strategis yang menyediakan alternatif rantai pasok yang lebih stabil.
Bagi Canberra, kesepakatan ini membantu upaya diversifikasi pasar bagi sektor pertanian mereka. Australia memiliki pengalaman pahit saat perselisihan dagang dengan Beijing pada 2020 melumpuhkan ekspor agrikultur mereka. Selain itu, ketergantungan tinggi Australia pada investasi Amerika Serikat mendorong pemerintah untuk mencari keseimbangan melalui pasar Eropa yang luas.
Keamanan Energi dan Bahan Mentah Kritis
Isu keamanan energi mendominasi pertemuan di Canberra tersebut. Perang di Timur Tengah telah memicu krisis energi yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan risiko kelangkaan pasokan jika konflik tersebut tidak segera selesai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selanjutnya, kedua pihak menandatangani kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan pasokan bahan mentah kritis. Uni Eropa sangat membutuhkan akses mineral dari Australia guna mendukung industri teknologi hijau mereka. Secara simultan, Australia yang bergantung pada bahan bakar impor memerlukan dukungan stabilitas energi global untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik mereka di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















