Viral ABK Disiksa dalam Tong Air, Polisi Ungkap Dugaan Motif Target Cumi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, penganiayaan.(Posnews/Ist)

Ilustrasi, penganiayaan.(Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perlakuan terhadap empat anak buah kapal (ABK) KM Maulana 23 mengundang keprihatinan.

Mereka diduga mengalami kekerasan saat bekerja di kapal penangkap cumi di wilayah Kepulauan Aru, Maluku.

Kasus itu mencuat setelah video kekerasan terhadap salah satu ABK beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, korban terlihat berada di dalam tong berisi air.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah orang kemudian diduga memukul dan menginjak tubuh korban.

Polres Pelabuhan Tanjung Priok langsung menyelidiki video tersebut. Polisi kemudian mengidentifikasi empat ABK yang diduga menjadi korban, yakni Ilham Shalahudin, Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra.

Keempatnya diketahui baru sekitar dua bulan bekerja di kapal tersebut.

Diduga Disiksa karena Target Cumi

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Alrasyidin Fajri mengungkap dugaan motif di balik kekerasan tersebut.

Menurut penyelidikan sementara, ABK diduga mendapat perlakuan kekerasan ketika tidak memenuhi target hasil tangkapan.

“Dugaan sementara korban memang dilakukan penganiayaan apabila tidak mencapai satu target untuk menangkap cumi-cumi maupun komoditi lainnya,” kata Alrasyidin, Minggu (4/10/2026).

Polisi menduga target yang harus dipenuhi mencapai sekitar 3 kilogram per hari. Jika target itu tidak tercapai, korban diduga mendapat tindakan tertentu.

Namun, polisi masih mengumpulkan bukti dan keterangan untuk memastikan siapa saja yang terlibat serta bagaimana pola kekerasan tersebut berlangsung.

“Target tangkapan 3 kilo harus tercapai. Kalau tidak tercapai, maka akan dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Tapi ini harus kita dapatkan bukti dan data yang faktual,” jelas Alrasyidin.

Keluarga Disebut Diberi Kabar Palsu

Kasus ini semakin memprihatinkan setelah polisi menemukan dugaan adanya informasi yang tidak sesuai kepada keluarga korban.

Baca Juga :  Arus Keluar Jakarta Melonjak di Hari Pertama Operasi Lilin 2025, Naik 9,20 Persen

Pada awal Agustus 2026, pengurus kapal disebut menghubungi ibu salah satu korban. Saat itu, pihak pengurus menyampaikan bahwa korban sakit beri-beri dan sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Dobo, Kepulauan Aru.

Namun, setelah ditelusuri, polisi menemukan fakta berbeda.

“Pengurus menyatakan, ‘Anak Ibu sakit beri-beri dan sudah dilakukan perawatan di Rumah Sakit Dobo di wilayah hukum Kepulauan Aru’,” kata Alrasyidin.

Setelah pendalaman, polisi menduga korban tidak pernah menjalani perawatan seperti yang disampaikan kepada keluarganya. Korban disebut hanya diturunkan dan dititipkan di darat.

Temuan tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengetahui rangkaian kejadian yang sebenarnya.

Polisi Selidiki 14 Orang di Kapal

Polisi juga belum memastikan jumlah orang yang terlibat dalam dugaan penganiayaan.

Dari sekitar 14 orang yang berada di kapal, penyidik masih memeriksa kemungkinan keterlibatan masing-masing.

“Bisa jadi semuanya, bisa jadi beberapa, bisa jadi hanya satu, bisa jadi hanya dua. Itu tentunya harus kita temukan data faktual melalui pemeriksaan,” tutur Alrasyidin.

Karena itu, polisi belum menetapkan tersangka dalam perkara tersebut. Penyidik masih mengumpulkan keterangan, bukti dan fakta untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab.

Korban Diprioritaskan untuk Pulih

Di tengah proses hukum yang berjalan, polisi menyatakan keselamatan korban menjadi prioritas.

Polres Pelabuhan Tanjung Priok berkoordinasi dengan Polres Kepulauan Aru untuk menangani para korban. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga dilibatkan untuk mengamankan kapal.

Para korban selanjutnya mendapat penanganan medis dan pemulihan kondisi fisik maupun mental.

Langkah tersebut penting karena dugaan kekerasan tidak hanya menyisakan persoalan hukum, tetapi juga dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis para korban.

KKP Tangguhkan Operasional KM Maulana 23

Perkembangan terbaru menunjukkan KKP telah mengambil langkah administratif terhadap KM Maulana 23.

Baca Juga :  Polsek Tanjung Priok Buru Jaringan Penggelapan Mobil Rental, 2 Pelaku Masih Buron

KKP menangguhkan layanan operasional kapal melalui sistem elektronik Penangkapan Ikan Terukur (e-PIT).

Kapal berbobot 89 gross tonnage (GT) itu kini diamankan di Pangkalan Pendaratan Ikan Dobo, Kepulauan Aru.

Berdasarkan penelusuran KKP, KM Maulana 23 bertolak dari Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta pada 15 Juli 2026.

Kapal menggunakan alat penangkapan ikan jala jatuh berkapal dengan wilayah operasi di Zona 03, yang mencakup WPPNRI 715 dan 718.

KKP juga menemukan sistem pemantauan kapal atau Vessel Monitoring System (VMS) KM Maulana 23 tidak aktif sejak 22 Agustus 2026.

Temuan tersebut turut menjadi bagian dari pemeriksaan terhadap aktivitas kapal.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan pihaknya menyesalkan dugaan kekerasan tersebut.

“Kami sangat menyesalkan dan mengecam dugaan tindak kekerasan ini. Keselamatan dan kesejahteraan awak kapal perikanan merupakan hal yang harus menjadi perhatian utama,” ujar Trenggono.

KKP juga menyiapkan audit terhadap kapal-kapal milik PT Anugrah Maritim Indonesia Raya yang tercatat memiliki alokasi lima unit kapal perikanan.

Jika penyidikan menemukan pelanggaran yang memenuhi dasar pencabutan izin, KKP menyatakan dapat menjatuhkan sanksi administratif lebih lanjut.

Polisi Dalami Dugaan TPPO

Selain dugaan penganiayaan, polisi turut mendalami kemungkinan adanya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam kasus tersebut.

Penyidik juga menelusuri proses perekrutan para ABK, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak yang menyalurkan atau memberangkatkan mereka.

Namun, polisi masih membutuhkan bukti faktual sebelum menentukan apakah unsur TPPO terpenuhi dan siapa saja yang dapat dimintai pertanggungjawaban.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan pekerja di sektor perikanan.

Kekerasan terhadap ABK, jika terbukti, bukan hanya persoalan pidana, tetapi juga menyentuh hak dasar pekerja untuk mendapatkan perlindungan dan perlakuan manusiawi.  **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terekam CCTV Saat Curi Tas Penumpang KRL, IJ Akhirnya Ditangkap
Kios di Pondok Pinang Digerebek, 827 Obat Keras Disita Polisi
Dipanggil Boleng Berujung Maut, Pria di Cilincing Tewas Dibacok Celurit
AAN Dituduh Curi Amplop Hajatan, Berujung Pengeroyokan dan Lapor Polisi
Wanita PAI Tewas di Steam Motor Tangerang, AS Ditangkap Saat Pinjam Uang
Hasil Ekshumasi Sutrimo: Jantung Iskemik, Arteri Koroner Menyempit 75 Persen
Dua Pengunjung Sidang Diduga Setor Sabu ke Napi di PN Jakarta Pusat
Kerangka Manusia Ditemukan di Sungai Citarum Bekasi, Polisi Turun Tangan

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Viral ABK Disiksa dalam Tong Air, Polisi Ungkap Dugaan Motif Target Cumi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 06:43 WIB

Terekam CCTV Saat Curi Tas Penumpang KRL, IJ Akhirnya Ditangkap

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Kios di Pondok Pinang Digerebek, 827 Obat Keras Disita Polisi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 06:49 WIB

Dipanggil Boleng Berujung Maut, Pria di Cilincing Tewas Dibacok Celurit

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:01 WIB

AAN Dituduh Curi Amplop Hajatan, Berujung Pengeroyokan dan Lapor Polisi

Berita Terbaru

Arab Saudi merencanakan serangan militer besar-besaran bersama pasukan Yaman untuk mengamankan Selat Bab el-Mandeb dari Houthi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Arab Saudi Merancang Serangan Militer Besar-Besaran

Minggu, 4 Okt 2026 - 09:45 WIB

Korea Utara meluncurkan rudal balistik dari Wonsan usai Kim Yo Jong menolak permintaan maaf terkait ledakan ranjau darat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik Usai Menolak Permintaan

Minggu, 4 Okt 2026 - 08:40 WIB

 Identitas ko-pilot FlyDubai Hamam al-Hammami terungkap setelah mencoba menjatuhkan pesawat rute Dubai menuju Tel Aviv. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Identitas Ko-Pilot FlyDubai Terungkap Usai Serang Kapten

Minggu, 4 Okt 2026 - 07:37 WIB