Xi Jinping dan Keir Starmer Bertemu di Beijing: Akhiri 8 Tahun Kebekuan

Jumat, 30 Januari 2026 - 07:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kegagalan penilaian di Downing Street. Dokumen rahasia mengungkap cara PM Keir Starmer mengabaikan peringatan pejabat senior terkait hubungan Peter Mandelson dengan Jeffrey Epstein demi penunjukan diplomatik. Dok: Istimewa.

Kegagalan penilaian di Downing Street. Dokumen rahasia mengungkap cara PM Keir Starmer mengabaikan peringatan pejabat senior terkait hubungan Peter Mandelson dengan Jeffrey Epstein demi penunjukan diplomatik. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Kebekuan diplomatik selama hampir satu dekade akhirnya mencair di Beijing. Pada hari Kamis (29/1), Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Pertemuan ini menandai kunjungan pertama seorang Perdana Menteri Inggris ke China dalam delapan tahun terakhir.

Kedua pemimpin langsung menyepakati poin krusial: perlunya membangun kemitraan strategis komprehensif yang stabil dan berjangka panjang. Xi menekankan pentingnya melihat sejarah dari perspektif yang lebih luas.

“China dan Inggris harus melampaui perbedaan dan menjaga rasa saling menghormati,” ujar Xi. Menurutnya, potensi kerja sama yang menjanjikan harus diterjemahkan menjadi pencapaian nyata yang menguntungkan kedua bangsa dan dunia.

Pragmatisme Starmer: “Demi Kepentingan Nasional”

Starmer membuka pertemuan dengan mengakui kesenjangan panjang dalam pertukaran tingkat tinggi. “Sudah terlalu lama sejak perdana menteri Inggris terakhir mengunjungi China,” katanya.

Setibanya di Beijing, Starmer membingkai perjalanan ini dengan istilah yang sangat pragmatis. Ia menepis keraguan politik domestik dengan alasan ekonomi yang kuat.

Baca Juga :  Film Noir Lahir dari Kekecewaan Pasca-Perang Dunia II?

“Terlibat dengan China adalah kepentingan nasional kita,” tegas Starmer kepada wartawan. “Ada peluang besar yang bisa didapat.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan ekonomi global utama, kedua negara berbagi kepentingan vital dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas global.

Efek Trump: Eropa Cari Stabilitas di Timur

Analis melihat kunjungan Starmer bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ini mencerminkan tren Eropa yang lebih luas. Negara-negara Benua Biru semakin mencari keterlibatan pragmatis dengan China di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Vince Cable, mantan Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris, memberikan perspektif menarik kepada CGTN.

“Perilaku pemerintahan Trump yang tidak menentu menyebabkan banyak negara Barat, bukan hanya Inggris, menyeimbangkan hubungan mereka dengan cara yang berbeda,” jelas Cable.

Wang Zhanpeng dari Beijing Foreign Studies University menambahkan bahwa kebijakan unilateralisme Trump telah menimbulkan tantangan bagi Eropa. Kunjungan pemimpin Prancis, Irlandia, dan Finlandia ke China baru-baru ini menunjukkan pengakuan bahwa pembangunan China bukanlah ancaman, melainkan peluang.

Baca Juga :  Tensi Asia Timur Mendidih: China Kerahkan 100 Kapal, Taiwan dan Jepang Siaga Satu

Diplomasi Dagang $100 Miliar

Dalam pertemuan tersebut, Xi menggambarkan esensi kerja sama ekonomi China-Inggris sebagai “saling menguntungkan” (win-win).

Hubungan ekonomi tetap menjadi pilar utama. China telah lama menjadi salah satu dari lima mitra dagang teratas Inggris. Perdagangan tahunan konsisten berada di level ratusan miliar dolar.

Data Kementerian Perdagangan China menunjukkan perdagangan barang mencapai $103,7 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, perdagangan jasa diproyeksikan melampaui $30 miliar.

Starmer membuktikan keseriusannya dengan membawa delegasi lebih dari 60 perwakilan dari sektor bisnis dan budaya Inggris.

“Inggris siap mempertahankan pertukaran tingkat tinggi dan memperdalam kerja sama dalam perdagangan, investasi, keuangan, dan perlindungan lingkungan,” janji Starmer.

Kedua pihak sepakat memperluas kolaborasi di sektor masa depan: pendidikan, layanan kesehatan, kecerdasan buatan (AI), biosains, energi terbarukan, dan teknologi rendah karbon.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka
Polri Gelar Mudik Balik Gratis Presisi 2026, Wujudkan Arus Balik Lebaran Aman dan Lancar
Macet 32 Km Menuju Pelabuhan Gilimanuk, 17 Pemudik Tumbang Kepanasan Saat Antre Kapal
Modus Toko Pulsa dan Sembako Terbongkar, Polisi Sita Ribuan Obat Daftar G
Cuaca Jabodetabek & Kota Besar Hari Ini: Hujan Ringan – Lebat, Waspada Angin Kencang
Maling Spesialis Alfamart Ngamuk di Tanjung Priok, Todong Sajam Saat Kepergok Warga
Polda Jabar Razia Truk Sumbu Tiga di Sumedang, 85 Kendaraan Melanggar Terjaring
KAI Tambah 19 Kereta Api Jarak Jauh Mudik Lebaran 2026 dari Gambir dan Pasar Senen

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 14:05 WIB

Bareskrim Bongkar Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara, 2 Bos Perusahaan Jadi Tersangka

Senin, 16 Maret 2026 - 10:44 WIB

Polri Gelar Mudik Balik Gratis Presisi 2026, Wujudkan Arus Balik Lebaran Aman dan Lancar

Senin, 16 Maret 2026 - 10:25 WIB

Macet 32 Km Menuju Pelabuhan Gilimanuk, 17 Pemudik Tumbang Kepanasan Saat Antre Kapal

Senin, 16 Maret 2026 - 09:42 WIB

Modus Toko Pulsa dan Sembako Terbongkar, Polisi Sita Ribuan Obat Daftar G

Senin, 16 Maret 2026 - 03:14 WIB

Cuaca Jabodetabek & Kota Besar Hari Ini: Hujan Ringan – Lebat, Waspada Angin Kencang

Berita Terbaru