Psikologi Uang: Mengapa Kaya Itu Sulit?

Minggu, 28 Desember 2025 - 06:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kerja keras tapi dompet tetap tipis? Masalahnya mungkin ada di alam bawah sadar Anda. Dok; Istimewa.

Ilustrasi, Kerja keras tapi dompet tetap tipis? Masalahnya mungkin ada di alam bawah sadar Anda. Dok; Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pertanyaan klasik sering menghantui kita: mengapa sebagian orang sulit sekali meraih kesuksesan finansial meski sudah bekerja keras? Jawabannya ternyata tidak selalu terletak pada strategi bisnis atau investasi.

Akar masalahnya sering kali tersembunyi jauh di dalam pikiran bawah sadar. Banyak orang memiliki hambatan mental yang meyakini bahwa kesuksesan finansial adalah hal yang mustahil bagi mereka.

Di level sadar, mereka merasa sudah melakukan segalanya. Namun, bagian tak sadar dari diri mereka justru menyabotase usaha tersebut. Alih-alih fokus pada peluang, mereka terobsesi pada apa yang tidak mereka miliki. Pola pikir ini memicu kemarahan dan kebencian yang justru semakin membatasi rezeki mereka.

Jejak Luka Masa Kecil: “Depression Era Mentality”

Langkah pertama untuk memahami masalah ini adalah menelusuri sejarah personal. Bagaimana seseorang memandang uang sering kali terbentuk dari trauma masa lalu.

Contohnya, seseorang yang tumbuh dengan orang tua yang hidup dalam kemiskinan mungkin mewarisi “Mentalitas Era Depresi”. Secara tidak sadar, ia yakin bahwa hidup adalah perjuangan finansial abadi, hanya karena itulah yang ia lihat dari orang tuanya.

Baca Juga :  Saat Resesi, Mengapa Penjualan Lipstik Justru Laris?

Dalam bidang Neuro Linguistic Programming (NLP), keyakinan pembatas ini disebut sebagai “imprints” atau jejak. Faktanya, memori masa kecil ini menjadi akar dari keyakinan yang membatasi (limiting beliefs).

Anak yang sering mendengar bahwa ia “tidak akan pernah sukses” akhirnya akan mempercayai hal itu sebagai kebenaran mutlak saat dewasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wabah “Affluenza”: Penyakit Ingin Lebih

Masalah lain yang tak kalah berbahaya adalah obsesi berlebihan terhadap uang. Ada istilah psikologis untuk kondisi ini: “Affluenza”.

Ini didefinisikan sebagai kondisi yang menyakitkan, menular, dan menular secara sosial akibat kelebihan beban, utang, kecemasan, dan pemborosan. Penyebabnya adalah pengejaran dogmatis untuk memiliki “lebih banyak”.

Affluenza adalah kecanduan yang tidak sehat terhadap pertumbuhan ekonomi pribadi. Kondisi ini paling akut terjadi pada mereka yang mewarisi kekayaan tanpa tujuan hidup yang jelas.

Kuncinya, orang harus berhenti menyamakan harga diri (self-worth) dengan jumlah uang di bank. Saat seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, pintu peluang justru akan terbuka lebar karena mereka lebih berani mengambil risiko.

Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? (Ada Syaratnya)

Lantas, apakah uang menjamin kebahagiaan? Riset menunjukkan korelasi positif, tetapi hanya sampai titik tertentu.

Baca Juga :  Imigrasi Tangkap 11 WN Vietnam di Jakarta, Diduga Main-main Soal Izin Tinggal di Klinik Kecantikan PIK

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, uang mengalami hukum hasil yang semakin berkurang (diminishing returns). Orang super kaya ternyata tidak jauh lebih bahagia daripada orang yang berkecukupan (comfortably well off).

Menariknya, hubungan uang-kebahagiaan tampak lebih kuat pada pekerja upahan per jam dibandingkan pekerja bergaji tetap. Pekerja gaji tetap lebih mudah mendapatkan kepuasan dari jenjang karier, bukan sekadar nominal uang.

Bahkan, uang bisa merusak kesenangan. Eksperimen disonansi kognitif membuktikan bahwa membayar orang dengan jumlah kecil untuk pekerjaan sosial justru membuat mereka kurang menikmatinya. Hadiah uang dapat merusak kepuasan intrinsik seseorang dalam bekerja.

Perbaiki “Dunia Dalam” Dulu

Pada akhirnya, kesuksesan finansial dimulai dari dalam kepala. Dunia luar hanyalah cerminan dari dunia batin seseorang.

Jika seseorang merasa baik dan layak di dalam, hal itu akan terpancar keluar dan menarik pengalaman positif. Maka, untuk menjadi kaya, kita harus terlebih dahulu membuang mentalitas blokade dan mulai merangkul rasa berharga pada diri sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hai Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026, Ini Penjelasan Kemenag
Fed Tahan Suku Bunga: Jerome Powell Waspadai Inflasi Energi Akibat Perang Iran
Pertemuan 2 Jam Prabowo–Megawati di Istana, Bahas Politik dan Geopolitik Global
Xi Jinping dan Berdimuhamedov Pererat Kemitraan Strategis China-Turkmenistan
IMO Usulkan Jalur Aman untuk 20.000 Pelaut yang Terjebak di Teluk
Komnas HAM Panggil Panglima TNI Terkait Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Sidang Panas DHS: Markwayne Mullin Berdebat dengan Rand Paul dan Ubah Visi ICE
Kiamat Energi Teluk: Serangan Lapangan Gas Pars dan Rudal Iran ke Qatar-Saudi

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:34 WIB

Hai Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H Jatuh Pada 21 Maret 2026, Ini Penjelasan Kemenag

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:00 WIB

Fed Tahan Suku Bunga: Jerome Powell Waspadai Inflasi Energi Akibat Perang Iran

Kamis, 19 Maret 2026 - 18:53 WIB

Pertemuan 2 Jam Prabowo–Megawati di Istana, Bahas Politik dan Geopolitik Global

Kamis, 19 Maret 2026 - 18:30 WIB

Xi Jinping dan Berdimuhamedov Pererat Kemitraan Strategis China-Turkmenistan

Kamis, 19 Maret 2026 - 18:00 WIB

IMO Usulkan Jalur Aman untuk 20.000 Pelaut yang Terjebak di Teluk

Berita Terbaru

Misi kemanusiaan di zona merah. Badan pelayaran PBB mengusulkan pembentukan koridor maritim aman guna mengevakuasi 20.000 pelaut dan ratusan kapal yang terjebak blokade Iran di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

IMO Usulkan Jalur Aman untuk 20.000 Pelaut yang Terjebak di Teluk

Kamis, 19 Mar 2026 - 18:00 WIB