JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pertanyaan klasik sering menghantui kita: mengapa sebagian orang sulit sekali meraih kesuksesan finansial meski sudah bekerja keras? Jawabannya ternyata tidak selalu terletak pada strategi bisnis atau investasi.
Akar masalahnya sering kali tersembunyi jauh di dalam pikiran bawah sadar. Banyak orang memiliki hambatan mental yang meyakini bahwa kesuksesan finansial adalah hal yang mustahil bagi mereka.
Di level sadar, mereka merasa sudah melakukan segalanya. Namun, bagian tak sadar dari diri mereka justru menyabotase usaha tersebut. Alih-alih fokus pada peluang, mereka terobsesi pada apa yang tidak mereka miliki. Pola pikir ini memicu kemarahan dan kebencian yang justru semakin membatasi rezeki mereka.
Jejak Luka Masa Kecil: “Depression Era Mentality”
Langkah pertama untuk memahami masalah ini adalah menelusuri sejarah personal. Bagaimana seseorang memandang uang sering kali terbentuk dari trauma masa lalu.
Contohnya, seseorang yang tumbuh dengan orang tua yang hidup dalam kemiskinan mungkin mewarisi “Mentalitas Era Depresi”. Secara tidak sadar, ia yakin bahwa hidup adalah perjuangan finansial abadi, hanya karena itulah yang ia lihat dari orang tuanya.
Dalam bidang Neuro Linguistic Programming (NLP), keyakinan pembatas ini disebut sebagai “imprints” atau jejak. Faktanya, memori masa kecil ini menjadi akar dari keyakinan yang membatasi (limiting beliefs).
Anak yang sering mendengar bahwa ia “tidak akan pernah sukses” akhirnya akan mempercayai hal itu sebagai kebenaran mutlak saat dewasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wabah “Affluenza”: Penyakit Ingin Lebih
Masalah lain yang tak kalah berbahaya adalah obsesi berlebihan terhadap uang. Ada istilah psikologis untuk kondisi ini: “Affluenza”.
Ini didefinisikan sebagai kondisi yang menyakitkan, menular, dan menular secara sosial akibat kelebihan beban, utang, kecemasan, dan pemborosan. Penyebabnya adalah pengejaran dogmatis untuk memiliki “lebih banyak”.
Affluenza adalah kecanduan yang tidak sehat terhadap pertumbuhan ekonomi pribadi. Kondisi ini paling akut terjadi pada mereka yang mewarisi kekayaan tanpa tujuan hidup yang jelas.
Kuncinya, orang harus berhenti menyamakan harga diri (self-worth) dengan jumlah uang di bank. Saat seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, pintu peluang justru akan terbuka lebar karena mereka lebih berani mengambil risiko.
Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? (Ada Syaratnya)
Lantas, apakah uang menjamin kebahagiaan? Riset menunjukkan korelasi positif, tetapi hanya sampai titik tertentu.
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, uang mengalami hukum hasil yang semakin berkurang (diminishing returns). Orang super kaya ternyata tidak jauh lebih bahagia daripada orang yang berkecukupan (comfortably well off).
Menariknya, hubungan uang-kebahagiaan tampak lebih kuat pada pekerja upahan per jam dibandingkan pekerja bergaji tetap. Pekerja gaji tetap lebih mudah mendapatkan kepuasan dari jenjang karier, bukan sekadar nominal uang.
Bahkan, uang bisa merusak kesenangan. Eksperimen disonansi kognitif membuktikan bahwa membayar orang dengan jumlah kecil untuk pekerjaan sosial justru membuat mereka kurang menikmatinya. Hadiah uang dapat merusak kepuasan intrinsik seseorang dalam bekerja.
Perbaiki “Dunia Dalam” Dulu
Pada akhirnya, kesuksesan finansial dimulai dari dalam kepala. Dunia luar hanyalah cerminan dari dunia batin seseorang.
Jika seseorang merasa baik dan layak di dalam, hal itu akan terpancar keluar dan menarik pengalaman positif. Maka, untuk menjadi kaya, kita harus terlebih dahulu membuang mentalitas blokade dan mulai merangkul rasa berharga pada diri sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















