Koalisi Sipil Geram, Kasus Andrie Yunus Diminta Dibuka Terang di Pengadilan Umum

Kamis, 19 Maret 2026 - 05:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi solidaritas menuntut keadilan atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM di Jakarta.
(Posnews/Ist)

Aksi solidaritas menuntut keadilan atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM di Jakarta. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM kembali memicu kemarahan publik.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan langsung mengecam keras dugaan keterlibatan empat anggota TNI dalam penyerangan terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.

Koalisi pun mendesak agar para pelaku tidak “berlindung” di peradilan militer dan segera diproses melalui jalur hukum pidana umum secara transparan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, Koalisi menilai langkah TNI yang cenderung membawa kasus ini ke peradilan militer sebagai respons yang keliru.

Mereka menegaskan, selama ini peradilan militer kerap dikritik karena rawan impunitas dan minim akuntabilitas.

Akibatnya, banyak kasus pidana umum yang melibatkan aparat justru berakhir tanpa kejelasan hukum yang tegas.

Dugaan Keterlibatan Sistematis Menguat

Lebih lanjut, Koalisi mencurigai adanya pola sistematis dalam serangan terhadap Andrie Yunus.

Mereka khawatir, jika kasus ini hanya diadili di peradilan militer, fakta penting—termasuk rantai komando—tidak akan terungkap.

Baca Juga :  Banjir Jakarta 9 Maret 2026: 16 RT dan 2 Jalan Masih Tergenang, Air Berangsur Surut

Sebaliknya, kasus ini berpotensi berhenti pada pelaku lapangan tanpa menyentuh aktor intelektual di baliknya.

Karena itu, Koalisi mendesak aparat penegak hukum membongkar kasus ini hingga ke akar. Mereka meminta proses hukum dilakukan secara terbuka, akuntabel, dan independen melalui peradilan umum.

Tak hanya itu, Koalisi juga menyoroti tanggung jawab pejabat tinggi, termasuk Kepala BAIS, Panglima TNI, dan Menteri Pertahanan untuk tidak lepas tangan.

Ancaman Serius bagi HAM dan Demokrasi

Di sisi lain, Koalisi menilai serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Mereka menyebut kasus ini sebagai ancaman nyata terhadap pembela HAM serta masa depan demokrasi di Indonesia.

Oleh sebab itu, penanganan serius dan tegas dinilai menjadi kunci untuk mencegah terulangnya aksi teror serupa.

Selain peradilan umum, Koalisi juga membuka opsi penanganan melalui mekanisme Pengadilan HAM jika ditemukan unsur pelanggaran berat.

Baca Juga :  Banjir 70 Cm Genangi Asrama Polisi Pondok Karya, Polda Metro Turun Evakuasi Warga

Langkah ini dianggap penting untuk menjamin efek jera sekaligus memastikan tidak ada lagi kekerasan terhadap masyarakat sipil di masa depan.

Puspom TNI Tetapkan 4 Prajurit Terduga Pelaku

Sementara itu, Puspom TNI mengungkap empat prajurit BAIS TNI sebagai terduga pelaku. Mereka berinisial NDP, SL, BWH, dan ES.

Danpuspom TNI Yusri Nuryanto menyebut keempatnya berasal dari Denma BAIS TNI, gabungan matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Saat ini, seluruhnya telah diamankan dan masih menjalani pemeriksaan intensif.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya juga bergerak cepat. Polisi telah mengidentifikasi dua eksekutor utama berinisial BHC dan MAK.

Namun demikian, Direktur Reserse Kriminal Umum Iman Imannudin menegaskan jumlah pelaku kemungkinan lebih dari empat orang.

Artinya, penyelidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap seluruh jaringan di balik aksi brutal tersebut. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Purnawirawan Polri Dukung Kapolri di Tengah Kasus Penyadapan
Jokowi tunjukkan ijazah di sidang Roy Suryo
Jokowi Duduk di Kursi Saksi, Polisi Siaga Amankan Sidang Roy Suryo
Dudung Buka Suara soal Tiga Petinggi Polri Tersangka Penyadapan
Berawal dari Laporan Warga, Polisi Gerebek Lapak Sabu di Tanah Abang
Dana Otsus hingga Bendera Aceh, Ini yang Dibahas Mualem dengan Prabowo
Nusron Wahid Diperiksa 5 Jam, KPK Bongkar Dugaan Setoran Jabatan
Kasus Penyadapan Presiden Prabowo Memanas, Yusril Ungkap Indikasi Makar

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 16:13 WIB

Purnawirawan Polri Dukung Kapolri di Tengah Kasus Penyadapan

Kamis, 5 November 2026 - 07:31 WIB

Jokowi Duduk di Kursi Saksi, Polisi Siaga Amankan Sidang Roy Suryo

Kamis, 5 November 2026 - 06:29 WIB

Dudung Buka Suara soal Tiga Petinggi Polri Tersangka Penyadapan

Kamis, 5 November 2026 - 06:13 WIB

Berawal dari Laporan Warga, Polisi Gerebek Lapak Sabu di Tanah Abang

Kamis, 5 November 2026 - 05:56 WIB

Dana Otsus hingga Bendera Aceh, Ini yang Dibahas Mualem dengan Prabowo

Berita Terbaru

PP Polri mendukung Kapolri Suyudi menangani kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit dan dua pejabat Polri. (Posnews/Humas Polri)

NASIONAL

Purnawirawan Polri Dukung Kapolri di Tengah Kasus Penyadapan

Kamis, 5 Nov 2026 - 16:13 WIB

Pemerintah Inggris memperpanjang masa tunggu izin tinggal tetap imigran menjadi sepuluh tahun. Simak aturan baru dan pengecualiannya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal

Kamis, 5 Nov 2026 - 15:00 WIB

Donald Trump memilih meresmikan renovasi Kolam Peringatan Lincoln menjelang pemilu sela AS. Simak ulasan agenda kampanye Republik dan Demokrat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Fokus Renovasi Kolam Menjelang Pemilu

Kamis, 5 Nov 2026 - 14:52 WIB

Mahkamah Agung AS menolak upaya pemerintah Trump memisahkan dua puluh ribu surat suara di California. Simak ulasan keputusan hukum. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mahkamah Agung AS Menolak Gugatan Pemerintah Trump

Kamis, 5 Nov 2026 - 13:49 WIB

Korea Utara menolak tuduhan Amerika Serikat terkait pencurian mata uang kripto senilai enam miliar dolar di Binance. Simak bantahan resmi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Korea Utara Bantah Tuduhan Amerika Serikat Terkait Pencurian

Kamis, 5 Nov 2026 - 13:41 WIB