Upaya Selamatkan Saksi Bisu Perbudakan Seksual Jepang di Filipina

Selasa, 30 Desember 2025 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Sejarah kelam di ambang kehancuran.

Ilustrasi, Sejarah kelam di ambang kehancuran. "Rumah Merah" Filipina saksi kekejaman tentara Jepang terancam runtuh. Dok: Istimewa.

MANILA, POSNEWS.CO.ID – Sebuah bangunan tua bergaya French Revival berdiri sekarat di pinggir jalan raya San Ildefonso, Bulacan. Dindingnya retak, atapnya rapuh, dan tanaman liar menutupi sebagian strukturnya.

Warga mengenal gedung tahun 1929 ini sebagai “Bahay na Pula” atau Rumah Merah. Sayangnya, kondisi fisiknya kini sangat memprihatinkan. Arsitek konservasi Joel Rico memperingatkan bahwa rumah tersebut bisa runtuh dalam waktu satu tahun jika badai kuat menghantamnya.

Namun, nilai sejarah di balik reruntuhan ini jauh lebih besar daripada sekadar batu bata. Pada masa Perang Dunia II, Tentara Kekaisaran Jepang menyita rumah ini. Lantas, mereka mengubahnya menjadi neraka dunia bagi perempuan lokal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saksi Bisu Kekejaman “Jugun Ianfu”

Sejarah mencatat peristiwa mengerikan pada 23 November 1944. Pasukan Jepang menyerbu desa Mapaniqui di Pampanga dengan dalih memburu gerilyawan.

Kemudian, mereka membawa paksa perempuan dan gadis muda ke Rumah Merah. Di sana, tentara Jepang memperbudak para korban secara seksual dengan brutal. Oleh karena itu, Rico bertekad mengubah tempat ini menjadi memorial untuk menghormati penderitaan mereka.

Baca Juga :  Yusril Ihza Mahendra: Pemerintah Hanya Tindak Pelaku Rusuh, Hak Demonstran Damai Tetap Dilindungi

“Jika kita membiarkan rumah ini hancur, itu seperti membiarkan ingatan menghilang,” kata Rico kepada Kyodo News.

Ia bahkan rela bekerja tanpa bayaran untuk menyusun rencana manajemen konservasi. Targetnya, ia akan mengajukan proposal tersebut ke Komisi Nasional Kebudayaan dan Seni pada Februari tahun depan.

Kendala Dana dan Dilema Pemilik

Tantangan terbesar adalah dana. Pemerintah San Ildefonso berminat membeli properti seluas 8.000 meter persegi tersebut untuk museum. Namun, harga tanah yang mencapai 68 juta peso ($1,16 juta) menjadi hambatan besar.

Sayangnya, permohonan bantuan keuangan ke komisi nasional dan legislator belum membuahkan hasil. Sementara itu, pemilik properti masih bungkam dan hanya menyatakan bahwa mereka sedang mempelajari masalah ini.

Rico mengusulkan opsi alternatif. Pemilik bisa hanya menjual bagian tanah tempat rumah berdiri seharga 20 juta peso, atau bahkan mendonokasikannya. Estimasi biaya rekonstruksi bangunan menelan 10-20 juta peso lagi.

Baca Juga :  Mengapa Kita Perlu Desain yang Tahan Lama Secara Emosional

Trauma Penyintas: “Saya Tidak Ingin Melihatnya Lagi”

Meskipun niat restorasi ini mulia, tidak semua pihak setuju. Maria Quilantang (89), pemimpin kelompok penyintas Malaya Lolas (Nenek Merdeka), menolak keras rencana tersebut.

Baginya, rumah itu adalah sumber trauma yang menyakitkan. Quilantang baru berusia delapan tahun saat kejadian. Ia menyaksikan tentara menyiksa ayah dan saudara laki-lakinya di depan mata, serta memenjarakan ibu dan saudaranya di rumah tersebut.

“Itu tidak perlu lagi karena Anda hanya akan terus mengingat pengalaman yang menyakitkan,” ungkapnya lirih. Sebaliknya, ia lebih memilih menceritakan kisah kekejaman Jepang secara lisan agar warga tidak melupakannya, tanpa perlu membangun kembali fisik bangunan tersebut.

Pada akhirnya, proyek ini menghadapi dilema moral dan finansial yang pelik. Rico berharap pihak terkait bisa melakukan restorasi tanpa warna merah yang menakutkan, sebagai simbol “moving on” tanpa melupakan sejarah. Namun, luka batin para “Nenek Merdeka” tampaknya membutuhkan lebih dari sekadar semen dan cat baru untuk bisa sembuh.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB