MANILA, POSNEWS.CO.ID – Sebuah bangunan tua bergaya French Revival berdiri sekarat di pinggir jalan raya San Ildefonso, Bulacan. Dindingnya retak, atapnya rapuh, dan tanaman liar menutupi sebagian strukturnya.
Warga mengenal gedung tahun 1929 ini sebagai “Bahay na Pula” atau Rumah Merah. Sayangnya, kondisi fisiknya kini sangat memprihatinkan. Arsitek konservasi Joel Rico memperingatkan bahwa rumah tersebut bisa runtuh dalam waktu satu tahun jika badai kuat menghantamnya.
Namun, nilai sejarah di balik reruntuhan ini jauh lebih besar daripada sekadar batu bata. Pada masa Perang Dunia II, Tentara Kekaisaran Jepang menyita rumah ini. Lantas, mereka mengubahnya menjadi neraka dunia bagi perempuan lokal.
Saksi Bisu Kekejaman “Jugun Ianfu”
Sejarah mencatat peristiwa mengerikan pada 23 November 1944. Pasukan Jepang menyerbu desa Mapaniqui di Pampanga dengan dalih memburu gerilyawan.
Kemudian, mereka membawa paksa perempuan dan gadis muda ke Rumah Merah. Di sana, tentara Jepang memperbudak para korban secara seksual dengan brutal. Oleh karena itu, Rico bertekad mengubah tempat ini menjadi memorial untuk menghormati penderitaan mereka.
“Jika kita membiarkan rumah ini hancur, itu seperti membiarkan ingatan menghilang,” kata Rico kepada Kyodo News.
Ia bahkan rela bekerja tanpa bayaran untuk menyusun rencana manajemen konservasi. Targetnya, ia akan mengajukan proposal tersebut ke Komisi Nasional Kebudayaan dan Seni pada Februari tahun depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kendala Dana dan Dilema Pemilik
Tantangan terbesar adalah dana. Pemerintah San Ildefonso berminat membeli properti seluas 8.000 meter persegi tersebut untuk museum. Namun, harga tanah yang mencapai 68 juta peso ($1,16 juta) menjadi hambatan besar.
Sayangnya, permohonan bantuan keuangan ke komisi nasional dan legislator belum membuahkan hasil. Sementara itu, pemilik properti masih bungkam dan hanya menyatakan bahwa mereka sedang mempelajari masalah ini.
Rico mengusulkan opsi alternatif. Pemilik bisa hanya menjual bagian tanah tempat rumah berdiri seharga 20 juta peso, atau bahkan mendonokasikannya. Estimasi biaya rekonstruksi bangunan menelan 10-20 juta peso lagi.
Trauma Penyintas: “Saya Tidak Ingin Melihatnya Lagi”
Meskipun niat restorasi ini mulia, tidak semua pihak setuju. Maria Quilantang (89), pemimpin kelompok penyintas Malaya Lolas (Nenek Merdeka), menolak keras rencana tersebut.
Baginya, rumah itu adalah sumber trauma yang menyakitkan. Quilantang baru berusia delapan tahun saat kejadian. Ia menyaksikan tentara menyiksa ayah dan saudara laki-lakinya di depan mata, serta memenjarakan ibu dan saudaranya di rumah tersebut.
“Itu tidak perlu lagi karena Anda hanya akan terus mengingat pengalaman yang menyakitkan,” ungkapnya lirih. Sebaliknya, ia lebih memilih menceritakan kisah kekejaman Jepang secara lisan agar warga tidak melupakannya, tanpa perlu membangun kembali fisik bangunan tersebut.
Pada akhirnya, proyek ini menghadapi dilema moral dan finansial yang pelik. Rico berharap pihak terkait bisa melakukan restorasi tanpa warna merah yang menakutkan, sebagai simbol “moving on” tanpa melupakan sejarah. Namun, luka batin para “Nenek Merdeka” tampaknya membutuhkan lebih dari sekadar semen dan cat baru untuk bisa sembuh.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















