PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Komitmen kuat Tokyo. Jepang melanjutkan sanksi keras terhadap Rusia dan mempererat kerja sama taktis rekonstruksi bersama Ukraina. Dok: Istimewa.

Komitmen kuat Tokyo. Jepang melanjutkan sanksi keras terhadap Rusia dan mempererat kerja sama taktis rekonstruksi bersama Ukraina. Dok: Istimewa.

HANOI, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan peran aktif negaranya dalam membangun tatanan internasional yang baru. Melalui pidatonya, Takaichi memaparkan tahap selanjutnya dari inisiatif Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka (FOIP). Strategi ini sengaja dirancang untuk merespons pergerakan China yang kian asertif di kawasan tersebut.

Agenda ini sekaligus menandai sepuluh tahun inisiatif diplomatik Jepang yang berlangsung setelah pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Vietnam. Sebagai hasilnya, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama keamanan ekonomi. Kerja sama ini mencakup bantuan Jepang untuk pengadaan minyak saat krisis energi global melanda.

Evolusi FOIP: Fokus pada Resiliensi dan Aturan Bersama

Selanjutnya, Takaichi menguraikan bentuk evolusi inisiatif Indo-Pasifik di hadapan civitas akademika Universitas Nasional Vietnam. Selain memperkuat diplomasi, fokus utama Jepang kini beralih pada penguatan ketahanan rantai pasok. Oleh sebab itu, Tokyo mempromosikan pertumbuhan ekonomi melalui aturan bersama dan peningkatan kerja sama keamanan.

“Lingkungan saat ini sangat menantang bagi negara-negara kawasan untuk memperoleh ketangguhan,” ujar Takaichi. Beliau menekankan kesiapan Jepang untuk bekerja sama dengan Vietnam dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Tidak hanya itu, Jepang juga meluncurkan inisiatif “koridor digital” guna memajukan pembangunan kabel bawah laut dan satelit komunikasi.

Dukungan Energi: Paket Bantuan $10 Miliar untuk Asia

Mengenai isu energi, Jepang merealisasikan komitmennya untuk membantu negara-negara Asia menghadapi kelangkaan bahan bakar. Sebagai wujud nyata, pemerintah Jepang mendukung pengadaan minyak untuk Kompleks Nghi Son di Vietnam. Fasilitas besar ini melibatkan kemitraan antara Jepang, Vietnam, dan Kuwait.

Langkah tersebut sekaligus merealisasikan janji Jepang bulan lalu. Mereka menyediakan dukungan finansial sebesar $10 miliar bagi negara-negara Asia. Oleh karena itu, kerja sama ini menjadi sangat krusial bagi Jepang karena mereka mengimpor produk turunan minyak dari Asia Tenggara. Sebagai imbalannya, Jepang mengincar akses stabil ke cadangan mineral kritis Vietnam yang mencapai estimasi 3,5 juta ton pada tahun 2025.

Keamanan Maritim dan Penguatan ODA

Terkait isu Laut China Selatan, Takaichi memperluas cakupan Bantuan Pembangunan Resmi (ODA). Program ini bertujuan mendukung kapasitas penegakan hukum maritim negara-negara mitra. Maka dari itu, Tokyo terus mempererat hubungan dengan anggota ASEAN saat China mengintensifkan aktivitas militer di jalur pelayaran dunia.

Baca Juga :  Kemendag Dorong Ekspor Kosmetik Indonesia Lewat Penguatan Ekosistem Global

Di samping itu, Tokyo memajukan koordinasi keamanan melalui kerangka Official Security Assistance (OSA). Sebagai bagian dari strategi ini, Jepang meluncurkan program tersebut pada 2023 untuk menyediakan peralatan pertahanan bagi negara-negara sevisi. “Jepang akan memainkan peran yang lebih proaktif dalam membangun tatanan internasional berbasis aturan,” tegas Takaichi saat merujuk pada tantangan global akibat invasi Rusia hingga kebijakan unilateral Amerika Serikat.

Diplomasi Maraton Takaichi

Kunjungan ke Vietnam ini mengawali rangkaian perjalanan diplomatik Takaichi di Asia-Pasifik. Setelah menyelesaikan agenda di Hanoi, beliau segera terbang ke Australia pada hari Senin. Takaichi dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Anthony Albanese sebelum kembali ke Jepang pada Selasa mendatang.

Meskipun penuh tantangan, langkah berani Takaichi di Vietnam menunjukkan posisi baru Jepang. Kini, Tokyo tidak lagi hanya menjadi pengamat, melainkan arsitek utama keamanan ekonomi di Asia. Di tengah ketidakpastian tahun 2026, aliansi Tokyo dan Hanoi resmi menjadi benteng penting bagi stabilitas kawasan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama
AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa
Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang
Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan
Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak
AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa
DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia
Bank of Japan Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:59 WIB

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama

Jumat, 18 September 2026 - 13:30 WIB

AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa

Jumat, 18 September 2026 - 12:23 WIB

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 September 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 September 2026 - 10:12 WIB

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Berita Terbaru

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:20 WIB