MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Tuduhan serius Rusia mengenai serangan terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin menuai skeptisisme tingkat tinggi. Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk NATO, Matthew Whitaker, menyuarakan keraguannya pada Selasa (30/12/2025).
Dalam wawancara dengan Fox Business, Whitaker mempertanyakan kebenaran insiden tersebut. Ia mengaku ingin melihat bukti intelijen AS terlebih dahulu sebelum mempercayai klaim Moskow.
“Tidak jelas apakah itu benar-benar terjadi,” ujar Whitaker.
Menurutnya, insiden ini terasa janggal. Pasalnya, momen kejadiannya sangat tidak tepat, yakni saat Ukraina dan AS hampir mencapai kesepakatan damai.
“Tampaknya sedikit tidak etis (indelicate) untuk melakukan sesuatu yang dianggap sembrono saat kita sudah sedekat ini dengan kesepakatan damai,” tambahnya.
Klaim 91 Drone di Novgorod
Rusia sebelumnya melemparkan tuduhan berat pada hari Senin. Kremlin mengklaim Ukraina telah menyerang kediaman presiden di wilayah Novgorod menggunakan 91 drone serang jarak jauh.
Moskow bereaksi keras atas insiden yang dituduhkan tersebut. Akibatnya, mereka bersumpah akan membalas dan memperketat sikap negosiasi mereka dalam pembicaraan damai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, Ukraina menolak mentah-mentah tuduhan itu. Menteri Luar Negeri Ukraina menyatakan bahwa Rusia tidak memberikan bukti apa pun. “Karena memang tidak ada buktinya,” tegasnya.
Presiden Volodymyr Zelenskyy pun angkat bicara. Ia melabeli cerita serangan itu sebagai fabrikasi total. Tujuannya, menurut Zelenskyy, hanyalah untuk membenarkan serangan tambahan terhadap Ukraina dan menutupi penolakan Rusia untuk mengakhiri perang.
“Kebohongan khas Rusia,” pungkas Zelenskyy.
Trump “Sangat Marah”, Intelijen Masih Bungkam
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Putin memberitahunya tentang serangan itu melalui telepon. Trump mengaku merasa “sangat marah” mendengarnya. Namun, saat ditanya soal bukti, Trump bersikap hati-hati. “Kita akan cari tahu,” jawabnya singkat.
Sementara itu, Gedung Putih dan komunitas intelijen AS, termasuk CIA, memilih bungkam. Mereka menolak berkomentar lebih lanjut mengenai insiden yang dituduhkan tersebut.
Whitaker menegaskan prioritasnya saat ini. “Kami akan mengungkap intelijennya sampai ke akar-akarnya,” janjinya. Bagi Whitaker, hal terpenting adalah apa yang dikatakan oleh layanan intelijen AS dan sekutu tentang kebenaran serangan tersebut.
Kini, nasib perundingan damai bergantung pada verifikasi fakta ini. Jika terbukti rekayasa, ini bisa menjadi upaya sabotase diplomatik terbesar dalam konflik tersebut. Namun jika benar, eskalasi perang bisa mencapai titik didih baru yang berbahaya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters


















