Revolusi Attentive Computing: Saat Gadget Akhirnya Belajar

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lelah dibombardir notifikasi saat sedang fokus? Masa depan teknologi menjanjikan perangkat yang tahu kapan harus diam dan kapan boleh bicara. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lelah dibombardir notifikasi saat sedang fokus? Masa depan teknologi menjanjikan perangkat yang tahu kapan harus diam dan kapan boleh bicara. Dok: Istimewa.

REDMOND, POSNEWS.CO.ID – “Baterai Anda sudah terisi penuh!” seru sebuah laptop dengan suara sintetis yang antusias. Ironisnya, pengumuman itu justru memecah konsentrasi pemiliknya, Donald A. Norman. Kejadian ini lantas memicu pertanyaan menggelitik dari Roel Vertegaal, peneliti Queen’s University: “Konyol sekali, toilet umum saja bisa tahu saya ada di depannya, masa komputer saya sendiri tidak bisa?”

Kita hidup di era paradoks. Faktanya, manusia menghubungkan diri lewat tiga miliar telepon, komputer, hingga kulkas pintar demi kenyamanan. Namun, notifikasi, telepon, dan pesan instan yang tak kenal waktu justru sering menjebak kita. Akibatnya, perangkat-perangkat ini beroperasi layaknya orang egois yang tidak peduli apakah kita sedang sibuk atau bahkan ada di tempat.

Bahaya Fatal Hilang Fokus

Padahal, interupsi bukan sekadar masalah kenyamanan. Berbagai studi menunjukkan bahwa gangguan tak terduga menurunkan efisiensi kerja dan secara kumulatif meningkatkan rasa frustrasi. Bahkan, bagi profesi berisiko tinggi seperti pilot, tentara, atau dokter, sedetik saja hilang fokus bisa berakibat fatal.

“Jika kita bisa memberi komputer dan ponsel sedikit pemahaman tentang batas perhatian manusia, mereka akan tampak jauh lebih bijaksana dan sopan,” ujar Eric Horvitz dari Microsoft Research. Bersama peneliti lain dari MIT dan IBM, ia kini memelopori pengembangan sistem “komputasi atentif” (attentive computing). Tujuannya sederhana: mengubah gadget dari pengganggu egois menjadi rekan kerja yang pengertian.

Baca Juga :  Candu Batubara dan Janji Mahal Teknologi Penangkapan Karbon

Membaca Pikiran Pengguna

Tantangan utamanya terletak pada akurasi. Misalnya, riset James Fogarty dan Jennifer Lai menunjukkan bahwa rata-rata pekerja hanya benar-benar “tidak bisa diganggu” selama sepertiga waktu kerja mereka. Artinya, gadget yang berasumsi kita selalu luang sebenarnya hanya benar sekitar 65 persen dari waktu.

Oleh karena itu, agar berguna, sistem cerdas harus lebih akurat dari angka itu. Mereka harus mampu mendeteksi kapan otak penggunanya mencapai batas kognitif. Sebagai contoh, Volvo mulai menerapkan sistem ini di mobil barunya, sementara IBM memperkenalkan perangkat lunak komunikasi yang memiliki “indera kesibukan” dasar.

Prototipe Masa Depan: Bestcom

Sementara itu, di Redmond, Washington, Microsoft menguji coba prototipe bernama Bestcom/Enhanced Telephony. Sistem ini bekerja layaknya resepsionis pribadi super canggih. Saat ada panggilan masuk, Bestcom segera melakukan triangulasi data: apakah penelepon ada di buku telepon? Apakah pengguna baru saja menelepon orang itu?

Baca Juga :  Kebakaran Besar London 1666: Neraka Tiga Hari

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika panggilan datang dari keluarga atau atasan, telepon akan berdering. Sebaliknya, jika pengguna sedang rapat, sistem secara otomatis menawarkan penjadwalan ulang kepada penelepon dengan mencocokkan kalender kedua belah pihak. Eric Horvitz, yang menggunakan sistem ini, menyebut bahwa ribuan karyawan telah menguji cobanya.

Pisau Bermata Dua: Privasi

Meskipun terdengar menjanjikan, teknologi ini membawa risiko privasi yang serius. Pasalnya, sistem yang “pengertian” secara definisi adalah sistem yang “selalu mengawasi”. Agar berfungsi, ia harus tahu segalanya tentang kebiasaan kerja Anda.

Sayangnya, tidak semua karyawan nyaman jika mikrofon terus mengawasi mereka atau algoritma kantor mengakses kalender pribadinya. Lebih buruk lagi, muncul kekhawatiran bahwa manajer bisa salah mengartikan data. Manajer mungkin menganggap status “perhatian rendah” yang komputer deteksi sebagai tanda “bermalas-malasan”, sehingga membuka celah baru bagi penyalahgunaan wewenang di tempat kerja.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar
Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan
Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap
Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari
Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme
Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:23 WIB

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:50 WIB

Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:06 WIB

Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:49 WIB

Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme

Berita Terbaru