Menggeser Raja Batubara: Perlombaan Teknologi Hijau

Sabtu, 10 Januari 2026 - 06:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari cerobong surya raksasa hingga uap panas granit, inovator Australia berlomba menciptakan listrik hijau yang lebih murah dari

Ilustrasi, Dari cerobong surya raksasa hingga uap panas granit, inovator Australia berlomba menciptakan listrik hijau yang lebih murah dari "emas hitam". Dok: Istimewa.

CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Di benua Australia, sebuah perlombaan sengit sedang berlangsung. Tujuannya bukan medali emas, melainkan “cawan suci” energi: memproduksi listrik dengan harga yang mampu bersaing melawan pembangkit listrik tenaga batu bara, namun tanpa polusi mematikan.

Selama ini, batu bara duduk nyaman di takhta sebagai sumber listrik utama Australia. Harganya yang sangat murah—sekitar 4 sen per kilowatt-jam (kWh) jika mengabaikan biaya lingkungan—membuat energi terbarukan sulit bersaing. Namun, sejumlah teknologi baru kini membidik posisi tersebut, berambisi menjadi yang pertama menggulingkan dominasi fosil.

Angin: Pemimpin yang Meniru

Saat ini, teknologi angin memimpin barisan depan. Peter Bergin dari Australian Hydro menjelaskan bahwa penurunan biaya bukan karena satu penemuan besar, melainkan akumulasi perbaikan kecil selama bertahun-tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami memetik manfaat dari 30 tahun penelitian di Eropa,” ujar Bergin. Biaya produksi listrik tenaga angin kini turun menjadi seperlima dari harga 20 tahun lalu, mencapai sekitar 7 sen per kWh.

Baca Juga :  Tanpa Afrika, Dunia Tak Bisa Modern: Wang Yi Tutup Tur

Akan tetapi, ada kritik tajam. Meskipun Australian Hydro memiliki puluhan stasiun pemantauan, Australia dinilai “bukan di mana-mana” dalam hal inovasi mutakhir. Negeri Kanguru sebagian besar hanya mereplikasi desain Eropa alih-alih menciptakan terobosan sendiri.

Harta Karun di Bawah Tanah: Batu Panas Kering

Sementara itu, inovasi sesungguhnya mungkin bersembunyi jauh di bawah permukaan bumi. Di Australia Selatan, radiasi alami memanaskan batuan granit hingga 250 derajat Celcius.

Perusahaan Geoenergy mengajukan proposal berani: memompa air sedalam 3,5 kilometer ke dalam perut bumi. Air tersebut akan merambat melalui celah-celah granit panas dan kembali ke permukaan sebagai uap bertekanan tinggi untuk memutar turbin.

Dr. Prue Chopra, ahli geofisika di Australian National University, mencatat tantangan teknis seperti gas radon yang ikut terbawa. Namun, ia optimis. Sumber daya “batu panas kering” ini begitu besar hingga mampu memasok kebutuhan listrik seluruh negara selama ribuan tahun. Keunggulannya jelas: ia bisa beroperasi 24 jam, bebas dari masalah “hari tenang” yang menghantui kincir angin.

Menara Surya dan Kekuatan Ombak

Di permukaan, proposal lain tak kalah ambisius. EnviroPower merancang cerobong surya pertama Australia di dekat Mildura, Victoria. Skemanya melibatkan rumah kaca seluas 5 km² yang memanaskan udara untuk memutar turbin di menara raksasa.

Baca Juga :  Saudara Kandung Memiliki Kepribadian yang Bertolak Belakang?

Richard Davies, CEO EnviroPower, sangat yakin teknologi ini akan berhasil karena menggabungkan tiga prinsip rekayasa yang sudah teruji: cerobong asap, turbin, dan rumah kaca. Selain listrik, proyek ini menjanjikan pendapatan tambahan dari pariwisata dan agribisnis di sekitar menara.

Di sektor bahari, perusahaan Wavetech justru membuat kejutan besar. Dr. Tim Devine mengembangkan generator gelombang yang menggunakan permukaan melengkung untuk mendorong kolom air memutar turbin.

Klaim Wavetech sangat berani: di lokasi yang tepat, teknologi mereka bisa memproduksi listrik di bawah 4 sen per kWh. Jika terbukti, ini adalah game-changer yang bisa mengalahkan harga batu bara.

Realitas yang Mengecewakan

Meskipun keragaman inovasi ini luar biasa, dukungan tingkat nasional masih mengecewakan. Richard Hunter dari Asosiasi Ekogenerasi Australia (AEA) memberikan penilaian yang realistis namun pahit.

“Australia memiliki potensi besar untuk teknologi angin, matahari, dan ombak. Kita seharusnya berada di garis depan, tetapi kenyataannya kita tertinggal jauh di belakang,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakaran Hutan Hebat Terjang Spokane Washington
Polisi Selidiki Motif Penembakan di Restoran In-N-Out Idaho
Capital One Ungkap Alasan Penutupan Rekening Trump
Pejabat Board of Peace Temui Netanyahu Bahas Pelucutan
25 Negara Bagian Gugat Pemerintahan Trump Akibat Kebijakan Tarif
Trump Kritik Jaksa Jeanine Pirro Soal Kasus Kolam Lincoln
Trump Beri Iran Kesempatan Terakhir Jelang Perundingan
Demokrat Ungguli Republik Soal Ekonomi Jelang Pemilu

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 17:05 WIB

Kebakaran Hutan Hebat Terjang Spokane Washington

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Capital One Ungkap Alasan Penutupan Rekening Trump

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Pejabat Board of Peace Temui Netanyahu Bahas Pelucutan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:37 WIB

25 Negara Bagian Gugat Pemerintahan Trump Akibat Kebijakan Tarif

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:30 WIB

Trump Kritik Jaksa Jeanine Pirro Soal Kasus Kolam Lincoln

Berita Terbaru

Kondisi air Kali Bekasi berwarna hitam pekat dan diduga tercemar berdasarkan hasil pemantauan DLH Kota Bekasi. (Posnews/Pemkot Bekasi)

JABODETABEK

Air Kali Bekasi Hitam Pekat, DLH Ungkap Dugaan Pencemaran

Rabu, 5 Agu 2026 - 21:43 WIB

Kebakaran hutan akibat kekeringan ekstrem menerjang kota Spokane di Washington hingga memaksa evakuasi 65 ribu warga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kebakaran Hutan Hebat Terjang Spokane Washington

Rabu, 5 Agu 2026 - 17:05 WIB