TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya memecah kebisuan. Dalam pidato pertamanya sejak gelombang protes meletus 28 Desember lalu, ia bersumpah bahwa otoritas tidak akan mundur selangkah pun. Pernyataan keras ini menjadi sinyal lampu hijau bagi aparat keamanan untuk mengintensifkan tindakan represif di hari kedua pemadaman internet nasional.
Demonstrasi telah membakar kota-kota di seluruh negeri dalam beberapa hari terakhir. Faktanya, gerakan ini menjadi ancaman paling serius bagi otoritas rezim sejak protes 2022, terutama karena posisi pemerintah yang melemah pasca-perang tahun lalu.
Khamenei tanpa ragu melabeli para pengunjuk rasa sebagai “vandal” dan “penyabot”. Ia menuduh mereka bekerja untuk agenda asing.
“Mereka merusak jalanan sendiri demi menyenangkan presiden negara lain… karena dia bilang akan datang membantu mereka,” tuding Khamenei, merujuk langsung pada ancaman intervensi Donald Trump.
Trump: “Kami Akan Mulai Menembak Juga”
Perang urat saraf lintas benua kian memanas. Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyarankan bahwa Khamenei sedang bersiap melarikan diri karena situasi yang memburuk.
Lebih jauh, pada Jumat malam, Presiden AS itu mengeluarkan peringatan terbuka. “Lebih baik jangan mulai menembak karena kami akan mulai menembak juga,” ancam Trump kepada para pemimpin Iran.
Eropa mengambil pendekatan yang lebih diplomatis namun tegas. Pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris (E3) merilis pernyataan bersama. Mereka mendesak Iran menahan diri dan mengecam keras pembunuhan demonstran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Medan Perang Tanpa Sinyal
Di lapangan, situasi berubah menjadi medan tempur yang gelap gulita. Otoritas memutus akses internet total sejak Kamis malam. Akibatnya, arus informasi keluar menjadi sangat terbatas.
Laporan yang berhasil lolos melukiskan kekacauan. Aktivis HAM melaporkan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 2.270 orang ditahan. Saksi mata bernama Maryam (25) di Teheran menggambarkan kebrutalan aparat.
“Mereka membidik mata,” ungkapnya lewat pesan teks. “Polisi berseragam, milisi Basij, dan pasukan pembunuh berpakaian preman menabrakkan sepeda motor ke kerumunan.”
Kelompok HAM Hengaw juga melaporkan penembakan terhadap demonstran di Zahedan usai salat Jumat. Sementara itu, video dari hari Kamis memperlihatkan massa di Teheran membakar gedung penyiaran negara dan mengibarkan bendera singa dan matahari—simbol Iran pra-revolusi 1979.
Kembalinya Putra Mahkota
Kekosongan kepemimpinan oposisi kini mulai terisi. Reza Pahlavi, putra mendiang Shah yang diasingkan, kembali menyerukan demonstrasi. Ia menuduh Khamenei menggunakan pemadaman internet untuk “membunuh pahlawan muda ini”.
Seruan Pahlavi mendapat respons nyata. Video menunjukkan pengunjuk rasa meneriakkan dukungannya, bahkan di Mashhad, kota kelahiran Khamenei. Organisasinya mengklaim puluhan ribu petugas keamanan telah memberi sinyal ingin membelot.
“Negara ini milik kita!” seru Ali, mahasiswa 21 tahun di Teheran, menggambarkan bagaimana massa berhasil memukul mundur aparat yang melarikan diri dan meninggalkan kendaraan mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















