Trump Beri Ultimatum Greenland, Pilih Cara Mudah atau Keras

Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di depan eksekutif minyak, Trump tegaskan ambisinya mencaplok Greenland. Denmark peringatkan kiamat NATO jika AS menyerang sekutu sendiri. Dok: Istimewa.

Di depan eksekutif minyak, Trump tegaskan ambisinya mencaplok Greenland. Denmark peringatkan kiamat NATO jika AS menyerang sekutu sendiri. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Donald Trump tidak lagi berbasa-basi. Pada hari Jumat, 9 Januari, Presiden Amerika Serikat itu mengeluarkan ultimatum paling eksplisitnya terkait ambisi menguasai Greenland. Ia menegaskan bahwa kesepakatan akan terjadi, entah melalui “cara mudah” atau “cara keras”.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela pertemuan meja bundar dengan eksekutif minyak dan gas di Gedung Putih, Trump menunjukkan tekad bajanya.

“Saya ingin membuat kesepakatan dengan cara yang mudah, tetapi jika kita tidak melakukannya dengan cara mudah, kita akan melakukannya dengan cara keras,” ancam Trump. Selanjutnya, ia menambahkan kalimat yang membuat bergidik sekutu Eropanya: “Saya akan melakukan sesuatu pada Greenland, suka atau tidak suka.”

Uang Bukan Isu Utama

Ketika media menanyakan rumor bahwa Gedung Putih mempertimbangkan pembayaran tunai kepada penduduk Greenland sebagai pemanis, Trump menepisnya. “Saya belum bicara soal uang untuk Greenland,” kilahnya.

Pernyataan ini muncul sehari setelah pertemuan tingkat tinggi yang tegang. Media AS melaporkan bahwa Duta Besar Denmark untuk AS Jesper Moller Sorensen dan Kepala Perwakilan Greenland Jacob Isbosethsen telah bertemu dengan pejabat Gedung Putih pada hari Kamis.

Baca Juga :  Langkah Catur Tiongkok: Memanfaatkan Kebijakan Trump

Meskipun jalur diplomasi sedang berjalan, Washington tetap meletakkan opsi militer di atas meja. Bahkan, pada hari Selasa lalu, Gedung Putih secara resmi menyatakan bahwa “memanfaatkan militer AS” selalu menjadi opsi bagi Trump demi memenuhi tuntutannya atas pulau Arktik tersebut.

Denmark: “Kiamat” bagi NATO

Kopenhagen dan Nuuk (ibu kota Greenland) telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan menjual pulau tersebut. Sebagai respons atas eskalasi ini, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memberikan peringatan yang sangat serius mengenai konsekuensi tindakan militer AS.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika AS memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka segalanya berhenti,” tegas Frederiksen pada hari Senin. “Ini termasuk NATO dan dengan demikian keamanan yang telah terbangun sejak akhir Perang Dunia Kedua.”

Pernyataan Frederiksen menggarisbawahi ironi situasi ini: Denmark adalah anggota setia NATO dan Uni Eropa, namun kini justru terancam oleh pemimpin aliansi itu sendiri.

Implikasi dan Analisis Situasi

1. Krisis Eksistensial NATO Jika AS benar-benar menggunakan “cara keras” (militer) terhadap Greenland, ini akan menjadi lonceng kematian bagi NATO. Pasal 5 aliansi—serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua—akan menjadi tidak relevan jika penyerangnya adalah anggota terkuat aliansi itu sendiri. Akibatnya, struktur keamanan transatlantik yang telah menjaga Eropa selama 80 tahun bisa bubar seketika.

Baca Juga :  Serangan Siber Teheran: Peretas Iran Bobol Email Pribadi Direktur FBI Kash Patel

2. Perang Sumber Daya Arktik Konteks pertemuan Trump dengan eksekutif minyak dan gas sangatlah krusial. Hal ini mengonfirmasi bahwa motif utama aneksasi adalah penguasaan sumber daya alam. Pasalnya, Greenland kaya akan mineral langka dan potensi energi yang makin mudah diakses akibat pencairan es. Oleh karena itu, langkah AS ini bisa memicu perlombaan senjata baru di Kutub Utara, serta memaksa Rusia dan China untuk merespons secara agresif.

3. Preseden Aneksasi Paksa Di era modern, negara jarang membeli wilayah tanpa persetujuan kedua pihak. Akan tetapi, jika AS memaksakan kehendak “suka atau tidak suka”, ini akan menormalisasi aneksasi paksa. Bahayanya, negara besar lain bisa menggunakan hal ini sebagai justifikasi untuk melakukan hal serupa terhadap wilayah tetangga mereka yang lebih kecil atas nama “kepentingan nasional”.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas
Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:07 WIB

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB