Trump Batalkan Dialog, Iran Tahan 297 Perusuh

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

WASHINGTON/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang berbahaya pada hari Selasa (13/1). Presiden AS Donald Trump resmi membatalkan rencana pertemuan dengan pejabat Iran. Ia juga menyerukan para “patriot Iran” untuk terus melancarkan protes.

Berbicara kepada pers setibanya di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Trump menegaskan posisinya. Ia berjanji bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” bagi para demonstran penentang rezim Teheran. Pernyataan ini muncul sehari setelah pengumuman ancaman ekonomi serius. Trump mengancam tarif 25 persen bagi negara yang nekat berbisnis dengan Iran.

Gedung Putih tidak main-main. Trump bahkan menyatakan sedang menimbang opsi tindakan militer untuk menghukum Iran. Situasi kian genting. Departemen Luar Negeri AS mendesak warga Amerika segera meninggalkan Iran. Mereka menyarankan rute darat melalui Turki atau Armenia.

Iran Tahan Ratusan “Perusuh”

Di Teheran, narasi yang berbeda bergulir. Kepala Polisi Keamanan Publik Iran, Seyed Majid Feiz Jafari, angkat bicara. Ia mengonfirmasi penahanan 297 orang yang ia sebut sebagai “preman” terkait kerusuhan baru-baru ini.

Jafari berbicara dalam wawancara dengan kantor berita IRIB. Ia menuduh para tahanan berhubungan dengan organisasi afiliasi Israel dan AS untuk memicu kekacauan.

“Mereka merusak tempat-tempat religius, gedung pemerintah, properti publik, dan menjarah harta benda warga selama kerusuhan,” tegas Jafari.

Operasi penangkapan ini merupakan respons aparat terhadap gelombang protes sejak 28 Desember 2025. Pemicu utamanya adalah devaluasi tajam mata uang Rial dan inflasi yang meroket. Keluhan ekonomi pedagang pasar di Teheran menjadi sumbu awal. Protes cepat menyambar ke kota lain. Korban jiwa berjatuhan dari pihak keamanan maupun warga sipil.

Dunia Cemas, Diplomasi Buntu

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menyuarakan kekhawatiran mendalam. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyoroti peningkatan retorika militer di sekitar situasi Iran.

Baca Juga :  Jebakan Globalisasi: Siapa Pemenang & Pecundang Perdagangan Bebas?

“Sangat penting bagi semua negara anggota untuk mendorong diplomasi alih-alih retorika militer,” desak Dujarric dalam pengarahan harian.

Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, meminta tindakan Dewan Keamanan. Ia mendesak pengutukan terhadap AS karena menghasut kekerasan dan mengancam kekuatan militer.

Rusia pun turut angkat bicara. Moskow mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “campur tangan eksternal subversif” dalam politik internal Iran. Kremlin memperingatkan potensi “konsekuensi bencana” bagi keamanan Timur Tengah jika serangan AS terulang.

Di tengah kebuntuan ini, upaya mediasi masih berjalan di balik layar. Laporan media menyebutkan adanya kontak intensif baru-baru ini. Komunikasi terjadi antara Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Iran. Kontak juga dilaporkan terjadi antara Araghchi dengan utusan AS.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan
PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan
Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji
Prabowo Mengaku Tahu Aktor Demo Berbayar, Singgung Peserta Dibayar Rp200 Ribu
Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu
Kasus Firli Bahuri Mandek, IPW Desak Polda Metro Segera Beri Kepastian Hukum
Program SPPG Gegerkan Cilacap, Titik Diduga Fiktif di Tengah Hutan dan Kuburan
Donald Trump Sebut Iran Setujui Pengawasan Nuklir

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:31 WIB

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:24 WIB

PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:17 WIB

Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:28 WIB

Prabowo Mengaku Tahu Aktor Demo Berbayar, Singgung Peserta Dibayar Rp200 Ribu

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:13 WIB

Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu

Berita Terbaru

Lumpuhnya pertahanan di Laut Hitam. Ukraina meluncurkan serangan drone masif untuk mengisolasi jalur logistik militer Rusia di Crimea. Dok: (AP Photo/Efrem Lukatsky)

INTERNASIONAL

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan

Rabu, 24 Jun 2026 - 17:31 WIB

Ancaman nyata kepemimpinan Downing Street. Kemenangan Andy Burnham di daerah pemilihan Makerfield membuka jalan lebar untuk meluncurkan mosi penantangan terhadap PM Keir Starmer. Dok: (AP Photo/Kin Cheung)

INTERNASIONAL

PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan

Rabu, 24 Jun 2026 - 15:24 WIB

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji

Rabu, 24 Jun 2026 - 14:17 WIB

Misi penyeimbang di Teluk Arab. Menlu AS Marco Rubio menemui para pemimpin monarki Teluk untuk meredam kekhawatiran atas konsesi ekonomi Amerika Serikat kepada Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu

Rabu, 24 Jun 2026 - 13:13 WIB