China Masuk Gelanggang: Wang Yi Dukung Iran

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Otoritas yang dipertanyakan. Melalui kacamata Institusionalisme Liberal, keberadaan PBB merupakan kebutuhan fungsional yang kini menghadapi ujian besar dari persaingan kekuatan global. Dok: Istimewa.

Otoritas yang dipertanyakan. Melalui kacamata Institusionalisme Liberal, keberadaan PBB merupakan kebutuhan fungsional yang kini menghadapi ujian besar dari persaingan kekuatan global. Dok: Istimewa.

BEIJING/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – China akhirnya turun tangan di tengah memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyerukan perdamaian kepada semua pihak yang terlibat dalam situasi Iran pada hari Kamis (15/1).

Wang Yi menyampaikan pernyataan ini dalam percakapan telepon strategis dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi. Wang Yi juga menjabat sebagai anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China. Ia menegaskan bahwa Beijing selalu berpegang teguh pada tujuan Piagam PBB dan hukum internasional.

Namun, Wang menyelipkan pesan terkuat dalam kritiknya terhadap unilateralisme.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“China menentang penggunaan atau ancaman kekuatan dalam hubungan internasional, pemaksaan kehendak satu pihak kepada pihak lain, dan kembalinya ke ‘hukum rimba’,” tegas Wang.

Pengamat membaca istilah “hukum rimba” ini sebagai sindiran tajam. Kritik ini menyasar ancaman intervensi militer dan sanksi ekonomi Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dukungan untuk Stabilitas Nasional

Wang Yi menyatakan keyakinannya terhadap persatuan pemerintah dan rakyat Iran. Ia yakin mereka mampu mengatasi kesulitan saat ini. Ia menegaskan dukungan China terhadap upaya Iran menjaga stabilitas nasional serta melindungi hak mereka.

Baca Juga :  Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

“China bersedia memainkan peran konstruktif dalam proses ini,” tambahnya. Pernyataan ini menandakan kesiapan Beijing untuk menjadi penyeimbang diplomatik di kawasan.

Di ujung telepon yang lain, Menlu Iran Abbas Araghchi memberikan pengarahan mengenai situasi terkini. Ia menekankan bahwa “kekuatan eksternal” telah menghasut kerusuhan baru-baru ini. Araghchi juga mengklaim bahwa stabilitas kini telah pulih.

“Iran siap menanggapi campur tangan eksternal apa pun. Namun, kami tetap membuka pintu untuk dialog,” ujar Araghchi. Ia juga secara spesifik berharap China dapat memainkan peran lebih besar dalam mempromosikan perdamaian regional.

Medan Baru Rivalitas AS-China

Panggilan telepon ini bukan sekadar pertukaran kabar diplomatik biasa. Ini adalah manuver strategis dalam papan catur kompetisi kekuatan besar (Great Power Competition) antara Amerika Serikat dan China.

1. Pertarungan Narasi Ketertiban Dunia Wang Yi membongkar narasi Amerika Serikat saat menolak “hukum rimba”. AS sering menggaungkan “tatanan berbasis aturan” (rules-based order), yang sering kali berarti aturan buatan Barat. Sebaliknya, China menawarkan narasi tandingan: tatanan berdasarkan hukum internasional dan non-intervensi. China memosisikan dirinya sebagai pelindung kedaulatan negara-negara berkembang dari “agresi” Barat.

Baca Juga :  Rusia-China Pererat Koordinasi di Tengah Ancaman Remiliterisasi

2. Timur Tengah sebagai Garis Depan Baru Secara historis, Timur Tengah adalah halaman belakang keamanan Amerika Serikat. Namun, China kini makin agresif masuk. Mereka tidak datang dengan kapal induk, melainkan dengan diplomasi dan ekonomi. Beijing sukses memediasi pemulihan hubungan Saudi-Iran beberapa tahun lalu. Kini, mereka memosisikan diri sebagai “kakak pelindung” bagi Iran saat Washington mengisolasi Teheran.

3. Pragmatisme vs Idealisme Bagi AS, Iran adalah masalah ideologis dan keamanan yang harus mereka selesaikan, bahkan dengan opsi militer. Bagi China, Iran adalah mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road dan penyedia energi vital. China mendukung Iran untuk mengamankan pasokan energinya. Beijing juga mengirim pesan kepada negara-negara Global South lainnya: Kami adalah mitra yang tidak akan meninggalkan kalian saat Barat menjatuhkan sanksi.

Langkah China ini memperumit kalkulasi militer AS. Menyerang Iran kini berisiko memicu perang regional. Selain itu, aksi tersebut dapat merusak hubungan dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Los Angeles Dodgers Amankan Tiket Postseason MLB
Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk
Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa
Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 15:24 WIB

Los Angeles Dodgers Amankan Tiket Postseason MLB

Selasa, 15 September 2026 - 07:24 WIB

Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk

Selasa, 15 September 2026 - 06:19 WIB

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Berita Terbaru

Blizzard mengumumkan gim baru StarCraft bergenre open world shooter garapan Dan Hay pada BlizzCon 2026 dengan target rilis tahun 2030. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Blizzard Resmi Umumkan Game Baru StarCraft Open World

Rabu, 16 Sep 2026 - 09:30 WIB

AMD meluncurkan CPU Ryzen 5 5500F 6-core AM4 seharga $99. Simak spesifikasi lengkap, dukungan DDR4, dan keunggulan rakit PC hemat di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

AMD Resmi Rilis CPU Ryzen 5 5500F Berbasis AM4

Rabu, 16 Sep 2026 - 08:21 WIB