Rusia-China Pererat Koordinasi di Tengah Ancaman Remiliterisasi

Kamis, 5 Februari 2026 - 15:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Teror di tanah pengasingan. Otoritas intelijen Barat membongkar peningkatan kampanye pembunuhan tertarget oleh Rusia yang menggunakan tenaga bayaran untuk membungkam lawan politik dan pendukung Ukraina di seluruh Eropa. Dok: Istimewa.

Teror di tanah pengasingan. Otoritas intelijen Barat membongkar peningkatan kampanye pembunuhan tertarget oleh Rusia yang menggunakan tenaga bayaran untuk membungkam lawan politik dan pendukung Ukraina di seluruh Eropa. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Rusia dan Tiongkok kembali mempertegas posisi mereka sebagai pilar stabilitas internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan pada Rabu (4/2/2026) bahwa koordinasi kebijakan luar negeri kedua negara berfungsi sebagai faktor penyeimbang yang krusial bagi urusan global.

Zakharova menyampaikan hal tersebut sebagai respon atas pertanyaan dari kantor berita Xinhua dalam pengarahan pers rutin. Menurutnya, Moskow dan Beijing secara konsisten memperkuat koordinasi strategis mereka sesuai dengan panduan para pemimpin kedua negara. Hal ini merupakan komponen kunci dalam hubungan bilateral yang semakin solid di tengah gejolak politik dunia.

Pertemuan Virtual Putin dan Xi Jinping

Sebagai bukti nyata dari penguatan hubungan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan virtual dengan Presiden China Xi Jinping pada sore hari di tanggal 4 Februari. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di Balai Besar Rakyat, Beijing, guna menyelaraskan visi strategis kedua raksasa Eurasia tersebut.

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas berbagai isu sensitif serta langkah-langkah untuk memperdalam kerja sama praktis. Selain itu, mereka sepakat untuk terus berdiri bersama dalam menghadapi tekanan eksternal yang mengancam kedaulatan masing-masing negara. Sinergi ini pun dianggap mampu meredam dominasi sepihak yang seringkali memicu instabilitas regional.

Peringatan Keras terhadap Remiliterisasi Jepang

Namun, di tengah penguatan aliansi ini, Rusia memberikan perhatian serius terhadap perkembangan militer di Asia-Pasifik. Zakharova menegaskan kembali pernyataan Rusia bahwa Jepang saat ini sedang bergerak menuju arah remiliterisasi yang membahayakan.

Oleh karena itu, Rusia akan terus memantau situasi di kawasan tersebut dengan sangat ketat. Zakharova menyatakan bahwa Moskow memiliki hak untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna mencegah kerusakan pada kepentingan nasional dan keamanan Rusia di Asia-Pasifik. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Rusia tidak akan tinggal diam terhadap peningkatan kapabilitas militer Tokyo yang dianggap provokatif.

Baca Juga :  Kantor Ormas Madas di Jalan Darmo Surabaya Disegel Polisi, Dugaan Kasus Mafia Tanah

Implikasi Internasional: Analisis Geopolitik

Sinergi antara Rusia dan Tiongkok beserta ketegangan dengan Jepang membawa dampak luas bagi stabilitas dunia:

  1. Deterensi Terhadap Aliansi Barat: Penguatan koordinasi Moskow-Beijing memberikan pesan jelas kepada Amerika Serikat dan sekutunya bahwa ada kekuatan penyeimbang yang siap menantang dominasi mereka di Asia.
  2. Pergeseran Kekuatan di Asia-Pasifik: Ancaman Rusia terhadap Jepang menandakan potensi eskalasi di perairan strategis. Hal ini kemungkinan besar akan memicu perlombaan senjata baru jika Jepang terus meningkatkan anggaran pertahanannya dengan dukungan AS.
  3. Solidaritas Multipolar: Pertemuan rutin dan koordinasi luar negeri yang konsisten membuktikan bahwa poros Rusia-China kini menjadi pusat dari dunia multipolar, yang menarik negara-negara lain untuk mencari alternatif di luar pengaruh tradisional Barat.
  4. Risiko Konflik Terbuka: Dengan Rusia yang mencadangkan “hak untuk mengambil tindakan”, risiko gesekan militer di perbatasan laut utara Jepang menjadi semakin nyata, yang dapat mengganggu jalur perdagangan internasional.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin
Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy
Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7
Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang
Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:51 WIB

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:45 WIB

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:48 WIB

Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:37 WIB

Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:10 WIB

Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:51 WIB

Peringatan keamanan di Pasifik. Laporan terbaru Lowy Institute memperingatkan lompatan ancaman militer Tiongkok terhadap Australia lewat taktik siber dan potensi pangkalan militer baru. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:45 WIB