LONDON, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah kotak berisi barisan angka 5 yang identik. Di tengah lautan angka itu, tersembunyi satu huruf ‘S’. Bagi orang biasa, menemukannya butuh waktu dan mata yang jeli.
Namun, bagi seorang grapheme-colour synaesthete (orang yang melihat huruf/angka dalam warna), tugas ini selesai dalam sepersekian detik. Mengapa? Karena bagi mereka, angka 5 mungkin berwarna merah menyala, sementara huruf S berwarna hijau. Huruf itu tidak bersembunyi; ia “berteriak” dengan warna berbeda.
Ini adalah gambaran sederhana dari Sinestesia. Berasal dari bahasa Yunani syn (bersama) dan aesthesis (sensasi), fenomena ini secara harfiah berarti “indra yang menyatu”.
Pintu Rasa Daging Asap
Sinestesia bukan penyakit, melainkan fenomena neurologis di mana stimulasi satu indra memicu pengalaman di indra lain secara otomatis.
Bentuknya bisa sangat beragam. Bagi sebagian orang, kata “pintu” mungkin terasa seperti daging asap di lidah. Bagi yang lain, aroma tertentu memicu kilatan warna. Bahkan, huruf bisa punya kepribadian—huruf A mungkin terasa ceria, sementara B pemalu.
Ada juga jenis yang lebih intens, di mana seseorang bisa merasakan sakit fisik di dada saat melihat karakter film tertembak.
“Setidaknya ada 60 kombinasi indra berbeda yang telah dilaporkan,” catat para peneliti. Meskipun hanya mempengaruhi kurang dari 5% populasi, selebritas jenius seperti Lady Gaga dan Pharrell Williams mengaku memilikinya, sering kali mengaitkannya dengan kreativitas tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Disertasi Jerman hingga Pemindaian Otak
Fenomena ini pertama kali didokumentasikan pada awal abad ke-19 oleh dokter Jerman, Georg Sachs. Namun, dunia sains baru benar-benar mempercayainya pada pertengahan 1990-an.
Profesor Simon Baron-Cohen membuktikan keberadaannya melalui fMRI. Ia memindai otak enam orang sinesteta yang matanya ditutup. Hasilnya mengejutkan: bagian otak yang memproses penglihatan (visual) menjadi aktif saat mereka mendengarkan suara. Otak mereka benar-benar “melihat” suara.
Mainan Magnet dan Peluang Belajar
Selama ini, ilmuwan mengira sinestesia murni faktor keturunan. Namun, studi tahun 2013 oleh Dr. Witthoft dan Dr. Winawer mengubah pandangan itu.
Mereka menemukan sekelompok sinesteta yang tidak saling kenal namun memiliki asosiasi warna-huruf yang sangat mirip. Ternyata, 10 dari 11 peserta memiliki set magnet mainan Fisher-Price yang sama saat kecil. Warna huruf pada mainan itu membekas dan membentuk jalur saraf mereka.
Temuan ini memicu pertanyaan revolusioner: Bisakah sinestesia diajarkan?
Melawan Pikun dengan Warna
Jawabannya: Sangat mungkin, dan manfaatnya besar. Dr. Clare Jonas dari University of East London menyarankan bahwa mengajarkan orang untuk membuat asosiasi warna-huruf dapat meningkatkan fungsi kognitif dan memori.
“Salah satu kemungkinannya adalah menjaga dari penurunan kognitif pada orang tua,” jelas Jonas. Teknik mnemonik berbasis sinestesia bisa membantu lansia mengingat daftar belanja atau nama cucu dengan lebih baik.
Peneliti di Belanda bahkan sudah mengembangkan plug-in peramban web yang mewarnai huruf tertentu untuk melatih otak. Jika kita bisa meniru cara kerja otak 4,4% populasi istimewa ini, kita mungkin menemukan kunci baru untuk membuka potensi memori manusia di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















