Teror di Tanah Inggris: Scotland Yard Buru Proksi Kriminal

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Jejak operasi intelijen asing yang menggunakan penjahat bayaran mulai tercium di Inggris. Komando kontra-terorisme Scotland Yard kini mengambil alih penyelidikan atas serangkaian serangan “sangat tertarget” terhadap dua disiden Pakistan yang hidup di pengasingan.

Polisi menduga serangan ini memiliki ciri khas operasi negara asing yang menggunakan “proksi kriminal” untuk membungkam kritik mereka di luar negeri.

Target utamanya adalah pendukung vokal mantan Perdana Menteri Pakistan yang kini dipenjara, Imran Khan. Salah satu korban, Mirza Shahzad Akbar (48), mantan anggota kabinet Khan, menceritakan kisah horor yang menimpa keluarganya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Malam Natal Berdarah

Serangan bermula pada Malam Natal. Di Chesham, Buckinghamshire, dua pria mendobrak rumah seorang disiden dan melakukan vandalisme.

Pada saat yang sama, di Cambridgeshire, teror menghampiri Akbar. “Saya membuka pintu dan seorang pria bertopeng mulai meninju saya setelah bertanya ‘apakah kamu Shahzad Akbar?’,” ungkapnya kepada The Guardian.

“Saya pasti mendapat 25-30 pukulan di wajah. Pria itu tampak terlatih… gerakan kakinya seperti petinju, hanya mengincar wajah saya.”

Baca Juga :  Kampung Ambon Kembali Disisir Polisi, 7 Orang Diamankan dan Sejumlah Senjata Disita

Akbar berhasil mendorong penyerang keluar, namun trauma mendalam tertinggal. “Anak-anak dan istri saya… mereka diteror dan menjerit,” tambahnya. Korban mencatat bahwa penyerangnya tampak berkulit terang atau putih, menguatkan dugaan penggunaan preman lokal bayaran.

Eskalasi: Senjata Api dan Zat Kimia

Atas saran polisi, Akbar dan keluarganya bersembunyi. Namun, teror berlanjut saat ia kembali sebentar ke rumahnya pada 31 Desember.

Hanya enam menit setelah Akbar pergi, CCTV merekam dua pria bertopeng. “Satu orang dengan senjata api menembak lurus ke jendela depan; tiga tembakan meletus dan menembus jendela,” kata Akbar. Pria lainnya mencoba membakar rumah dengan melempar kain berapi, namun gagal karena tetangga memergoki mereka.

Serangan ketiga terjadi pada 10 Januari. Pelaku menyemprotkan bahan kimia ke dinding luar, memecahkan jendela dengan batang besi, dan meninggalkan grafiti rasis.

“Mengejek” Inggris

Meskipun polisi telah menangkap satu pria berusia 34 tahun di Essex terkait insiden penembakan, Akbar merasa para dalang di balik serangan ini sedang “mengejek” Inggris.

Baca Juga :  Siswa SMA di Kutai Kartanegara Nekat Tikam Teman di Kelas, Diduga Korban Bullying

“Mereka mencoba menakut-nakuti dan mengintimidasi saya, dan saya cukup takut,” aku Akbar, yang juga pernah menjadi korban serangan air keras yang tak terpecahkan pada 2023. “Saya takut akan nyawa saya dan nyawa keluarga saya.”

Pejabat kontra-teror memperingatkan peningkatan serangan di Inggris oleh proksi kriminal yang bertindak atas nama negara-negara seperti Rusia, Iran, dan China. Namun, sumber keamanan menyebut bahwa Pakistan sebelumnya tidak pernah masuk dalam radar investigasi semacam ini, apalagi yang melibatkan senjata api.

Kritik untuk Kemlu Inggris

Sikap diam pemerintah Inggris menuai kritik tajam. Kelompok hak asasi manusia Reprieve, yang mendukung Akbar, menyebut kebisuan Kementerian Luar Negeri (Foreign Office) sebagai hal yang “memekakkan telinga”.

“Pemerintah harus secara terbuka mengutuk serangan mengerikan ini dan memperjelas bahwa tidak ada ruang untuk intimidasi kekerasan di tanah Inggris,” tegas juru bicara Reprieve.

Hingga kini, detektif Scotland Yard masih membuka segala kemungkinan mengenai motif di balik tiga insiden tersebut, sementara Akbar tetap hidup dalam persembunyian di negara yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polri Janji Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden, Tiga Tersangka Ditahan
Diburu Polisi, Terduga Bandar Narkoba Kampung Bahari Ditangkap
Hampir Lima Tahun Menanti, 7.871 Korban NET89 Berharap Uang Kembali
PM Kanada Dan Presiden AS Bahas Kesepakatan Perdagangan
Polisi Israel Bebaskan Tersangka Suap Pemilih, Upaya Likud
Politisi Jerman Kecam Kerusuhan Demonstrasi Pemuda
UEA Berharap Mediasi Qatar Berhasil Mencegah Konflik
167 Warga Sipil Berhasil Dievakuasi dari Oleshky Kherson

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:26 WIB

Polri Janji Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden, Tiga Tersangka Ditahan

Selasa, 3 November 2026 - 19:06 WIB

Diburu Polisi, Terduga Bandar Narkoba Kampung Bahari Ditangkap

Selasa, 3 November 2026 - 18:47 WIB

Hampir Lima Tahun Menanti, 7.871 Korban NET89 Berharap Uang Kembali

Selasa, 3 November 2026 - 14:21 WIB

PM Kanada Dan Presiden AS Bahas Kesepakatan Perdagangan

Selasa, 3 November 2026 - 13:11 WIB

Polisi Israel Bebaskan Tersangka Suap Pemilih, Upaya Likud

Berita Terbaru

Aparat gabungan disiagakan untuk mengamankan aksi penolakan konser Andrea Bocelli di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta.

JABODETABEK

Konser Andrea Bocelli Picu Polemik, Ribuan Aparat Amankan JIExpo

Selasa, 3 Nov 2026 - 21:40 WIB