POSNEWS.CO.ID, BAGHDAD — Pemerintah Irak menghadapi dua tenggat krusial pada akhir September 2026 mendatang. Pasukan militer Amerika Serikat bersiap menyelesaikan penarikan penuh dari wilayah Irak. Pada saat bersamaan, pemerintah mendesak kelompok milisi bersenjata untuk melucuti senjata mereka.
Penarikan Pasukan AS dan Pemindahan Alutsista
Pejabat militer Amerika Serikat mengonfirmasi proses penarikan pasukan berjalan sesuai jadwal. Ratusan prajurit yang tersisa di wilayah Kurdistan Irak akan meninggalkan lokasi sebelum 30 September.
Pihak militer mengalihkan sebagian besar personel menuju Yordania serta negara mitra kawasan. Selain itu, militer AS menarik berbagai peralatan tempur dan sistem pertahanan udara. Langkah penarikan ini bertujuan mengurangi risiko ancaman serangan balasan dari faksi bersenjata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penolakan Pelucutan Senjata Faksi Milisi Pro-Iran
Pemerintah Irak mengaitkan penarikan pasukan AS dengan perintah penyerahan senjata faksi milisi. Namun, kelompok milisi paling berpengaruh seperti Kataib Hezbollah menolak tegas seruan tersebut.
Faksi bersenjata justru mengajukan syarat berat kepada pemerintah pusat di Baghdad. Mereka menuntut pengambilalihan pasukan Peshmerga Kurdistan serta pengusiran kelompok pembangkang Iran. Oleh karena itu, negosiasi pelucutan senjata diprediksi tidak akan membuahkan hasil dalam waktu dekat.
Ancaman Keamanan Kawasan dan Solusi Pertahanan
Penarikan pasukan AS berpotensi membuat wilayah Kurdistan Irak lebih rentan terhadap serangan. Kelompok milisi dan faksi regional tercatat kerap melancarkan pertempuran lintas batas.
Sementara itu, pemerintah Irak berupaya mengintegrasikan persenjataan berat ke dalam struktur militer resmi. Pemerintah juga mempercepat pengadaan sistem pertahanan udara baru dari Turki, Korea Selatan, dan AS. Dengan demikian, Baghdad berusaha menjaga kedaulatan wilayah udara nasional secara mandiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













