BEIJING/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara London dan Beijing memasuki babak baru yang hangat. Kementerian Luar Negeri China mengumumkan pada hari Selasa (27/1) perihal kunjungan resmi Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Kunjungan ini akan berlangsung mulai 28 hingga 31 Januari.
Starmer melakukan lawatan ini sebagai respons atas undangan Perdana Menteri China Li Qiang. Momen ini sangat signifikan. Kunjungan ini mencatatkan sejarah sebagai lawatan pertama seorang Perdana Menteri Inggris ke China dalam delapan tahun terakhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyoroti tren positif hubungan kedua negara. Sejak menjabat, pemerintahan Partai Buruh Inggris secara jelas menyatakan keinginan mereka. Mereka ingin mengembangkan hubungan yang “konsisten, abadi, dan strategis” dengan China.
“China ingin menggunakan kunjungan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan rasa saling percaya politik dengan Inggris,” ujar Guo dalam konferensi pers rutin. “Kami juga berharap dapat memperdalam kerja sama praktis dan bersama-sama membuka babak baru.”
Agenda Padat: Dari Beijing ke Shanghai
Starmer tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa misi untuk memperkuat dialog antara dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB tersebut.
Selama kunjungan empat hari ini, Starmer memiliki agenda tingkat tinggi. Jadwalnya mencakup pertemuan langsung dengan Presiden China Xi Jinping. Selain itu, ia akan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Legislatif Tertinggi Zhao Leji.
Starmer tidak hanya akan mengunjungi ibu kota politik Beijing. Ia juga akan terbang ke Shanghai, pusat keuangan dan bisnis China, untuk memperluas jejaring ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bawa “Pasukan” Bisnis: 50 Eksekutif Top
Aspek ekonomi menjadi tulang punggung kunjungan ini. Kementerian Perdagangan China mengungkapkan data yang mengesankan. Perdagangan barang bilateral pada tahun 2025 mencapai $103,7 miliar. Sementara itu, angka perdagangan jasa diprediksi melebihi $30 miliar.
Guna menjaga momentum ini, laporan menyebutkan Starmer membawa serta eksekutif dari 50 lebih perusahaan dan institusi besar Inggris. Mereka berasal dari sektor-sektor vital seperti keuangan, farmasi, manufaktur, budaya, dan kreativitas.
“Ini sepenuhnya menunjukkan keinginan kuat Inggris untuk memperdalam hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral,” ungkap juru bicara Kementerian Perdagangan.
Melawan Proteksionisme dengan Energi Hijau
Di tengah gelombang proteksionisme perdagangan global yang meningkat, China dan Inggris memilih jalur berbeda. Kedua negara berkomitmen menjunjung tinggi perdagangan bebas dan sistem perdagangan multilateral.
Selama kunjungan, Kementerian Perdagangan berencana menandatangani dokumen hasil kerja sama perdagangan dan investasi. Fokus utamanya adalah menciptakan titik pertumbuhan baru di sektor masa depan. Sektor ini mencakup energi hijau, layanan kesehatan, industri kreatif, dan manufaktur cerdas (intelligent manufacturing).
Beijing menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan otoritas Inggris. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan bisnis yang adil, transparan, dan berbasis hukum bagi perusahaan kedua belah pihak.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency




















