TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengeluarkan peringatan keras mengenai masa depan hubungan Tokyo dan Washington. Pada hari Senin (29/1), Takaichi menyatakan bahwa aliansi Jepang-AS akan runtuh jika Jepang memilih diam saat militer AS diserang selama konflik di Taiwan.
Pernyataan ini muncul dalam sebuah program berita televisi TV Asahi. Takaichi merinci respons Jepang terhadap skenario hipotetis krisis Taiwan.
“Jika militer AS, yang bertindak bersama dengan Jepang, mendapat serangan dan Jepang tidak melakukan apa-apa dan lari pulang, aliansi Jepang-AS akan runtuh,” tegasnya.
Geser Fokus ke Evakuasi Warga
Komentar ini tampaknya merupakan upaya Takaichi untuk melunakkan retorika sebelumnya. Pada bulan November, ia sempat mengisyaratkan bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer langsung selama potensi serangan terhadap Taiwan. Komentar tersebut memicu kemarahan besar dari Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sendiri.
Kini, menjelang pemilihan umum dini pada Februari, Takaichi memperjelas posisinya. Ia menunjuk pada skenario spesifik: operasi evakuasi.
Dalam situasi konflik, Jepang dan Amerika Serikat mungkin akan melakukan operasi gabungan untuk menyelamatkan warga negara mereka.
“Jika sesuatu yang serius terjadi di sana, kami harus pergi untuk menyelamatkan warga negara Jepang dan Amerika di Taiwan,” jelas Perdana Menteri. “Dalam situasi itu, mungkin ada kasus di mana Jepang dan AS mengambil tindakan bersama.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun demikian, ia menambahkan batasan hukum yang ketat. “Kami akan merespons secara ketat dalam batas-batas hukum, membuat penilaian komprehensif berdasarkan keadaan,” tambahnya.
Balasan Beijing: Tanah Jarang dan Peringatan Perjalanan
Dampak dari komentar Takaichi sebelumnya masih terasa panas. Sebagai buntut dari pernyataan bulan November, China telah mengambil langkah pembalasan ekonomi dan diplomatik.
Beijing dilaporkan mulai mencekik ekspor produk tanah jarang (rare-earth) ke Jepang. Mineral ini sangat krusial untuk pembuatan segala hal, mulai dari mobil listrik hingga rudal canggih.
Selain itu, China juga membatasi arus pariwisata. Mereka menyarankan warga negaranya untuk tidak bepergian ke Jepang. Alasannya adalah klaim memburuknya keamanan publik dan tindakan kriminal terhadap warga negara China di negara tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: AFP





















