Bisakah Cacing Membantu Mengatasi Alergi Manusia?

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar hama. Eksperimen berani John Turton mengungkap potensi tersembunyi cacing parasit dalam meredam alergi kronis melalui manipulasi sistem imun manusia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar hama. Eksperimen berani John Turton mengungkap potensi tersembunyi cacing parasit dalam meredam alergi kronis melalui manipulasi sistem imun manusia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kehadiran cacing parasit seperti cacing tambang, cacing cambuk, dan cacing kremi biasanya memicu rasa ngeri. Namun, bagi John Turton, makhluk ini adalah kunci kesembuhan. Pada pertengahan 1970-an, peneliti asal Inggris ini sengaja menginfeksi dirinya sendiri dengan cacing tambang. Ia melakukan tindakan ekstrem ini untuk meredakan penyakit hay fever kronis yang ia derita.

Hasilnya mengejutkan. Selama dua musim panas saat parasit tersebut menetap di tubuhnya, gejala alergi Turton berkurang drastis. Eksperimen mandiri ini menjadi dasar bagi para peneliti modern untuk memahami kekuatan penyembuhan dari makhluk yang sering kita anggap sebagai pengganggu.

Kontradiksi Temuan: Antara Pemicu dan Penyembuh

Upaya untuk memahami kekuatan parasit ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1913. Saat itu, Dr. W. Herrick dari Columbia University menemukan hubungan yang berbeda. Pekerja laboratorium yang terpapar cacing gelang Ascaris justru mengalami pembengkakan jari dan asma yang parah.

Sejak tahun 1970-an, para peneliti mencoba memecahkan teka-teki dari temuan yang saling bertentangan ini. Tujuannya adalah memanfaatkan kekuatan parasit untuk membebaskan orang dari alergi tanpa memperburuk kondisi kesehatan mereka. Helminth memang bertanggung jawab atas banyak penyakit mengerikan, namun pemahaman yang lebih jelas mengenai interaksinya dengan tubuh manusia menunjukkan potensi manfaat yang besar.

Studi Global: Hasil yang Beragam

Karena risiko yang tinggi, tidak ada peneliti yang berani mengikuti jejak Turton untuk menginfeksi diri sendiri. Sebagai gantinya, para ilmuwan mengamati populasi di negara-negara yang sudah terinfeksi secara alami. Fokus utama penelitian ini meliputi tiga kondisi: asma, eksim, dan hay fever.

Di Taiwan, sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi cacing kremi lebih jarang menderita hay fever. Sebaliknya, penelitian di Uganda menemukan bahwa bayi dari ibu yang terinfeksi helminth saat hamil memiliki risiko eksim yang lebih rendah. Namun, hasil di Ethiopia menunjukkan hal berbeda; anak-anak dengan cacing cambuk justru lebih rentan terkena eksim.

Dalam hal asma, cacing tambang terbukti menurunkan tingkat keparahan asma pada sekelompok warga Ethiopia. Manfaat serupa juga terlihat pada penderita asma di Brasil yang terinfeksi Schistosoma mansoni.

Rahasia di Balik Sistem Imun Manusia

Kunci utama hubungan antara alergi dan parasit terletak pada sistem imun manusia. Alergi terjadi karena respons imun yang terlalu aktif. Di sisi lain, helminth telah mengembangkan strategi untuk meredam respons imun kita agar mereka bisa bertahan hidup. Parasit ini telah berevolusi bersama manusia selama ribuan tahun.

Baca Juga :  Mengapa Negara Beriklim Dingin Cenderung Lebih Kaya?

Pada orang tanpa alergi, zat asing yang masuk ke tubuh akan memicu pelepasan sitokin sebagai alarm. Setelah itu, molekul lain akan keluar untuk mencegah respons imun bereaksi berlebihan. Salah satu molekul penjaga ini adalah interleukin-10.

Penderita alergi cenderung memiliki kadar interleukin-10 yang rendah, sehingga respons imun mereka sering kali tidak terkendali. Sebaliknya, orang yang terinfeksi helminth memiliki kadar molekul ini di atas rata-rata. Penelitian menunjukkan bahwa cacing melepaskan zat kimia tertentu yang memicu tubuh inang untuk memproduksi lebih banyak interleukin-10, menciptakan keseimbangan yang mencegah terjadinya reaksi alergi parah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru