Bukti Baru Pembunuhan Navalny: Lima Negara Ungkap Penggunaan Racun Katak Panah oleh Rusia

Minggu, 15 Februari 2026 - 11:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Skandal senjata kimia. Investigasi gabungan lima negara Eropa menemukan bukti bahwa tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny tewas akibat racun katak panah eksotis yang hanya bisa dikerahkan oleh negara. Dok: Istimewa.

Skandal senjata kimia. Investigasi gabungan lima negara Eropa menemukan bukti bahwa tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny tewas akibat racun katak panah eksotis yang hanya bisa dikerahkan oleh negara. Dok: Istimewa.

MUNICH, POSNEWS.CO.ID – Sebuah pengumuman mengejutkan mengguncang Konferensi Keamanan Munich. Pasalnya, lima negara Eropa secara resmi menuduh negara Rusia membunuh pemimpin oposisi Alexei Navalny menggunakan racun katak panah eksotis dua tahun lalu.

Sebagai tindak lanjut, Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda merilis pernyataan bersama yang mengungkap hasil penyelidikan gabungan mereka. Dalam laporan tersebut, tim ahli menemukan zat epibatidine—toksin mematikan yang berasal dari kulit katak panah Ekuador—di dalam tubuh Navalny. Pengumuman ini sengaja bertepatan dengan peringatan dua tahun kematian Navalny di koloni penjara Arktik yang terpencil.

Racun Eksotis dan Bukti Laboratorium

Navalny meninggal saat menjalani hukuman penjara 19 tahun di Siberia. Namun demikian, petugas berhasil mengamankan sampel tubuhnya sebelum pemakaman dan mengirimkannya ke laboratorium di dua negara berbeda untuk pengujian mendalam.

Selanjutnya, hasil laboratorium menunjukkan keberadaan epibatidine. Zat ini bekerja dengan cara melumpuhkan otot, menyebabkan kegagalan pernapasan, dan memicu kematian yang menyakitkan. Selain itu, investigasi menegaskan bahwa racun ini tidak ditemukan secara alami di Rusia. “Hanya negara Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk mengerahkan toksin mematikan ini terhadap Navalny,” tegas pernyataan resmi tersebut. Terlebih lagi, mengingat katak ini tidak menghasilkan racun dalam penangkaran, tim peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan zat tersebut di tubuh Navalny murni merupakan aksi pembunuhan tanpa penjelasan medis lainnya.

Baca Juga :  Krisis Stok Amunisi: Trump Tekan Kontraktor Pertahanan Percepat Produksi Pasca-Serangan Iran

Reaksi Yulia Navalnaya dan Kutipan Keras

Istri mendiang, Yulia Navalnaya, memberikan respons emosional melalui platform X. Bahkan, ia mengaku sudah yakin sejak hari pertama bahwa rezim telah meracun suaminya. “Kini ada bukti: Putin membunuh Alexei dengan senjata kimia,” tulis Yulia.

Oleh karena itu, ia mendesak agar Vladimir Putin bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan menuntut agar pengadilan segera mengadili sang pembunuh. Di sisi lain, Yulia juga menyampaikan pidato singkat di Munich untuk mengingatkan para pemimpin dunia akan kekejaman rezim Kremlin. Ia menegaskan bahwa momen saat dunia menegakkan keadilan bagi suaminya dan rakyat Rusia akan segera tiba.

Baca Juga :  Putin Tawarkan Mediasi Iran-Teluk Guna Redam Eskalasi

Pelanggaran Konvensi Senjata Kimia

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, melabeli peracunan tersebut sebagai tindakan biadab. Alhasil, Inggris memimpin langkah internasional untuk melaporkan Rusia ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). Langkah ini menunjukkan bahwa Rusia secara terang-terangan melanggar Konvensi Senjata Kimia (CWC).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan hanya itu, Inggris menuduh Rusia tidak benar-benar menghancurkan seluruh cadangan senjata kimianya pada tahun 2017 seperti klaim mereka sebelumnya. “Negara Rusia menunjukkan alat-alat menjijikkan yang mereka miliki melalui penggunaan racun ini,” ujar Cooper. Sebagai catatan, rekam jejak penggunaan racun oleh Moskow—mulai dari Alexander Litvinenko hingga kasus Skripal—semakin memperkuat kecurigaan komunitas internasional terhadap taktik peracunan untuk membungkam kritik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia: Infrastruktur vs Kesiapan Masyarakat
PC vs Laptop di Era Kerja Remote: Mana yang Lebih Worth It untuk Jangka Panjang?
Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?
5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam
49 Siswa MTs di Cilegon Keracunan Usai Menyantap MBG, Polisi Selidiki Dapur SPPG
Panduan Membangun Smart Home Budget Minimalis: Mulai dari Mana?
Suami Bunuh Istri 17 Tahun di Minahasa Tenggara, Cemburu Berujung Maut
Banjir Jakarta 17 April 2026, 21 RT Terendam Akibat Luapan Kali Ciliwung

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 15:04 WIB

Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia: Infrastruktur vs Kesiapan Masyarakat

Jumat, 17 April 2026 - 14:58 WIB

PC vs Laptop di Era Kerja Remote: Mana yang Lebih Worth It untuk Jangka Panjang?

Jumat, 17 April 2026 - 12:40 WIB

Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?

Jumat, 17 April 2026 - 11:32 WIB

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Jumat, 17 April 2026 - 10:27 WIB

49 Siswa MTs di Cilegon Keracunan Usai Menyantap MBG, Polisi Selidiki Dapur SPPG

Berita Terbaru

Ilustrasi, Benteng digital yang retak. Di tahun 2026, metode peretasan telah berevolusi menggunakan kecerdasan buatan, membuat kebiasaan lama kita tidak lagi cukup untuk melindungi identitas dan aset finansial di ruang siber. Dok: Istimewa.

NETIZEN

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Jumat, 17 Apr 2026 - 11:32 WIB