Putin Tawarkan Mediasi Iran-Teluk Guna Redam Eskalasi

Selasa, 3 Maret 2026 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Rusia berupaya keras memposisikan diri sebagai pilar stabilitas di Timur Tengah. Presiden Vladimir Putin secara resmi menawarkan hubungan strategisnya dengan Iran sebagai jembatan diplomatik bagi negara-negara Teluk guna menghindari perang regional terbuka.

Dalam rangkaian pembicaraan telepon sepanjang Senin kemarin, Putin berkomunikasi langsung dengan para pemimpin dari UEA, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Kremlin melabeli serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan “agresi yang tidak beralasan” yang mengancam ketertiban internasional.

Penawaran Mediasi dan Kekhawatiran Teluk

Negara-negara Teluk, yang mayoritas merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, kini berada dalam posisi sulit akibat hujan drone dan rudal balistik Iran. Dalam percakapan dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Putin menawarkan diri untuk bertindak sebagai penyalur pesan (conduit).

Oleh karena itu, Moskow siap menyampaikan keluhan resmi UEA terkait serangan di wilayah mereka langsung ke pimpinan tertinggi di Teheran. “Kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik serta diplomatik,” tulis pernyataan resmi Kremlin. Hal serupa Putin sampaikan kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, di mana Rusia menyatakan kesiapan penuh untuk menstabilkan kawasan.

Strategi “Multilateral” dan Kemitraan Iran

Bagi Moskow, kemitraan strategis dengan Iran adalah kunci untuk mempertahankan pengaruh di Timur Tengah. Pengaruh Rusia di kawasan tersebut sempat merosot setelah jatuhnya sekutu utama mereka, Bashar al-Assad, di Suriah pada tahun lalu.

Selain itu, Rusia menghadapi dilema kepentingan. Di satu sisi, Moskow diuntungkan oleh lonjakan harga minyak akibat konflik. Namun demikian, perang udara AS-Israel bertentangan dengan ambisi Rusia untuk menciptakan tatanan dunia multilateral di mana Amerika Serikat tidak mendominasi secara tunggal. “Kami tetap menjalin kontak konstan dengan kepemimpinan Iran guna memantau perkembangan situasi,” tegas juru bicara Kremlin.

Baca Juga :  Takaichi Ulurkan Tangan ke China: Cari Dialog Stabil di Tengah Badai Sengketa Taiwan

Menjaga Momentum Negosiasi Ukraina

Meskipun melontarkan kritik pedas terhadap Washington, Putin tampak sangat berhati-hati agar tidak merusak hubungannya dengan Presiden Donald Trump secara permanen. Hal ini berkaitan erat dengan proses perundingan damai Ukraina yang sedang berlangsung.

Pasalnya, Moskow melihat adanya peluang penyelesaian konflik di Eropa Timur melalui mediasi Washington. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia sangat berkepentingan agar negosiasi mengenai Ukraina tetap berlanjut meskipun terjadi gesekan di Timur Tengah. “Kami memiliki kepentingan sendiri yang harus dilindungi, dan melanjutkan negosiasi (Ukraina) adalah bagian dari kepentingan itu,” ujar Peskov.

Pada akhirnya, diplomasi telepon Putin menunjukkan bahwa Rusia sedang mencoba memainkan peran sebagai “penyeimbang yang rasional”. Dunia kini menanti apakah tawaran mediasi dari Moskow mampu meredam sumpah balas dendam Teheran sebelum krisis ini terperosok ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan
Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir
Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah
Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa
Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Berita Terbaru

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agu 2026 - 15:08 WIB

Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa akibat perang, serangan, dan aksi protes, langkah yang berpotensi mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agu 2026 - 14:00 WIB

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Selasa, 11 Agu 2026 - 13:48 WIB