Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melawan distraksi di genggaman. Mengelola waktu layar secara bijak menjadi kunci utama untuk menjaga kualitas ibadah dan ketenangan batin selama bulan Ramadan. Dok: Unsplash/Matteo Vella.

Ilustrasi, Melawan distraksi di genggaman. Mengelola waktu layar secara bijak menjadi kunci utama untuk menjaga kualitas ibadah dan ketenangan batin selama bulan Ramadan. Dok: Unsplash/Matteo Vella.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kehadiran ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari sering kali menjadi pedang bermata dua, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan. Di satu sisi, teknologi memudahkan akses informasi keagamaan. Namun demikian, tanpa pengaturan yang ketat, perangkat tersebut justru menjadi sumber utama gangguan yang merusak kekhusyukan.

Pakar psikologi sering memperingatkan bahwa “budaya geser” (scrolling culture) pada media sosial melatih otak untuk mencari stimulasi konstan. Oleh karena itu, individu sering kali merasa gelisah atau sulit berkonsentrasi saat mencoba melakukan ibadah yang membutuhkan ketenangan durasi panjang.

Dampak Media Sosial terhadap Kualitas Ibadah

Terlalu banyak menghabiskan waktu di platform digital dapat menyebabkan kelelahan mental yang tidak kita sadari. Pasalnya, arus informasi yang tidak terbendung memaksa otak untuk terus memproses data yang sering kali tidak relevan dengan tujuan spiritual Ramadan.

Selain itu, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) sering kali membuat seseorang terus memeriksa ponsel meskipun sedang berada di lingkungan masjid. Alhasil, momen berharga untuk refleksi diri justru terbuang percuma hanya untuk memantau kehidupan orang lain secara daring. Dengan demikian, membatasi notifikasi menjadi langkah awal yang sangat krusial bagi setiap orang yang ingin meraih keberkahan maksimal.

Baca Juga :  Bagaimana Musik Dapat Memperbaiki Kualitas Tidur?

Teknologi sebagai Pelayan, Bukan Penguasa

Kita tidak perlu sepenuhnya memusuhi teknologi. Strategi yang tepat adalah mengubah ponsel pintar menjadi alat pendukung ibadah yang efisien. Saat ini, tersedia berbagai aplikasi berkualitas yang membantu disiplin spiritual harian.

Beberapa rekomendasi alat bantu digital antara lain:

  • Al-Quran Digital Terverifikasi: Memudahkan tadarus di sela waktu bekerja tanpa harus membawa mushaf fisik.
  • Aplikasi Pengingat Waktu Shalat: Memberikan peringatan dini agar Anda dapat mempersiapkan diri menuju masjid lebih awal.
  • Pelacak Progres Ibadah: Membantu mengevaluasi target harian seperti jumlah sedekah atau hafalan ayat baru.

Dengan mengalihkan fokus penggunaan ponsel ke arah fungsionalitas ini, Anda tetap bisa terkoneksi dengan dunia tanpa kehilangan arah tujuan spiritual.

Baca Juga :  Daging Lab dan Bubuk Jangkrik

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tips “Digital Detox” di Malam-Malam Terakhir

Malam-malam terakhir Ramadan, terutama periode sepuluh hari terakhir, menuntut konsentrasi spiritual yang lebih dalam. Para ahli pengembangan diri menyarankan untuk melakukan “Detoks Digital” secara bertahap.

Langkah praktis yang dapat Anda terapkan meliputi:

  1. Hapus Aplikasi Hiburan Sementara: Menghapus aplikasi game atau media sosial selama satu minggu terakhir dapat memberikan ketenangan pikiran yang luar biasa.
  2. Terapkan Mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb): Aktifkan mode ini mulai dari waktu berbuka hingga sahur agar interaksi digital tidak menginterupsi waktu I’tikaf.
  3. Ganti Layar dengan Buku Fisik: Membaca kitab atau buku pengembangan diri secara fisik membantu menenangkan saraf mata dan mempersiapkan otak untuk istirahat atau shalat malam.

Meskipun tampak menantang di awal, kebebasan dari layar akan memberikan ruang bagi hati untuk merasa lebih hadir dalam setiap doa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Tembus 1,58 Juta, KAI Catat Okupansi 40,87 Persen
Cyber Goes To School, Ditressiber Metro Jaya Edukasi Anak Cegah Kejahatan Digital
Kapolri Pastikan Kasus Oknum Brimob Aniaya Pelajar di Maluku Diproses Transparan
Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk
Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:59 WIB

Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Tembus 1,58 Juta, KAI Catat Okupansi 40,87 Persen

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:44 WIB

Cyber Goes To School, Ditressiber Metro Jaya Edukasi Anak Cegah Kejahatan Digital

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:27 WIB

Kapolri Pastikan Kasus Oknum Brimob Aniaya Pelajar di Maluku Diproses Transparan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:11 WIB

Perampok Bersenpi Gasak Rp 800 Juta di Tubaba Ditangkap, Otak dan Eksekutor Dibekuk

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB