Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar angka. Psikologi lingkungan mengungkap perbedaan antara pengukuran ruang fisik (kepadatan) dengan reaksi mental manusia (kesesakan) di tengah ledakan populasi global. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar angka. Psikologi lingkungan mengungkap perbedaan antara pengukuran ruang fisik (kepadatan) dengan reaksi mental manusia (kesesakan) di tengah ledakan populasi global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menjelang adzan Maghrib, jalanan biasanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk warga yang bergegas pulang. Suasana hangat di meja makan bersama keluarga merupakan dambaan bagi setiap orang yang menjalankan ibadah puasa.

Namun demikian, kenyataan berbeda harus dihadapi oleh sebagian orang. Di saat jutaan pasang mata menatap hidangan berbuka, sekelompok pekerja tetap bersiaga di posisinya masing-masing. Mereka adalah para pejuang pelayanan publik yang menjadikan tanggung jawab sebagai prioritas utama di atas kenyamanan pribadi.

1. Petugas Medis: Bertaruh Nyawa di Sela Adzan

Di ruang gawat darurat (UGD), waktu seolah tidak mengenal jeda. Bagi dokter dan perawat, kesehatan pasien tidak bisa menunggu hingga urusan makan selesai. Sering kali, sirine ambulans justru berbunyi tepat saat muadzin mulai mengumandangkan panggilan shalat.

“Terkadang kami hanya sempat meneguk air mineral sambil tetap memantau monitor pasien,” ujar dr. Arini, seorang dokter jaga di sebuah rumah sakit umum. Meskipun perut terasa perih, Arini menegaskan bahwa menyelamatkan nyawa memberikan kepuasan batin yang luar biasa. Oleh karena itu, momen berbuka yang sederhana di koridor rumah sakit justru terasa sangat sakral bagi tim medis yang sedang berjuang.

Baca Juga :  Viralitas dan Validasi: Menelaah Mengapa Konten Kontroversial Lebih Cepat Menyebar

2. Polisi Lalu Lintas: Menjaga Kelancaran di Bawah Lampu Jalan

Di persimpangan jalan yang padat, polisi lalu lintas berdiri tegak guna memastikan semua orang sampai di rumah dengan selamat. Mereka adalah sosok yang mengatur arus kendaraan agar tradisi “berburu takjil” tidak berakhir dengan kemacetan total.

Saat waktu berbuka tiba, mereka biasanya hanya memiliki waktu beberapa menit untuk membatalkan puasa di pinggir jalan. Bahkan, mereka sering kali mendapatkan bantuan takjil dari pengendara yang melintas sebagai bentuk apresiasi. “Melihat orang lain bisa sampai ke rumah tepat waktu untuk berbuka bersama keluarganya adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ungkap Bripka sudarto. Kesabaran menghadapi debu dan bising kendaraan menjadi pelengkap pahala bagi mereka yang setia bertugas.

3. Driver Ojol: Mengantar Kebahagiaan bagi Orang Lain

Kisah yang tidak kalah menyentuh datang dari para pengemudi ojek daring (ojol). Menjelang Maghrib adalah waktu tersibuk bagi mereka untuk mengantarkan pesanan makanan ke rumah-rumah pelanggan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, saat pelanggan menikmati hidangan hangat yang mereka antar, para pengemudi ini sering kali masih berada di atas motor di tengah kemacetan. Akan tetapi, mereka tidak pernah mengeluh. Pasalnya, setiap tetes keringat tersebut merupakan ikhtiar untuk menghidupi keluarga di rumah. Rasa syukur muncul melalui sebotol air dari pemberian pelanggan atau sesama pengemudi yang saling berbagi di lampu merah. Dengan demikian, solidaritas di aspal menjadi energi tambahan bagi mereka untuk terus bergerak.

Baca Juga :  Resep Umur Panjang: Menjadi Optimis Itu Sehat?

Makna Pengabdian dan Keikhlasan

Suka duka yang para pekerja ini alami memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat luas. Ibadah puasa tidak seharusnya menjadi alasan untuk menurunkan produktivitas atau mengabaikan kewajiban. Sebaliknya, puasa justru menjadi momentum untuk mengasah empati dan ketangguhan mental.

Pada akhirnya, kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa ada “pahlawan senyap” yang menjaga roda kehidupan tetap berputar saat dunia sejenak berhenti untuk berbuka. Pesan inspiratif yang mereka bawa sangatlah jelas: pengabdian yang tulus adalah bentuk ibadah yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, mari kita selipkan apresiasi dan doa bagi mereka yang tetap bertugas demi kenyamanan kita semua di bulan suci ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai
Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia
Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta
Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik
Mudik Lebaran 2026, Kapolda Metro Jaya Pastikan 1.647 Titik Pengamanan Siap

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:26 WIB

Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:04 WIB

Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:55 WIB

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:09 WIB

Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:13 WIB

Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Berita Terbaru