JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perairan Natuna kini bukan sekadar wilayah kaya sumber daya alam, melainkan arena kontestasi kekuatan militer global dan regional. Peningkatan kehadiran kapal-kapal asing serta klaim tumpang tindih di Laut China Selatan memaksa negara-negara pesisir untuk segera memperkuat benteng pertahanan mereka.
Dalam studi Hubungan Internasional, fenomena ini dapat kita jelaskan secara jernih melalui lensa Realisme. Oleh karena itu, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) di kawasan Asia Tenggara saat ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan tuntutan struktural demi kelangsungan hidup sebuah negara bangsa.
Anarki Internasional dan Prinsip “Self-Help”
Teori Realisme berangkat dari asumsi bahwa sistem internasional bersifat anarkis. Artinya, tidak ada pemerintahan dunia yang memiliki kekuatan hukum lebih tinggi daripada kedaulatan negara. Akibatnya, dalam situasi penuh ketidakpastian ini, negara tidak bisa bergantung pada niat baik negara lain atau janji hukum internasional semata.
Selanjutnya, kondisi ini melahirkan prinsip “self-help” atau menolong diri sendiri. Negara-negara di sekitar Laut China Selatan menyadari bahwa kekuatan militer merupakan satu-satunya penjamin keamanan yang paling nyata. Oleh sebab itu, Indonesia mulai memperkuat pangkalan militer terintegrasi di Natuna, sementara Filipina dan Vietnam juga secara agresif meningkatkan kapasitas radar dan patroli maritim mereka guna merespons dominasi Tiongkok.
Logika Security Dilemma di Perairan Pasifik
Masalah utama muncul melalui konsep Security Dilemma. Situasi ini terjadi ketika sebuah negara meningkatkan kekuatan militernya semata-mata untuk tujuan defensif atau melindungi wilayahnya sendiri. Namun demikian, negara tetangga sering kali mempersepsikan langkah tersebut sebagai persiapan untuk tindakan ofensif atau penyerangan.
Sebagai contoh, saat Indonesia mengakuisisi jet tempur Rafale atau kapal selam kelas Scorpène untuk menjaga kedaulatan di Natuna, negara lain mungkin melihatnya sebagai peningkatan daya gempur yang mengancam keseimbangan kekuatan regional. Sebaliknya, aktivitas militer Tiongkok yang mengeklaim wilayah melalui “sembilan garis putus-putus” dianggap oleh Beijing sebagai hak historis yang sah, namun dipandang oleh negara-negara ASEAN sebagai bentuk agresi teritorial. Perbedaan persepsi inilah yang memicu perlombaan senjata yang tak berujung.
Modernisasi Alutsista Sebagai Respon Rasional
Para pengambil kebijakan di kawasan kini terjepit dalam logika keamanan yang pragmatis. Mengabaikan modernisasi militer saat negara lain sedang memperkuat diri akan menciptakan kerentanan yang berbahaya. Oleh karena itu, percepatan pengadaan alutsista canggih—seperti drone intai jarak jauh, sistem pertahanan rudal, dan kapal fregat berkemampuan siluman—menjadi respon yang sangat rasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, data dari lembaga riset perdamaian dunia (SIPRI) menunjukkan tren kenaikan belanja militer di Asia Tenggara selama lima tahun terakhir. Negara-negara ini berupaya membangun kekuatan getar (deterrence effect) agar pihak lawan berpikir dua kali sebelum melakukan provokasi di wilayah sengketa. Dengan demikian, persenjataan canggih bukan lagi sekadar simbol prestise, melainkan instrumen untuk menjaga stabilitas melalui keseimbangan kekuatan (balance of power).
Menavigasi Perdamaian yang Rapuh
Meskipun diplomasi melalui forum seperti ASEAN terus diupayakan, Realisme mengingatkan kita bahwa perdamaian di wilayah anarkis sering kali bersifat rapuh. Kekuatan militer tetap menjadi kartu terakhir dalam permainan catur geopolitik di Laut Natuna.
Pada akhirnya, selama ketidakpastian niat antar-negara masih ada, dilema keamanan akan terus mendorong negara-negara regional untuk memodernisasi persenjataan mereka. Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah memastikan bahwa penguatan militer di Natuna tetap berjalan seiring dengan komunikasi diplomatik yang transparan, guna meminimalisir risiko salah hitung (miscalculation) yang dapat memicu konflik terbuka di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















