Manuver Kilat Trump: Naikkan Tarif Global ke Batas Maksimal

Minggu, 22 Februari 2026 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tekanan ekonomi maksimal. Kurang dari 24 jam setelah pukulan hukum dari Mahkamah Agung, Presiden Donald Trump justru melipatgandakan tekanan melalui kenaikan tarif impor global hingga batas tertinggi yang diizinkan undang-undang. Dok: Istimewa.

Tekanan ekonomi maksimal. Kurang dari 24 jam setelah pukulan hukum dari Mahkamah Agung, Presiden Donald Trump justru melipatgandakan tekanan melalui kenaikan tarif impor global hingga batas tertinggi yang diizinkan undang-undang. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali mengguncang pasar global melalui keputusan ekonomi yang drastis. Hanya berselang satu hari setelah Mahkamah Agung AS membatalkan agenda tarifnya, Trump justru menaikkan tarif impor nasional hingga ke level 15 persen.

Angka tersebut merupakan batas maksimal yang petugas perbolehkan menurut kerangka hukum Pasal 122. Oleh karena itu, kebijakan ini menandai babak baru yang lebih keras dalam strategi perdagangan “America First”. Trump menegaskan bahwa kenaikan ini bertujuan untuk membalas negara-negara yang ia anggap telah merugikan Amerika Serikat selama beberapa dekade.

Strategi Hukum Baru dan Batas 150 Hari

Mahkamah Agung sebelumnya menyimpulkan bahwa Trump menyalahgunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Hakim Ketua John Roberts menegaskan bahwa presiden tidak memiliki wewenang independen untuk memungut pajak impor secara luas.

Sebagai respons, Trump segera beralih menggunakan Pasal 122 dari UU Perdagangan tahun 1974. Undang-undang ini mengizinkan presiden menjaga stabilitas mata uang dan neraca pembayaran melalui tarif. Namun demikian, instrumen hukum ini memiliki batasan waktu yang ketat. Pemerintah wajib mendapatkan persetujuan Kongres jika ingin memperpanjang tarif tersebut setelah melewati masa 150 hari. Pakar perdagangan meragukan dukungan Kongres karena mayoritas warga Amerika kini mulai menyalahkan tarif atas lonjakan harga kebutuhan pokok.

Baca Juga :  Eropa Bersatu di Belakang Zelenskyy: Downing Street Umumkan Kemajuan Positif Soal Aset Beku Rusia

Dampak bagi Indonesia dan Kesepakatan Bilateral

Dinamika hukum di Washington tidak mengubah komitmen perdagangan dengan Jakarta. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menegaskan bahwa negara mitra harus tetap menghormati kesepakatan yang telah ada.

Kepala negosiator Indonesia, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa perjanjian dagang yang baru saja diteken tetap berlaku. Berdasarkan kesepakatan tersebut, produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap terkena tarif sebesar 19 persen. Dengan demikian, tarif khusus hasil negosiasi tetap berada di atas tarif universal 15 persen yang baru saja Trump umumkan. Kondisi berbeda dialami oleh negara seperti Brasil yang belum memiliki perjanjian khusus. Tarif impor untuk Brasil kemungkinan besar akan turun dari 40 persen menjadi 15 persen untuk sementara waktu.

Baca Juga :  Era Pasca-Kebenaran: Ancaman Deepfake di Ruang Publik

Perlawanan Eropa dan Risiko Politik Domestik

Langkah Trump ini memicu reaksi tajam dari para pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik putusan Mahkamah Agung sebagai bukti tegaknya supremasi hukum dalam demokrasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai pembatalan tarif IEEPA akan meringankan beban perusahaan-perusahaan Jerman. Merz berencana mengunjungi Washington dalam waktu dekat guna menekankan bahwa kebijakan tarif justru merugikan semua pihak. Di sisi lain, Trump menyerang balik para hakim Mahkamah Agung dengan menyebut mereka sebagai pihak yang memalukan bagi konstitusi.

Ketegangan ini terjadi saat popularitas Trump dalam mengelola ekonomi terus merosot. Jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya 34 persen responden yang mendukung kebijakan ekonominya. Walaupun Trump mengeklaim tarif akan menghidupkan manufaktur, kubu Demokrat menuduh kebijakan tersebut sebagai pemicu utama krisis biaya hidup. Pertarungan politik ini akan mencapai puncaknya pada pemilu paruh waktu November mendatang, di mana isu harga barang menjadi penentu utama suara pemilih.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

4.725 WNI Korban Online Scam di Kamboja Pulang ke Indonesia Jelang Lebaran 2026
Kesenjangan Utara-Selatan: Menelaah Teori Ketergantungan dalam Arsitektur Ekonomi Global Baru
Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?
Arus Mudik 2026, Polisi Batasi Truk di Tol Tangerang–Merak dan Jalur Arteri
Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?
Motor Penjaga Kios Raib di Cipedak Jagakarsa, Pelaku Pakai Jaket Ojol
Transaksi COD Berujung Maut di Sumedang, Juanda Tewas Bersimbah Darah
Teheran dalam Cengkeraman Cemas: Warga Bersiap Hadapi Ancaman di Tengah Krisis Ekonomi

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:19 WIB

4.725 WNI Korban Online Scam di Kamboja Pulang ke Indonesia Jelang Lebaran 2026

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:01 WIB

Kesenjangan Utara-Selatan: Menelaah Teori Ketergantungan dalam Arsitektur Ekonomi Global Baru

Minggu, 22 Februari 2026 - 17:51 WIB

Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?

Minggu, 22 Februari 2026 - 17:44 WIB

Arus Mudik 2026, Polisi Batasi Truk di Tol Tangerang–Merak dan Jalur Arteri

Minggu, 22 Februari 2026 - 16:46 WIB

Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?

Berita Terbaru

Ketegangan di perairan strategis. Melalui kacamata Realisme, modernisasi militer di sekitar Laut Natuna bukan sekadar ambisi kekuasaan, melainkan respon logis terhadap sistem internasional yang anarkis. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?

Minggu, 22 Feb 2026 - 17:51 WIB

Ilustrasi, Menaklukkan tanpa memerangi. Di era digital 2026, ekspor budaya seperti K-Pop dan Hollywood terbukti lebih ampuh membangun pengaruh global dibandingkan pamer kekuatan militer. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?

Minggu, 22 Feb 2026 - 16:46 WIB