Teheran dalam Cengkeraman Cemas: Warga Bersiap Hadapi Ancaman di Tengah Krisis Ekonomi

Minggu, 22 Februari 2026 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di tengah hujan rudal. Tim negosiasi AS dan Iran tiba di Doha saat eskalasi militer di Selat Hormuz mengancam kesepakatan damai. Dok: Istimewa.

Diplomasi di tengah hujan rudal. Tim negosiasi AS dan Iran tiba di Doha saat eskalasi militer di Selat Hormuz mengancam kesepakatan damai. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Ketakutan akan pecahnya perang besar kini menghantui setiap sudut jalan di Teheran. Para penduduk kesulitan untuk beristirahat dengan tenang saat ancaman militer kembali membayangi ibu kota Iran tersebut.

Seorang warga bernama Hamid (64) mengaku harus bergantung pada obat tidur setiap malam. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan anak dan cucunya yang belum sempat merasakan kehidupan yang damai. “Saya ingin mereka merasakan hidup sebentar saja, tapi saya takut mereka tidak punya kesempatan itu,” ujar Hamid kepada AFP.

Trauma Perang 12 Hari Tahun 2025

Ingatan warga masih segar akan peristiwa mengerikan pada 12 hingga 13 Juni tahun lalu. Saat itu, Israel meluncurkan kampanye militer mendadak yang menghantam berbagai fasilitas strategis di Iran.

Amerika Serikat sempat bergabung dalam serangan singkat terhadap situs nuklir utama Teheran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang drone dan rudal balistik ke arah Israel dan pangkalan AS di Qatar. Konflik tersebut menelan ribuan korban jiwa di pihak Iran. Oleh karena itu, warga Teheran kini menerapkan “pelajaran” dari perang tersebut dengan menempelkan lakban pada jendela rumah guna mencegah pecahnya kaca akibat ledakan.

Ultimatum 15 Hari dan Persiapan Darurat

Situasi diplomasi saat ini berada di titik paling kritis. Presiden AS Donald Trump awalnya memberikan ultimatum 10 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan, namun ia kemudian memperpanjangnya menjadi 15 hari.

Sebagai respon, warga mulai melakukan persiapan mandiri untuk skenario terburuk. Hanieh (31), seorang pengrajin keramik, meyakini bahwa perang akan pecah segera setelah tenggat waktu berakhir. Ia telah menyimpan kebutuhan pokok di rumahnya. Warga lainnya, Mina Ahmadvand (46), juga telah menimbun makanan kaleng, biskuit, air mineral, dan baterai tambahan. Mereka menilai perang antara Iran, AS, dan Israel saat ini sudah tidak terelakkan lagi.

Baca Juga :  Sopir Angkot Dibakar Hidup-Hidup di Tanah Abang, Fakta Terbaru Terungkap

Krisis Rial di Ambang Ramadan

Tekanan psikologis warga semakin berat akibat kehancuran ekonomi nasional. Nilai mata uang Rial terus merosot tajam hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah pasca-protes besar-besaran tahun lalu.

Pada Sabtu kemarin, Euro menembus angka 1,9 juta rial, sementara Dolar AS melampaui 1,6 juta rial. Lonjakan harga barang kebutuhan pokok pun tak terkendali. Meskipun demikian, kantor-kantor dan toko di Teheran tetap beroperasi. Suasana kota terasa lebih sepi karena kafe dan restoran tutup untuk menghormati bulan suci Ramadan yang baru saja mulai pada hari Kamis. Warga Teheran kini terjepit di antara kewajiban ibadah, kesulitan ekonomi, dan ancaman mesin perang yang sudah siap bergerak di depan mata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu
Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus
Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle
Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang
Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:00 WIB

Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:30 WIB

Pasangan Afrika Selatan Saksikan Kumpulan 299 Paus

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:00 WIB

Dua Pria Terjun Bebas dari Space Needle Seattle

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:51 WIB

Unggahan Medsos Soroti Budaya Kerja Ekstrem Jepang

Berita Terbaru