Kuasa Emansipasi: Menakar Ulang Keamanan Global Lewat Kacamata Feminisme HI

Selasa, 24 Februari 2026 - 20:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Mendefinisikan ulang kedaulatan. Politik Luar Negeri Feminis (FFP) menggeser fokus diplomasi dari perlombaan senjata menuju kesejahteraan manusia dan kesetaraan gender sebagai pilar stabilitas global. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Mendefinisikan ulang kedaulatan. Politik Luar Negeri Feminis (FFP) menggeser fokus diplomasi dari perlombaan senjata menuju kesejahteraan manusia dan kesetaraan gender sebagai pilar stabilitas global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia saat ini masih terjebak dalam siklus konflik bersenjata yang seolah tidak berujung. Dari ketegangan di Selat Taiwan hingga krisis di Timur Tengah, logika kekuatan militer tetap menjadi panglima. Namun demikian, para pemikir Hubungan Internasional kini mulai menoleh pada satu perspektif yang sering terabaikan: Feminisme HI.

Pertanyaan besarnya adalah: apa jadinya jika dunia dipimpin oleh lebih banyak perempuan? Jawabannya bukan sekadar perubahan wajah di kursi kekuasaan, melainkan perombakan total pada cara kita mendefinisikan kepentingan nasional dan keamanan global.

Menggugat Bias Maskulinitas dalam Keamanan

Selama berabad-abad, teori utama seperti Realisme memandang dunia melalui kacamata maskulin yang kompetitif. Konsep “kekuatan” sering kali petugas ukur hanya melalui jumlah hulu ledak nuklir atau anggaran militer.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, perspektif ini sering kali mengasosiasikan “objektivitas” dan “kekuatan” dengan sifat maskulin, sementara “diplomasi” dan “empati” dianggap sebagai sifat feminin yang lemah. Feminisme HI membantah asumsi ini. Mereka berargumen bahwa fokus berlebihan pada agresi justru menciptakan lingkungan internasional yang tidak aman dan penuh ketegangan. Oleh karena itu, dekonstruksi terhadap bias gender dalam pengambilan keputusan militer menjadi langkah awal yang sangat krusial.

Baca Juga :  Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara Besar-besaran AS-Israel

Keamanan Manusia vs Keamanan Negara

Kontribusi terbesar dari perspektif feminisme adalah pengenalan konsep Human Security atau Keamanan Manusia. Tradisionalnya, keamanan berarti menjaga batas negara dari serangan asing. Sebaliknya, Feminisme HI mempertanyakan: “Apakah rakyat benar-benar aman jika perut mereka lapar dan hak mereka terabaikan, meskipun negara memiliki tentara yang kuat?”

Keamanan sejati haruslah berpusat pada individu. Hal ini mencakup beberapa pilar utama:

  • Keamanan Ekonomi: Memastikan akses terhadap pekerjaan dan penghidupan layak.
  • Keamanan Kesehatan: Perlindungan dari wabah dan akses medis yang merata.
  • Keamanan Lingkungan: Mitigasi bencana akibat perubahan iklim.

Dengan mengalihkan fokus dari senjata menuju kesejahteraan manusia, negara-negara dapat meredam akar penyebab konflik—seperti perebutan sumber daya—secara lebih efektif.

Diplomat Perempuan dan Resep Perdamaian Abadi

Realitas di lapangan membuktikan efektivitas kepemimpinan perempuan dalam proses perdamaian. Kehadiran tokoh seperti PM Sanae Takaichi di Jepang atau Angela Rayner di Inggris memberikan warna baru dalam narasi diplomasi yang lebih pragmatis namun tetap tegas.

Baca Juga :  Ledakan Gas di Tangsel Tewaskan 1 Orang, 20 Rumah Rusak dan 7 Luka-Luka

Selanjutnya, studi dari International Peace Institute mengungkapkan fakta menarik. Perjanjian perdamaian yang melibatkan perempuan sebagai negosiator memiliki kemungkinan 35 persen lebih besar untuk bertahan minimal selama 15 tahun. Bahkan, diplomat perempuan cenderung lebih mampu membangun jembatan dialog di wilayah konflik karena mereka sering kali lebih fokus pada rekonsiliasi komunitas daripada sekadar pembagian kekuasaan politik antar-elit pria.

Menuju Tatanan Dunia yang Holistik

Meningkatkan jumlah perempuan di puncak kepemimpinan global bukan berarti menghapus peran pria. Pada akhirnya, tujuannya adalah menciptakan keseimbangan perspektif. Dunia yang lebih inklusif secara gender akan lebih cenderung melihat ancaman global—seperti pandemi atau krisis iklim—sebagai tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi, bukan kompetisi militer.

Pada akhirnya, tantangan bagi sistem internasional tahun 2026 adalah melepaskan diri dari ego kekuasaan yang sempit. Melalui pengadopsian nilai-nilai kemanusiaan yang Feminisme HI tawarkan, kita memiliki peluang lebih besar untuk membangun tatanan dunia yang tidak hanya bebas dari perang, tetapi juga makmur bagi setiap individu di dalamnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang
KAI Tawarkan Tiket Murah 30 Persen Libur Sekolah, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Marco Rubio Kecam Sensor Ketat Tiongkok Jelang Peringatan Tragedi 1989
Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen
Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya Gaji UMP 2026, Ber-KTP Jakarta
Cara Pabrik Memisahkan CPO dan Inti Sawit (Kernel)
Jadi Justice Collaborator, Sony Sonjaya Janji Beberkan Aktor Besar Kasus SPPG

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:31 WIB

Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:21 WIB

KAI Tawarkan Tiket Murah 30 Persen Libur Sekolah, Ini Jadwal dan Ketentuannya

Jumat, 5 Juni 2026 - 18:37 WIB

Marco Rubio Kecam Sensor Ketat Tiongkok Jelang Peringatan Tragedi 1989

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:35 WIB

Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:48 WIB

Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pencarian di tengah ketidakpastian. Polisi dan sukarelawan Jepang menyisir pegunungan timur Kyoto untuk mencari James

INTERNASIONAL

Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang

Sabtu, 6 Jun 2026 - 06:31 WIB

Ilustrasi, Ketegangan diplomatik di Pasifik. Tiongkok menjatuhkan larangan perjalanan bagi anggota parlemen Selandia Baru setelah mereka nekat mengunjungi Taiwan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Jumat, 5 Jun 2026 - 17:35 WIB

Pilar kepatuhan ekologi pabrik sawit. Pentingnya mengurus izin Amdal dan dokumen IPLC guna menghindari sanksi penutupan paksa operasional pabrik. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Limbah Sawit Menjadi Pupuk Organik dan Energi Biomassa

Jumat, 5 Jun 2026 - 16:48 WIB