JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Setiap kali kita membuka ponsel, sebuah mesin cerdas bekerja di balik layar untuk memilihkan apa yang layak kita baca, tonton, dan sukai. Namun demikian, kenyamanan ini menyimpan risiko yang sangat besar bagi demokrasi kita: hilangnya kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Para sosiolog dan pakar komunikasi menyebut kondisi ini sebagai “Filter Bubble” atau gelembung penyaring. Oleh karena itu, apa yang kita anggap sebagai opini publik saat ini sering kali hanyalah pantulan dari prasangka pribadi yang teknologi amplifikasi secara masif.
Algoritma sebagai “Modern Agenda Setting”
Secara tradisional, Teori Agenda Setting menjelaskan bahwa media massa (seperti koran dan televisi) memiliki kekuatan untuk menentukan isu apa yang masyarakat anggap penting. Namun, di tahun 2026, peran “penjaga gerbang” (gatekeeper) tersebut telah berpindah ke tangan algoritma.
Berbeda dengan media tradisional yang menyajikan berita yang sama untuk semua orang, algoritma melakukan personalisasi secara ekstrem. Pasalnya, mesin tersebut belajar dari setiap klik, durasi tontonan, dan interaksi kita. Alhasil, setiap individu hidup dalam “agenda” yang berbeda-beda. Jika Anda sering menyukai konten politik tertentu, algoritma akan terus menyuguhkan narasi serupa, sehingga Anda merasa bahwa seluruh dunia setuju dengan pandangan Anda.
Fenomena Echo Chamber: Ketika Kebenaran Menjadi Subjektif
Setelah terjebak dalam gelembung informasi, pengguna masuk ke dalam apa yang pakar sebut sebagai Echo Chamber atau ruang gema. Di dalam ruang ini, sistem akan menyaring dan membuang suara-suara yang berbeda atau kritik terhadap keyakinan kita.
Selanjutnya, interaksi di media sosial cenderung hanya mempertemukan kita dengan orang-orang yang berpikiran sama. Bahkan, algoritma secara sengaja meminimalkan kemunculan argumen yang berlawanan karena hal itu dapat menurunkan “engagement” pengguna. Dengan demikian, kenyataan tidak pernah menguji keyakinan seseorang secara objektif, melainkan emosi terus memperkuatnya. Fenomena ini membuat kelompok masyarakat yang berbeda semakin sulit untuk menemukan titik temu atau kesepahaman.
Hilangnya Ruang Diskusi Publik yang Sehat
Dampak yang paling mengkhawatirkan dari polarisasi digital ini adalah hancurnya ruang diskusi publik. Diskusi yang sehat membutuhkan adanya fakta dasar yang semua pihak sepakati bersama (common ground). Namun, dalam gelembung informasi, aktor sering kali memelintir fakta untuk mendukung narasi kelompok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa dampak nyata yang kita rasakan antara lain:
- Erosi Empati: Kita cenderung melabeli pihak yang berbeda sebagai musuh atau orang yang “salah informasi”.
- Kematian Objektivitas: Kita menilai informasi bukan berdasarkan kebenarannya, melainkan berdasarkan apakah ia mendukung identitas kelompok kita.
- Radikalisasi Pendapat: Tanpa adanya penyeimbang, opini seseorang cenderung bergerak ke arah yang lebih ekstrem dari waktu ke waktu.
Meskipun teknologi menawarkan konektivitas tanpa batas, realitasnya algoritma justru mengisolasi kita secara intelektual di dalam tempurung digital masing-masing.
Kesimpulan: Menembus Gelembung Digital
Keluar dari Filter Bubble membutuhkan upaya sadar dari setiap individu. Kita tidak bisa hanya mengandalkan perusahaan teknologi untuk memperbaiki algoritma mereka, karena model bisnis mereka justru bergantung pada keterlibatan kita di dalam gelembung tersebut.
Pada akhirnya, literasi digital dan keterbukaan pikiran adalah kunci. Cobalah untuk secara sengaja mencari sumber informasi yang berbeda, mengikuti akun yang memiliki perspektif berlawanan, dan selalu mempertanyakan kebenaran dari apa yang lewat di linimasa kita. Hanya dengan memecahkan gelembung penyaring ini, kita bisa mengembalikan fungsi media sosial sebagai sarana pemersatu, bukan pemecah belah bangsa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















