Rusia Bersedia Terima Usulan Jaminan Keamanan dari Amerika Serikat

Minggu, 1 Maret 2026 - 19:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pesan persatuan bagi dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin memulai kunjungan kenegaraan dua hari ke China guna mempererat kemitraan strategis dan merayakan seperempat abad perjanjian persahabatan dengan Presiden Xi Jinping. Dok: Istimewa.

Pesan persatuan bagi dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin memulai kunjungan kenegaraan dua hari ke China guna mempererat kemitraan strategis dan merayakan seperempat abad perjanjian persahabatan dengan Presiden Xi Jinping. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945 kembali muncul setelah pihak Rusia menunjukkan pelunakan sikap di meja perundingan. Pemerintah Ukraina mengeklaim bahwa Moskow mulai menerima kerangka kerja jaminan keamanan yang Amerika Serikat tawarkan.

Kepala staf Presiden Volodymyr Zelenskyy, Kyrylo Budanov, menyampaikan informasi krusial tersebut dalam wawancara terbaru. “Pada perundingan terakhir, pihak Rusia menyatakan bahwa mereka akan menerima jaminan keamanan yang Amerika Serikat berikan kepada Ukraina,” ujar Budanov.

Jaminan Keamanan “Iron-Clad” dan Tekanan Konsesi

Ukraina saat ini sedang mengejar jaminan keamanan yang mengikat secara hukum atau “iron-clad”. Kesepakatan ini mewajibkan Amerika Serikat beserta sekutu pasifiknya untuk mengambil tindakan militer nyata jika Rusia kembali meluncurkan agresi di masa depan setelah perjanjian damai tercapai.

Namun demikian, situasi ini tidak sepenuhnya berpihak pada Kyiv. Presiden AS Donald Trump terus mendesak kedua belah pihak untuk segera menuntaskan perjanjian guna menghentikan beban finansial Amerika. Oleh karena itu, Zelenskyy mengeluhkan meningkatnya tekanan internasional yang memaksa negaranya untuk memberikan konsesi wilayah kepada Moskow sebagai alat tukar perdamaian.

Evaluasi Perundingan Jenewa

Putaran diskusi damai yang berlangsung di Jenewa pekan lalu sejatinya tidak menghasilkan terobosan besar yang bersifat instan. Baik pihak Kyiv maupun Moskow mendeskripsikan proses tersebut sebagai dialog yang sangat sulit dan menguras energi.

Meskipun begitu, pihak Washington melalui Departemen Luar Negeri memberikan penilaian yang lebih optimistis. Amerika Serikat mengeklaim melihat adanya “kemajuan yang bermakna” dalam penyelarasan visi teknis antara kedua negara yang bertikai. Perundingan tersebut petugas nilai berhasil memetakan poin-poin krusial yang sebelumnya dianggap mustahil untuk dibahas bersama.

Baca Juga :  Tandukan Van Dijk Bawa Kemenangan: Liverpool Akhiri Rekor Kandang Sunderland

Hambatan Pertemuan Puncak Zelenskyy-Putin

Meskipun jaminan keamanan menunjukkan progres, satu pilar utama diplomasi masih belum berdiri. Rusia hingga saat ini belum memberikan lampu hijau untuk pertemuan langsung antara Presiden Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Vladimir Putin.

Ide mengenai pertemuan puncak (summit) tersebut merupakan gagasan yang diusung oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff. Pasalnya, Washington meyakini bahwa kesepakatan akhir hanya bisa tercapai melalui jabat tangan para pimpinan tertinggi. Budanov menegaskan bahwa tanpa adanya pertemuan tingkat tinggi, risiko pelanggaran gencatan senjata di masa depan akan tetap tinggi. Dunia kini menanti apakah sinyal positif mengenai jaminan keamanan ini akan bermuara pada pengakhiran konflik secara total di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat
Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok
Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?
Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:26 WIB

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:21 WIB

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Juni 2026 - 15:02 WIB

Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Berita Terbaru

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

INTERNASIONAL

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Jun 2026 - 17:26 WIB

Ketegangan baru di Selat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengusir empat kapal pemerintah Tiongkok yang menerobos wilayah perairan selatan mereka setelah aksi saling lempar peringatan keras. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Jun 2026 - 16:21 WIB

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Jun 2026 - 14:51 WIB