JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia Islam mengenal dua kelompok besar yang telah berdampingan selama lebih dari 1.400 tahun: Sunni dan Syiah. Meskipun keduanya menyembah Tuhan yang sama dan berkiblat pada Kakbah yang sama, sejarah mencatat adanya luka perpecahan yang sangat dalam dan kompleks.
Perbedaan ini tidak bermula dari masalah akidah mendasar, melainkan dari sebuah pertanyaan politis yang sangat praktis: “Siapa yang paling berhak memimpin umat Islam setelah Nabi wafat?”. Jawaban atas pertanyaan inilah yang kemudian membelah sejarah peradaban Islam menjadi dua arus utama.
1. Krisis di Saqifah: Khalifah vs Imam
Segera setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 Hijriah (632 M), para sahabat berkumpul di sebuah lokasi bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan pemimpin baru. Saat itu, jenazah Nabi masih dalam proses pengurusan oleh keluarga dekatnya, termasuk Ali bin Abi Thalib.
Dalam pertemuan tersebut, terjadi perdebatan antara kaum Ansar (penduduk Madinah) dan Muhajirun (pendatang dari Mekah). Mayoritas sahabat akhirnya menyepakati Abu Bakr Ash-Shiddiq sebagai pemimpin melalui mekanisme konsensus. Namun demikian, sekelompok kecil sahabat meyakini bahwa Nabi telah mengisyaratkan Ali bin Abi Thalib—sepupu sekaligus menantu Nabi—sebagai penerus sah melalui wasiat ilahi.
Peristiwa ini melahirkan dua konsep otoritas:
- Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah): Menekankan pada Khilafah, di mana pemimpin adalah sosok yang terpilih melalui musyawarah atau konsensus umat.
- Syiah (Syi’atu Ali): Menekankan pada Imamah, di mana pemimpin harus berasal dari Ahlul Bayt (keluarga Nabi) dan memiliki otoritas spiritual yang bersifat turun-temurun dan maksum (terjaga dari dosa).
2. Perang Shiffin dan Kristalisasi “Syi’atu Ali”
Ketegangan politik ini mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656–661 M). Ali harus menghadapi tantangan dari Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Suriah saat itu, yang berujung pada Perang Shiffin.
Selanjutnya, perang tersebut berakhir dengan proses arbitrase (Tahkim) yang kontroversial. Peristiwa ini sangat krusial karena menyebabkan kelompok pendukung Ali, yang disebut sebagai Syi’atu Ali (Partai Ali), mulai mengkristal secara politik dan identitas. Di sisi lain, muncul pula kelompok Khawarij yang keluar dari barisan Ali karena menolak proses arbitrase tersebut. Pembunuhan Ali oleh seorang anggota Khawarij pada tahun 661 M secara praktis mengakhiri era Khulafaur Rasyidin dan memulai dominasi Dinasti Umayyah di bawah Muawiyah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
3. Tragedi Karbala: Titik Balik Emosional
Peristiwa paling menentukan dalam identitas Syiah terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah (680 M). Cucu Nabi, Husain bin Ali, menolak memberikan sumpah setia kepada Yazid bin Muawiyah yang ia anggap sebagai penguasa zalim.
Husain bersama keluarga dan pengikut setianya yang berjumlah sedikit kemudian dihadang oleh ribuan pasukan Yazid di padang Karbala, Irak. Akibatnya, Husain dan hampir seluruh anggota keluarganya tewas secara tragis. Oleh karena itu, Tragedi Karbala bertransformasi dari sekadar kekalahan militer menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan bagi kaum Syiah. Syahidnya Husain memberikan dimensi emosional yang mendalam bagi pengikut Syiah, yang hingga kini mereka peringati setiap tahun sebagai momen duka dan refleksi identitas.
4. Evolusi Hadits dan Praktik Ibadah
Seiring berjalannya waktu, perbedaan politik ini merambah ke aspek hukum dan ritual harian. Pasalnya, kedua kelompok mulai mengembangkan metodologi yang berbeda dalam memverifikasi sumber hukum Islam.
Selain itu, perbedaan mencolok terlihat pada penggunaan Hadits:
- Sunni: Mengandalkan enam kitab hadits utama (Kutubus Sittah), dengan penekanan pada validitas perawi dari kalangan sahabat Nabi tanpa kecuali.
- Syiah: Hanya menerima hadits yang diriwayatkan melalui jalur keluarga Nabi (Ahlul Bayt). Mereka memiliki kitab rujukan utama seperti Al-Kafi.
Perbedaan sumber ini menyebabkan variasi dalam praktik ibadah, seperti tata cara wudu, posisi tangan dalam shalat, hingga durasi waktu berbuka puasa. Meskipun begitu, kedua sekte ini tetap memiliki fondasi yang sama dalam Rukun Iman dan Rukun Islam.
Kesimpulan: Diplomasi di Atas Perbedaan
Akar sejarah Sunni-Syiah membuktikan bahwa agama dan politik sering kali berkelindan dalam membentuk sejarah dunia. Pada akhirnya, memahami akar pembelahan ini bukan bertujuan untuk memperlebar jurang pemisah, melainkan untuk membangun empati dan pemahaman lintas batas.
Sebab, di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah saat ini, pemahaman sejarah yang objektif menjadi tameng utama terhadap provokasi yang ingin memicu konflik sektarian demi kepentingan kekuasaan sesaat. Kedamaian sejati hanya akan terwujud saat kedua kelompok mampu menghargai perbedaan sejarah tersebut sebagai bagian dari kekayaan tradisi intelektual Islam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















