Drone Iran Hantam Kedubes AS di Riyadh Saat Israel Invasi Lebanon Selatan

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peta baru konflik Timur Tengah. Israel melancarkan gempuran udara terdahsyat pada hari Rabu guna mengunci

Peta baru konflik Timur Tengah. Israel melancarkan gempuran udara terdahsyat pada hari Rabu guna mengunci "zona penyangga" di Lebanon Selatan, memicu ancaman Iran untuk menarik diri dari negosiasi damai tahun 2026. Dok: Istimewa.

RIYADH, POSNEWS.CO.ID – Dunia menyaksikan eskalasi militer yang mengerikan pada hari keempat konfrontasi besar di Timur Tengah. Drone bersenjata milik Iran menghantam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa petang.

Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di area gedung diplomatik. Oleh karena itu, otoritas misi diplomatik segera menginstruksikan seluruh warga Amerika di Arab Saudi untuk menjauhi area kompleks tersebut. Insiden ini terjadi setelah serangan drone serupa menghantam Kedubes AS di Kuwait, menandai strategi Iran yang secara sistematis mengincar fasilitas dan personel Amerika di negara-negara Teluk.

Israel Luncurkan Operasi Darat di Lebanon

Di perbatasan utara, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan pergeseran strategi militer secara drastis. Ia memerintahkan tentara Israel untuk “bertahan dan maju” ke wilayah Lebanon Selatan.

Langkah ini merupakan pengakuan resmi pertama bahwa kampanye melawan Hezbollah kini melibatkan operasi darat, bukan sekadar gempuran udara. Akibatnya, wilayah Lebanon di selatan Sungai Litani kini hampir kosong melompong setelah warga sipil melarikan diri dari zona tempur. Pinggiran selatan Beirut bahkan berubah menjadi “kota hantu” akibat bombardir udara Israel yang menghancurkan biro politik dan kantor media Hezbollah, al-Manar.

Baca Juga :  Prabowo Rayakan Idulfitri 2026 di Sumut dan Aceh, Gibran Salat Id di Istiqlal

Trump dan Netanyahu: “Perang Ini Bisa Berlangsung Lama”

Di panggung politik internasional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer ini tidak akan berakhir dalam semalam. Berbicara kepada Fox News, Netanyahu menyebut perang ini bisa memakan waktu yang cukup lama guna memastikan jatuhnya rezim di Teheran.

Senada dengan itu, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang kontradiktif mengenai durasi perang. Meskipun awalnya merencanakan kampanye satu bulan, Trump kini mengakui bahwa operasi militer bisa berlangsung “jauh lebih lama” guna menetralisir ancaman nuklir Iran secara total. Bahkan, pejabat Pentagon mulai memberikan sinyal mengenai kemungkinan pengiriman pasukan darat AS ke wilayah Iran yang luas dan bergunung-gunung.

Krisis Kemanusiaan dan Energi Global

Dampak kemanusiaan dari perang ini sangatlah memilukan. Laporan terbaru mencatat angka kematian di Iran berkisar antara 555 hingga 1.500 jiwa. Salah satu tragedi paling tragis adalah serangan yang menghantam sekolah dasar perempuan di Iran Selatan yang menewaskan 165 siswi.

Baca Juga :  Tragedi di Arena Hoki: Penembakan di Rhode Island Tewaskan 3 Orang, Termasuk Pelaku

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, harga energi global melonjak ke titik tertinggi setelah Iran resmi menutup Selat Hormuz. Brigjen Ebrahim Jabbari dari Garda Revolusi Iran mengancam akan membom setiap kapal yang mencoba melintasi jalur vital tersebut. Alhasil, fasilitas gas alam cair (LNG) terbesar di Qatar terpaksa berhenti beroperasi, sementara kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menghentikan produksinya pasca-serangan drone.

Lebanon Melarang Aktivitas Militer Hezbollah

Konflik ini juga memicu krisis politik internal di Beirut. Pemerintah Lebanon secara mengejutkan mengeluarkan larangan total terhadap seluruh aktivitas militer dan keamanan Hezbollah.

Langkah ini muncul setelah publik mengecam Hezbollah karena menyeret Lebanon ke dalam perang yang merusak netralitas negara. Otoritas hukum Lebanon kini menginstruksikan penangkapan individu-individu yang bertanggung jawab atas peluncuran roket ke wilayah Israel. Namun, dengan 52 orang tewas dan 29.000 warga mengungsi di Lebanon, upaya de-eskalasi tampak sangat sulit tercapai di tengah mesin perang yang kian memanas di awal Maret 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Vietnam U-17: Wajib Menang atau Tersingkir
KPK Bongkar Masalah MBG, Tata Kelola Lemah hingga Potensi Korupsi
Update Cuaca Indonesia 18 April 2026: Jakarta, Bekasi, hingga Surabaya Berpotensi Hujan
Skandal Napi Ngopi di Kendari, Pejabat Rutan Dicopot
Berkas Kasus Ijazah Jokowi Dikirim ke Kejati, 5 Tersangka Lanjut Proses Hukum
Serbu Promo Ancol, Masuk Cuma Rp120 Ribu per Mobil Tanpa Batas Penumpang
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habis 3 Jam untuk Judi Online
Starmer Tegur Raksasa Teknologi: Situasi Ini Tidak Boleh Berlanjut Demi Keamanan Anak

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 07:21 WIB

Jadwal Timnas Indonesia U-17 vs Vietnam U-17: Wajib Menang atau Tersingkir

Sabtu, 18 April 2026 - 06:55 WIB

KPK Bongkar Masalah MBG, Tata Kelola Lemah hingga Potensi Korupsi

Sabtu, 18 April 2026 - 06:44 WIB

Update Cuaca Indonesia 18 April 2026: Jakarta, Bekasi, hingga Surabaya Berpotensi Hujan

Jumat, 17 April 2026 - 20:32 WIB

Skandal Napi Ngopi di Kendari, Pejabat Rutan Dicopot

Jumat, 17 April 2026 - 20:04 WIB

Berkas Kasus Ijazah Jokowi Dikirim ke Kejati, 5 Tersangka Lanjut Proses Hukum

Berita Terbaru

Kepala Rutan Kendari Diperiksa, Imbas Video Napi Ngopi. (Posnews/Ist)

HUKRIM

Skandal Napi Ngopi di Kendari, Pejabat Rutan Dicopot

Jumat, 17 Apr 2026 - 20:32 WIB