Front Baru Perang Iran: AS dan Israel Galang Kekuatan Separatis Kurdi dan Baloch

Kamis, 5 Maret 2026 - 19:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pecahnya garis pertahanan dalam. Di tengah bombardir udara, Amerika Serikat dan Israel mulai menggerakkan kelompok militan Kurdi dan Baloch di perbatasan guna melumpuhkan kontrol militer Teheran dari wilayah darat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pecahnya garis pertahanan dalam. Di tengah bombardir udara, Amerika Serikat dan Israel mulai menggerakkan kelompok militan Kurdi dan Baloch di perbatasan guna melumpuhkan kontrol militer Teheran dari wilayah darat. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan front pertempuran darat baru di sepanjang perbatasan Iran. Serangan udara masif kini menargetkan puluhan posisi militer, pos perbatasan, dan kantor polisi di wilayah utara Iran yang berbatasan dengan Irak.

Langkah ini petugas nilai sebagai upaya pembukaan jalur bagi masuknya pejuang oposisi bersenjata. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa Washington siap memberikan dukungan udara penuh jika pejuang Peshmerga Kurdi memutuskan untuk menyeberangi perbatasan guna melakukan ofensif di wilayah daratan Iran.

Pergerakan Pasukan Kurdi dan Dukungan Trump

Kelompok pembangkang Kurdi Iran di Irak Utara kini dalam status siaga tinggi. Khalil Nadiri, pejabat Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), menyatakan bahwa pasukan mereka telah bergerak menuju titik-titik strategis di Provinsi Sulaymaniyah.

Menariknya, laporan media AS menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump telah melakukan pembicaraan telepon langsung dengan dua pemimpin faksi Kurdi pekan ini. Trump menyatakan keterbukaan Washington untuk mendukung kelompok mana pun yang bersedia angkat senjata guna menggulingkan rezim di Teheran. “Kami percaya rezim saat ini dalam kondisi sangat lemah dan akan segera menghadapi hari-hari terakhirnya,” ujar juru bicara Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI).

Baca Juga :  Kyiv Membeku di Bawah Hujan 500 Drone: Zelenskyy Terbang ke Florida

Ofensif di Front Baloch: Jaish al-Adl Bergerak

Konfrontasi tidak hanya terjadi di wilayah utara. Di tenggara Iran, kelompok militan etnis Baloch yang berbasis di pegunungan terpencil Pakistan juga mulai meluncurkan operasi militer.

Kelompok Jaish al-Adl mengeklaim telah membentuk koalisi bersenjata guna memperkuat perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “tirani rezim”. Pada Selasa, mereka menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan seorang komandan polisi di Zahedan. Kelompok ini secara terbuka menyerukan agar personel militer Iran segera menyerah kepada sesama warga negara guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut di tengah gempuran asing.

Strategi “Hornet’s Nest” dan Risiko Perang Saudara

Meskipun strategi ini bertujuan untuk mengalihkan konsentrasi militer Iran, para pakar Hubungan Internasional memperingatkan risiko “sarang lebah” (hornet’s nest). Mendukung kelompok separatis etnis dapat memperdalam perpecahan nasional dan memicu perang saudara yang tidak terkendali.

Baca Juga :  Tiongkok Bebas Visa: Era Baru Pengelana Muda Inggris dan Kanada

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alia Brahimi, pakar Timur Tengah dari Atlantic Council, menilai langkah ini sangat berbahaya. “Jika pertempuran darat pemerintah serahkan kepada kelompok separatis, AS akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan arah konflik di lapangan,” tegasnya. Strategi ini dikhawatirkan justru akan menyatukan publik Iran untuk membela rezim demi mencegah perpecahan wilayah nasional mereka.

Reaksi Regional: Turki dan Suriah dalam Waspada

Dukungan AS terhadap kelompok Kurdi segera memicu alarm bahaya di negara-negara tetangga. Turki, Irak, dan Suriah yang memiliki minoritas Kurdi yang besar, mengkhawatirkan dampak domino dari stabilitas di Iran.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, petugas prediksi akan segera memberikan reaksi keras terhadap manuver Washington ini. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri wilayah otonom Kurdistan Irak, Qubad Talabani, menegaskan posisi netral wilayahnya. Ia memastikan bahwa Kurdistan Irak tidak akan membiarkan wilayahnya petugas gunakan sebagai landasan pacu konflik regional yang sedang membara di awal Maret 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mudik Lebaran 2026, Polisi Buka 10 Tol Fungsional untuk Pecah Kemacetan
KPK Buru Mastermind Pengondisian Saksi di Kasus Korupsi Bupati Pati Sudewo
Polisi Bongkar Prostitusi Online di Serang, Pasutri Rekrut Korban Modus Kerja Restoran
Tragedi Samudra Hindia: Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka
Polri Evaluasi Senjata Api Anggota Usai Insiden Penembakan Remaja di Makassar
Bentrok Polisi vs Massa Adat di Kapuas, 3 Polisi Luka Sajam dan 2 Warga Tertembak
Polda Metro Gagalkan Peredaran 2.000 Ekstasi di Cililitan Jaktim, Seorang Pelajar Ditangkap
Bareskrim Sikat Aset Judi Online Rp58 Miliar, 133 Rekening Disita Negara

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 21:47 WIB

Mudik Lebaran 2026, Polisi Buka 10 Tol Fungsional untuk Pecah Kemacetan

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:59 WIB

KPK Buru Mastermind Pengondisian Saksi di Kasus Korupsi Bupati Pati Sudewo

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:21 WIB

Polisi Bongkar Prostitusi Online di Serang, Pasutri Rekrut Korban Modus Kerja Restoran

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:20 WIB

Tragedi Samudra Hindia: Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Kamis, 5 Maret 2026 - 19:49 WIB

Polri Evaluasi Senjata Api Anggota Usai Insiden Penembakan Remaja di Makassar

Berita Terbaru