WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID β Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan front pertempuran darat baru di sepanjang perbatasan Iran. Serangan udara masif kini menargetkan puluhan posisi militer, pos perbatasan, dan kantor polisi di wilayah utara Iran yang berbatasan dengan Irak.
Langkah ini petugas nilai sebagai upaya pembukaan jalur bagi masuknya pejuang oposisi bersenjata. Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa Washington siap memberikan dukungan udara penuh jika pejuang Peshmerga Kurdi memutuskan untuk menyeberangi perbatasan guna melakukan ofensif di wilayah daratan Iran.
Pergerakan Pasukan Kurdi dan Dukungan Trump
Kelompok pembangkang Kurdi Iran di Irak Utara kini dalam status siaga tinggi. Khalil Nadiri, pejabat Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), menyatakan bahwa pasukan mereka telah bergerak menuju titik-titik strategis di Provinsi Sulaymaniyah.
Menariknya, laporan media AS menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump telah melakukan pembicaraan telepon langsung dengan dua pemimpin faksi Kurdi pekan ini. Trump menyatakan keterbukaan Washington untuk mendukung kelompok mana pun yang bersedia angkat senjata guna menggulingkan rezim di Teheran. “Kami percaya rezim saat ini dalam kondisi sangat lemah dan akan segera menghadapi hari-hari terakhirnya,” ujar juru bicara Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI).
Ofensif di Front Baloch: Jaish al-Adl Bergerak
Konfrontasi tidak hanya terjadi di wilayah utara. Di tenggara Iran, kelompok militan etnis Baloch yang berbasis di pegunungan terpencil Pakistan juga mulai meluncurkan operasi militer.
Kelompok Jaish al-Adl mengeklaim telah membentuk koalisi bersenjata guna memperkuat perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “tirani rezim”. Pada Selasa, mereka menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan seorang komandan polisi di Zahedan. Kelompok ini secara terbuka menyerukan agar personel militer Iran segera menyerah kepada sesama warga negara guna menghindari pertumpahan darah lebih lanjut di tengah gempuran asing.
Strategi “Hornet’s Nest” dan Risiko Perang Saudara
Meskipun strategi ini bertujuan untuk mengalihkan konsentrasi militer Iran, para pakar Hubungan Internasional memperingatkan risiko “sarang lebah” (hornet’s nest). Mendukung kelompok separatis etnis dapat memperdalam perpecahan nasional dan memicu perang saudara yang tidak terkendali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alia Brahimi, pakar Timur Tengah dari Atlantic Council, menilai langkah ini sangat berbahaya. “Jika pertempuran darat pemerintah serahkan kepada kelompok separatis, AS akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan arah konflik di lapangan,” tegasnya. Strategi ini dikhawatirkan justru akan menyatukan publik Iran untuk membela rezim demi mencegah perpecahan wilayah nasional mereka.
Reaksi Regional: Turki dan Suriah dalam Waspada
Dukungan AS terhadap kelompok Kurdi segera memicu alarm bahaya di negara-negara tetangga. Turki, Irak, dan Suriah yang memiliki minoritas Kurdi yang besar, mengkhawatirkan dampak domino dari stabilitas di Iran.
Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoΔan, petugas prediksi akan segera memberikan reaksi keras terhadap manuver Washington ini. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri wilayah otonom Kurdistan Irak, Qubad Talabani, menegaskan posisi netral wilayahnya. Ia memastikan bahwa Kurdistan Irak tidak akan membiarkan wilayahnya petugas gunakan sebagai landasan pacu konflik regional yang sedang membara di awal Maret 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















