Komdigi Blokir Akun Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret 2026

Jumat, 6 Maret 2026 - 18:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan kebijakan WFH Jumat tetap produktif dan tidak mengganggu pelayanan publik.
(Posnews/Setpres)

Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan kebijakan WFH Jumat tetap produktif dan tidak mengganggu pelayanan publik. (Posnews/Setpres)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas di ruang digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang membatasi akses anak di bawah usia 16 tahun ke berbagai platform digital berisiko tinggi.

Aturan tersebut diumumkan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada Jumat (6/3/2026) di Jakarta.

Melalui regulasi ini, pemerintah melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun pada platform digital tertentu, terutama layanan yang memiliki tingkat risiko tinggi seperti media sosial dan layanan jejaring daring.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah Tunda Akses Anak ke Media Sosial

Meutya Hafid menegaskan aturan tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau dikenal sebagai PP Tunas.

“Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring,” ujar Meutya.

Baca Juga :  Polisi Pekanbaru Gagalkan Peredaran 44 Kg Sabu, Dua Kurir Ditangkap

Selanjutnya, pemerintah akan mewajibkan seluruh platform digital mematuhi aturan ini.

Berlaku Mulai 28 Maret 2026

Komdigi akan menerapkan aturan tersebut secara bertahap mulai 28 Maret 2026.

Dalam tahap implementasi awal, platform digital diwajibkan menonaktifkan akun milik pengguna berusia di bawah 16 tahun jika termasuk dalam kategori layanan berisiko tinggi.

Beberapa platform yang masuk daftar pengawasan pemerintah antara lain:

  • YouTube
  • TikTok
  • Facebook
  • Instagram
  • Threads
  • X (Twitter)
  • Bigo Live
  • Roblox

Jika platform tidak menjalankan kewajiban tersebut, pemerintah berpotensi menjatuhkan sanksi administratif hingga pembatasan layanan.

Pemerintah Akui Awalnya Akan Menuai Protes

Meski demikian, Meutya Hafid mengakui kebijakan ini bisa memicu protes di awal penerapannya.

Anak-anak kemungkinan akan mengeluh karena kehilangan akses media sosial. Bahkan, sebagian orang tua mungkin kebingungan menghadapi perubahan tersebut.

Namun pemerintah tetap menilai kebijakan ini langkah penting untuk melindungi generasi muda.

Baca Juga :  Kontroversi Hasil Tes Kesamaptaan PJLP Damkar 2025, Peserta Kritik Nilai Tidak Transparan

“Kita ingin teknologi memanusiakan manusia, bukan menumbalkan masa kecil anak-anak kita,” tegas Meutya.

Lindungi Anak dari Ancaman Dunia Digital

Menurut Komdigi, pembatasan ini muncul setelah pemerintah melihat ancaman serius yang mengintai anak-anak di dunia digital.

Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain:

  • Paparan konten pornografi
  • Perundungan siber (cyberbullying)
  • Penipuan daring
  • Kecanduan media sosial
  • Eksploitasi anak di internet

Karena itu, pemerintah ingin mengurangi paparan risiko tersebut sejak dini.

Indonesia Jadi Negara Non-Barat Pertama

Menariknya, Indonesia menjadi negara non-Barat pertama yang secara resmi menerapkan pembatasan usia terhadap akses media sosial melalui regulasi nasional.

Langkah ini juga memperkuat peran negara dalam melindungi anak di ruang digital.

Meutya menegaskan regulasi ini dibuat agar orang tua tidak lagi berjuang sendirian menghadapi algoritma platform digital raksasa.

“Negara hadir agar orang tua tidak perlu bertarung sendiri melawan raksasa algoritma,” pungkasnya. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
Polda Metro Didesak Periksa Mantan Kabais TNI dalam Kasus Andrie Yunus
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
Anggaran Polri 2027 Kurang Rp66 Triliun, Remunerasi hingga Pemilu Jadi Alasan
AntĂłnio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:38 WIB

Polda Metro Didesak Periksa Mantan Kabais TNI dalam Kasus Andrie Yunus

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:06 WIB

Anggaran Polri 2027 Kurang Rp66 Triliun, Remunerasi hingga Pemilu Jadi Alasan

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB