JOHANNESBURG, POSNEWS.CO.ID – Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mematahkan tradisi diplomatik. Ia meluncurkan serangan verbal langsung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pasalnya, Ramaphosa menilai kebijakan luar negeri AS terhadap kelompok minoritas kulit putih bersumber dari ketidaktahuan dan prasangka rasial.
“Saya hanya berpikir bahwa dia sangat tidak terinformasi,” ujar Ramaphosa dalam wawancara eksklusif yang terbit pekan ini. Oleh karena itu, kritik tersebut muncul sebagai respon atas langkah agresif pemerintahan Trump. Sebab, Washington secara sepihak mengintervensi isu reformasi lahan dan status sosial ekonomi warga Afrikaner.
“Ambush” di Ruang Oval
Ramaphosa mengenang pertemuan tahun lalu di Ruang Oval sebagai sebuah “pertunjukan” yang tidak profesional. Menurutnya, Trump sempat mematikan lampu ruangan dan memutar sebuah video khusus. Video tersebut mengeklaim secara keliru bahwa Afrika Selatan sedang mengalami “genosida kulit putih”.
“Saya menyadari bahwa dia melihat Afrika Selatan melalui lensa yang berkabut,” tegas Ramaphosa. Alhasil, presiden AS itu gagal memahami bahaya nyata dari kebijakan apartheid masa lalu. Bahkan, ia menilai Trump meremehkan fakta sejarah dan kondisi sosiologis yang bangsa pelangi hadapi saat ini.
Kebijakan Pengungsi yang Kontroversial
Sejak menjabat kembali pada Januari 2025, Donald Trump terus menyebarkan berbagai tuduhan. Pasalnya, ia menyebut pemerintah sedang membantai minoritas kulit putih dan menyita tanah mereka secara paksa. Kemudian, pada Mei lalu, AS memperluas status pengungsi bagi warga Afrikaner secara resmi.
Langkah ini memicu kemarahan di Pretoria. Terutama, kebijakan tersebut memiliki dua alasan pemicu utama. Pertama, warga Afrikaner secara statistik tetap memiliki kekayaan berkali-kali lipat daripada warga kulit hitam. Kedua, Trump mengambil kebijakan ini saat ia justru memangkas program pengungsi perang dari negara lain.
“Saya pikir kebijakan Afrikaner ini rasis,” kata Ramaphosa. Oleh sebab itu, ia ingin mengikis perilaku rasis tersebut agar Trump bisa melihat kebenaran situasi yang ada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Balasan Gedung Putih dan Dampak Diplomatik
Pihak Gedung Putih segera merespons kritik tersebut. Melalui pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa Presiden Trump memiliki “hati kemanusiaan”. Trump hanya ingin menyoroti kisah-kisah warga Afrikaner yang ia nilai memilukan. “Pemerintah Afrika Selatan tidak merespons, tetapi Presiden Trump akan terus menyuarakan kebenaran,” tulis pernyataan tersebut.
Namun demikian, ketegangan ini memberikan dampak nyata pada hubungan internasional. Trump menolak menghadiri pertemuan pemimpin G20 di Johannesburg pada November lalu. Selain itu, ia melarang delegasi Afrika Selatan datang ke pertemuan tingkat tinggi di Miami akhir tahun ini.
Penegasan Fakta Lapangan
Ramaphosa menegaskan bahwa klaim Washington sepenuhnya hampa. Sebagai catatan, ia berencana turun dari kursi kepemimpinan partai tahun depan dan dari kursi presiden pada 2029. “Tidak ada genosida kulit putih di sini,” tegasnya. Lebih lanjut, ia memastikan pemerintah tidak mengusir atau memperlakukan petani kulit putih dengan buruk.
Ia menutup pernyataannya dengan nada heran atas obsesi Trump terhadap negaranya. Pasalnya, ia takjub melihat perhatian yang ia berikan kepada negara yang kecil. “Kami bukan ancaman bagi Amerika Serikat,” pungkas Ramaphosa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















