BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Israel meningkatkan serangan udara ke pusat kota Beirut pada hari Rabu, menewaskan sedikitnya 10 orang dan menghancurkan gedung berlantai 10 di dekat jantung ibu kota. Eskalasi ini terjadi di pekan ketiga perang melawan Hezbollah yang didukung oleh Iran.
Selain gempuran di ibu kota, jet tempur Israel mulai menargetkan infrastruktur transportasi vital. Mereka menghancurkan jembatan-jembatan di atas Sungai Litani yang menghubungkan Lebanon Selatan dengan wilayah utara. Media pemerintah Lebanon mengonfirmasi setidaknya dua jembatan utama telah hancur total.
Strategi Isolasi: Pemutusan Jalur Litani
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa penghancuran jembatan bertujuan menghentikan penyelundupan senjata dan personel Hezbollah ke arah selatan. “Israel tidak akan membiarkan realitas ancaman ini terus berlanjut,” tegas Katz. Langkah ini merupakan pesan keras bagi pemerintah Lebanon agar segera menertibkan wilayah perbatasannya.
Hancurnya jalur-jalur ini memicu kekhawatiran akan adanya operasi militer darat skala besar. Seorang perwira militer Israel mengungkapkan bahwa pasukannya siap membangun posisi hingga 30 kilometer ke arah utara dari perbatasan. Pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) juga mencatat peningkatan kehadiran pasukan darat Israel di dalam wilayah kedaulatan Lebanon.
Beirut Membara: Serangan di Distrik Bachoura dan Basta
Di Beirut, Israel menyerang empat bangunan dalam waktu delapan jam sebagai balasan atas gempuran 100 roket Hezbollah. Salah satu target utama adalah lembaga keuangan Al-Qard Al-Hassan yang berafiliasi dengan Hezbollah. Human Rights Watch sebelumnya memperingatkan bahwa serangan terhadap institusi sipil seperti ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Distrik Bachoura, Zuqaq al-Blat, dan Basta yang padat penduduk menjadi sasaran bom. Salah satu serangan menewaskan Mohammad Sherri, penyiar televisi al-Manar milik Hezbollah, beserta istrinya. Warga setempat, Abu Khalil, menceritakan kepanikan saat membantu tetangganya melarikan diri sebelum gedung 10 lantai di dekat rumahnya rata dengan tanah. “Ini hanya operasi untuk menakut-nakuti anak-anak dan warga sipil,” ujarnya penuh amarah.
Krisis Medis dan Tragedi Petugas Penyelamat
Dampak kemanusiaan dari konflik ini kian memprihatinkan. Dr. Wael Mroueh dari Rumah Sakit Universitas Jabal Amel di Tyre menceritakan kondisi korban yang sangat mengenaskan. “Korban datang dengan tubuh hancur, kehilangan kaki, dan luka terbuka yang parah,” ungkap Mroueh kepada Reuters.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 40 petugas medis tewas sejak awal Maret. Serangan terbaru bahkan melukai 11 petugas penyelamat dan merusak pusat pertahanan sipil di wilayah selatan. Situasi ini memaksa banyak tenaga medis untuk mengungsikan keluarga mereka ke utara, yang berisiko menyebabkan kelumpuhan total layanan kesehatan di zona konflik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















